Guruku, Inspirasiku…

Syukur Alhamdulillah, hingga kini saya masih kental akrab dengan guru-guru saya. Termasuk guru saya sewaktu saya masih di SD. Bapak Syamsul Bachri, Ibu Aryati, Ibu Hamidah, dan Bapak Edi Suganda.

Dari Pak Syamsul, saya belajar bagaimana menamankan mental juara dan menjadi juara bagi diri sendiri. Mengenal alam, berani berpetualang dan mengeksplorasi semua teknologi terbaru yang ada di sekitar kita. Dari Bu Yati, saya banyak belajar tentang kelembutan dan kerendahan hati, etika bergaul dan hidup sederhana, bersahaja. Sedang dari Bu Hamidah, saya belajar bagaimana mengapresiasi seni dan budaya, serta menghubungkan antara ilmu pengetahuan dan ayat-ayat keilahian. Sementara dari Pak Edi, saya banyak belajar untuk bermental kuat bersemangat Pramuka, dan punya visi EKI.

Saat saya kelas 5 SD dulu, Pak Edi sempat berpesan secara pribadi kepada saya, “Gung, kalau mau masa depanmu nanti baik dan cerah, jangan jauh-jauh dan kuasai sekaligus EKI. Edukasi, Komunikasi dan Informasi”.

Sungguh, saya tak mengerti apa yang beliau maksudkan. EKI? EKI? Kontennya harus seperti apa pada konteks apa, benar-benar saya tidak mengerti. Namun, kata-kata ”EKI” itu terus saya ulang-ulang.  Dan baru ngeh, setelah saya masuk dan kuliah di IPMI Jakarta 10 tahun kemudian.

*****

Alhasil, belajar dari berbagai guru, saya berani menyimpulkan, bahwa seorang Pembelajar Sejati adalah pastilah seorang murid yang baik. Dan saat ia menjadi “guru” dalam arti seluas-luasnya, ia akan berusaha sepenuhnya untuk menjadi Re-Educator, Mind Navigator, fasilitator, pemercik, motivator dan sekaligus sebagai inspirator. Kehadirannya, selalu mencerahkan pikiran, dan meluaskan wawasan. Jadi, tidaklah heran bila guru itu petunjuk bagi orang biasa, namun akan dijadikan inspirator bagi pembelajar sejati.

Sebagai guru, seorang Pembelajar Sejati akan selalu belajar dari siswanya sendiri karena ia menempatkan siswanya sendiri sebagai mitra pembelajar. Ia sangat berharap dan berupaya keras menjadikan siswa-siswanya pembelajar sejati yang aktif, partisipatif, kritis dan kreatif. Karenanya, secara periodik dan terukur, ia selalu meminta saran dan masukan dari siswa-siswamya sendiri untuk meningkatkan bobot atau kualitas pelajarannya.

Untuk itu, dalam proses pembelajaran ia selalu menginginkan siswa atau anak didiknya bisa belajar dari dirinya sendiri, dan dari sesama siswa.

Untuk mencerahkan pikiran dan meluaskan wawasan anak didiknya, tak jarang ia datangkan praktisi sukses dari beragam latar belakang dan disiplin keilmuan untuk langsung berbicara, memberikan pelajaran dan berbagi (berdiskusi) dengan siswanya.

Ia sungguh mencintai siswanya apa adanya dengan memberikan yang terbaik untuk ia wariskan. Karena ia begitu sadar, batas kematian akan menjadi pelajaran terpenting bagi diri dan siswanya : apakah semua ini ada dalam ridho-Nya ?

*****

Terimakasih Bu Yati, terimakasih Bu Hamidah, terimakasih Pak Syamsul, terimakasih Pak Edi… Jasa dan kebaikan bapak-ibu, hanya Allah lah yang akan memberikan balasan yang lebih baik. Saya sangat bersyukur mendapat pendidikan sekaligus pengajaran yang tulus dan berkelimpahan.

Alhamdulillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: