Roh Kesuksesan Itu Ya Berbagi…

Sepulang dari Binjai Selasa kemarin, Rabu paginya saya ditelepon oleh sahabat sekaligus rekan sekerja saya di lain divisi. Saya di Risk Management, dia di Store Operation. Namanya aneh, susah dan sulit diingat : AOLOMAZEDUHU ZEBUA. Kono, panggilan akrabnya.

“Sinilah Coy, kapan dateng ke sini ? Cepatlah ke sini, kita bisa cerita banyak nih!”. Ya kangen juga setiap saya ketemu dengannya. Dan bagi saya pribadi, ia termasuk sosok yang dirindukan sekaligus dibutuhkan. Baik secara pribadi, maupun secara profesional.

Lalu ceritalah banyak ia tentang ini itu, seolah mau memberikan laporan lengkap pertanggungjawaban kinerjanya selama setahun terakhir. Tak cukup di kantor bahas kerjaan, kami pun beralih sambil makan siang. Saya pun senang juga telah mampu memprovokasi dia untuk tetap makan udang yang jadi ganjalannya karena dia merasa alergi udang.

Setengah memaksa represif, setengah persuasif dengan penuh keyakinan saya tegaskan, “Alergi itu bisa disembuhkan dengan kendali pikiran. Coba pikirkan enaknya, nikmat liur rasanya dan benefit gizinya. Fokuskan hanya pada hal-hal yang kita inginkan, bukan pada yang kita takutkan. Insya Allah, alergimu sembuh!”. Dan habislah setengah pisin pesanannya untuk ia berikan setengahnya untuk saya.  

Lalu sebagaimana biasa, cukup banyak insight yang bisa dipetik dari dia saat ia berbagi cerita. Mulai tentang tanah Nias leluhurnya, tour ke Gunung Fuji, kolega-koleganya di Sumatera Utara dan tentang kepemimpinan empatik. Ceirta yang paling menarik, justru saat ia cerita pendapat koleganya tentang kesuksesan. Temannya yang cukup punya nama di Sumatra Utara bercerita tentang kesuksesan. Namun Kono tak sependapat, karena pendapat kesuksesan temannya itu hanya dikaitkan dengan aspek material dan fisik saja.

Waktu itu, ia menyanggah temannya itu : “Sori coy, saya nggak setuju dengan pendapatmu. Sukses itu tidak diukur dengan berapa mobil yang nangkring di garasimu, seberapa tinggi jabatanmu, dan seberapa berpengaruhnya kamu di lingkunganmu. Kalau 2 tahun kemudian KPK memeriksa kamu dan kamu dinyatakan bersalah, apa itu masih dikatakan sukses ?”

“Sorry, bukannya saya mangambil konfrontasi, bagi saya pribadi”, lanjutnya “kesuksesan itu adalah proses yang dilakukan dengan sepenuh hati dan sesuai dengan semangat kebenaran. Secara emosional dan spiritualitas pun berkembang. Bisa saja orang hanya berpendidikan S1, gaji dan pendapatannya rata-rata, tapi kalau ia terus bertumbuh dan berkembang dan lagian dia menikmatinya, ia boleh dikatakan sukses !”

Setuju ! Sukses bukan pada kuantitas kepemilikan. Harta, jabatan, gelar, karir, dan popularitas.

Sukses ada pada proses untuk selalu bertumbuh kembang yang lebih ternikmati sesuai dengan ajaran ilahi. Lebih rendah hati dan bersahaja, lebih banyak bersyukur dan menyayangi, lebih banyak berbagi dan menafkahi, lebih banyak belajar dan memaknai, dan lebih banyak memberikan kebaikan di sana-sini sesuai kemampuan dan lingkar pengaruh kita. Tentu dengan cara yang lebih efektif dan sederhana.

Terimakasih Coy, kini pendapat saya tentang kesuksesan semakin kuat. Semoga kita sama-sama dengan penuh harap ada pada proses pencapaian kesuksesan hakiki di mata-Nya. Amin.

Satu Tanggapan

  1. ups…… setuju tuh mas….

    Mungkin kesuksesan itu berhubungan erat dengan mental keberlimpahan??? Bagaimana menurut mas?

    Kalau soal harta sih, menurut mpus yang enak itu yang pas pasan…. pas mau naik haji, pas ada ongkosnya….. pas mau jalan jalan,pas ada BMW…… pas mau keliling dunia,pas ada duitnya…. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: