Bagaimana Prinsip Insan Pembelajar Mengajar ?

ORANG BIASA MENGAJAR DENGAN BAHASA ILMIAH, PEMBELAJAR SEJATI MENYEDERHANAKANNYA.

Ciri khas mengajar seorang pembelajar sejati adalah semangatnya dalam berbagi, menstimulasi, menginspirasi, memberi hikmah, kebijaksanaan dan keteladanan nyata. Jauh dari kesan menggurui. Namun sebaliknya, terasa menyenangkan, menantang (menggairahkan) dan tetap relevan dengan tujuan pembelajaran.

Tidak hanya terori, saat mengajar seorang Pembelajar Sejati akan terjun memberikan bimbingan langsung dan dukungan penuh bagi siswanya. Dimana saja dan kapan saja. Bahkan bila perlu, ia akan mendatangi siapa saja yang membutuhkannya. Mengajarnya pun ia kemas dalam kemasan yang penuh “permainan”. Game, quiz, studi kasus terkini, diselingi joke dan anekdot, role play, musik dan film, ringan, namun tanpa meninggalkan esensi utama pelajarannya.

Meskipun ringan dalam pengajarannya, kemampuan berpikir (thingking skill) dan berpikir kreatif siswanya adalah kunci kualitas yang selalu ia jaga sejak awal ia mengajar. Karenanya pula, seorang Pembelajar Sejati akan mendorong anak didiknya memiliki dan mengajukan berbagai solusi terbaik untuk sebuah masalah, dan bukan hanya sekedar memperoleh sebuah jawaban saja.

Tujuan mengajarnya adalah agar siswanya mampu memahami secara utuh substansi pelajarannya dan nempel pada memori daya ingat jangka panjang siswanya. Itu bisa terjadi, karena dalam mengajarnya ia akan selalu membingkai mata pelajarannya dengan sentuhan yang religis, logis dan aplikatif. Yaitu dengan mengaplikasikan pendekatan mutu secara konkret dalam setiap proses pendidikan. Seolah setiap mata pelajaran yang ia ajarkan itu memberi jiwa, semangat dan inspirasi yang bermakna, luhur dan sesuai dengan panggilan illahi.

Keberhasilan mengajarnya semata-mata untuk mengenalkan anak didiknya pada dirinya sendiri, mengenal Tuhannya lebih dekat, dan untuk menjadi insan pembelajar yang mampu belajar dengan cepat dari kesalahan, dari kekurangan, dari kelemahan dan dari kemungkinan ancaman yang bisa merugikannya di kemudian hari. Dan terakhir, agar anak didiknya mampu berbagi kembali kepada siapa saja yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: