Di Negeri 1001 Dalih
Banyak masyarakat-hitam terus menggerogoti
Calo kasus hukum, makelar kasus dan koruptor berkolaborasi
Dan praktik jaringan mafia peradilan terus saja terjadi
Skandal penegakan hukum jadi tontonan berseri
Di Negeri 1001 Dalih
Memaksa kegentingan adalah alibi
Sementara kegentingan yang memaksa tak dimengerti
Dugaan kriminalisasi terbentur tembok birokrasi
Hingga yang bersalah terbang tinggi dan menari-nari
Sementara orang yang tak bersalah masuk bui
Di Negeri 1001 Dalih
Tak dikenal apa itu instrospeksi
Karena pertimbangan legal formal adalah harga mati
Sementara unjuk rasa, dukungan, diskusi dan rasa keadilan dianggap basi
Dalihnya semata karena belum ada bukti,
Atau hanya ingin menjaga wibawa institusi
Padahal sangkaan dan dakwaan sejak awal berubah-rubah termodifikasi
Dalihnya lagi, ”Dia tidak mengatur, hanya minta tolong pada kami !”
Di Negeri 1001 Dalih
Mengundurkan diri bila tak mampu belumlah menjadi tradisi
Kesungguhan untuk melakukan investigasi beumlah disadari
Paling-paling hanya akan menjadwalkan pemeriksaan ulang
Dan menampung aspirasi dan rekomendasi dari sana-sini
Tanpa tindak lanjut yang berarti
Di Negeri 1001 Dalih
Mengundurkan diri baru bisa terpaksa ditandatangani
Setelah tekanan publik membuncah miris menyayat hati
“Karena kesalahan analisis”, “Karena itu oknom kami”
Atau ”Demi kepentingam yang lebih besar untuk negeri ini”.
Di Negeri 1001 Dalih
Tak diperlukan kemampuan untuk melihat masalah secara jernih
Tapi cukup dengan kedekatan, orasi, agitasi dan janji-janji
Atau kucuran politisasi dan supremasi dalih dan alibi
Dan bedebah-bedebah negeri hidup mewah jauh melampaui
Mabuk duren dan haha-hihi
Sementara rakyat jelata ngantri bertaruh nyawa untuk sekerat donasi
Di Negeri 1001 Dalih
Kini…
Menggigit roti buaya bersama-sama dengan kehampaan hati
Adalah sebuah hobi
Yang mulai mewabah disana-sini
“Tapi ini halal, dan bukan hasil korupsi!!”
Di Negeri 1001 Dalih
Anak negeri kehilangan suara, “Mau teriak apa lagi…?!”
“Kami masih punya harga diri
Yang terbalut erat Padamu Negeri dan Merah-Putih
Dan sejumput do’a lirih
Masih adakah nurani pada diri para petinggi kami?”
“Ya Tuhan kami,
Berilah cahaya di dada, di hati, dan di tangan kami
Dan janganlah kau timpakan kepada kami
Bencana, gempa bumi atau pun tsunami
Hanya karena Engkau tak suka dengan para bedebah petinggi
Di negeri yang kini berubah menjadi Negeri 1001 Dalih…”
DIarsipkan di bawah: 1nspirAction
Pak met malam…
je enak negara MDS Pak apalagi MDS Kudus….haaa…ha..hiii.
maturnuwun .sy nyontek iklan Mie Instan : LIDAH BISA BOHONG RASA….
” FEAR NOTHING RISK EVERYTHING ” GOOD THINGS WILL HAPPEN GOOD THINGS DO HAPPEN ” ENJOY AJA BOSSSS…
Puisi yang bagus… Salam kenal pak… Saya yusrizal dari http://yusrizalfirzal.wordpress.com/ mau berkunjung…
kulo nderek senebg gadah rencang pinter nuli nggeh kulo yo kepingin ngguru jenengan pripun , jenengan kerso nopo mboten suwuun nggih, salam kanggo keluarga di Cianjur