1/2 Gelas & 3 Buah Dukuh

Suatu saat, kami sekeluarga pergi menginap semalam ke Salaeurih, kampung halaman ibu saya yang jauhnya hanya 7 km dari rumah saya. Kunci rumah kami titipkan ke Teh Enung – tetangga dekat kami yang setiap hari membantu membersihkan dan membantu sebagian besar pekerjaan rumah kami.

Teh Enung setiap hari datang sekitar pukul 06.10 pagi, pulang pukul 10.30 dan kadang pukul 11 siang. Setiap hari, tugasnya menyiram taman kecil di belakang rumah, menyiram pekarangan dan beberapa pot kecil kesayangan kami. Lalu, dengan tangkas ia menyapu seluruh ruangan, mengepelnya dan memasang kembali lampit karet tempat kami bercengkrama di depan TV.

Pekerjaan rumah lalu beralih ke dapur, mencuci piring, memasak ini dan itu, trus terakhir menyetrika setumpuk pakaian saya, istri saya dan dua anak kecil saya. Setelah itu semua, ia pun menggendong Syafa anak gadis saya yang ruar biasa lincah. Lieur pokona mah. Semua berjalan rutin seperti biasa. Tak ada yang mencolok.

Setiap keluar kota pula, saya tidak begitu khawatir dengan rumah saya meski di kanan-kiri katanya cukup banyak kejadian pencurian terjadi. Ini karena pada malam hari, suami dan bapaknya secara rutin, setiap malam bergantian selalu mendatangi rumah dan memastikan tidak terjadi apa-apa pada rumah kami. Ide pengamanan ini datang justru dari Teh Enung, dan samasekali tidak kami minta. Kami pikir, keamanan rumah ini cukup baik dan biarlah Allah yang akan menjaganya dengan doa-doa sederhana kami.

Bagi kami, Teh Enung itu seperti keluarga sendiri. Rasa memiliki, perhatian dan kasih sayangnya nampak tercurah pada bagaimana ia bekerja dengan kualitas yang sangat baik. Rapi, gesit, bersih dan cepat selesai. Dua anak kami pun akrab dengannya. Bahkan anak sulung saya, Agia, sesekali bermain di rumahnya yang cukup sederhana 400 meter jauhnya di belakang rumah saya.

Tentu saja, kami sekeluarga sangat bersyukur dengan keberadaan dan perilakunya yang santun, rendah hati dan sedikit pemalu. Bagi kami semua makanan yang ada meja dan yang ada di lemari es, termasuk di lemari makanan kering silakan bila mau diambil dan dicicipi. Kami pikir, makanan itu harus habis, dimakan dan tidak boleh mubadzir terbuang. Pamali !

Sampai pada akhirnya, kami dapat satu kejadian yang sangat mengejutkan. Sungguh mengejutkan, dan tak disangka-sangka saat ia meminta maaf dan mengeluh dengan tutur bahasa Sunda yang sangat halus. Saat itu, rumah kami baru saja kami tinggal semalam karena kami ingin menginap di rumah Enin – nenek dari Agia dan Syafa di Salaeurih. Dengan cepat, sesaat kami masuk rumah sepulang dari Enin, ia menunduk malu seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Kami pun hanya saling berpandangan, tak biasanya ia menyambut kami dengan raut yang agak muram, bibir tertutup rapat dan tertunduk malu. Ah, kami pikir mungkin ia sedang tak enak badan atau lelah kecapaian. Sampai akhirnya, Teh Enung dengan suara agak tersendat ia bertutur…

”Bu, mohon maaf ya… dan minta dimaafkan ya… Kemarin, anak saya main di rumah ini, saat semua keluarga sedang di Enin. Anak saya senang sekali main disini. Dia bawa botol aqua untuk minum, dan karena lari-lari ia kehabisan air dan kehausan. Ia dengan sangat lancang telah mengambil air dari galon ini, ½ gelas aqua. Terus ia pun memetik 3 butir dukuh yang ada di meja dapur…”

Sesaat setengah tidak percaya kami pun saling berpandangan, lantas istri saya setengah mendekapnya menghiburnya, ”Aduh Teh Enung, ibu pun lupa tak memberikan setengah ikat dukuh itu pada Teh Enung. Maklum kami kan kemarin buru-buru dijemput Abang dari Bandung….”

Kini, setiap melihat buah dukuh… saya selalu ingat teh Enung. Betapa perasaan ikhsannya – merasa dilihat dan diawasi oleh Allah – sungguh menjadi pelajaran yang indah untuk dimaknai. Jauh sekali dengan sifat-sifat oknum pejabat dan anggota dewan yang terhormat yang diawasi saja mereka berani mengambil hak orang rakyat banyak. Apalagi kalau tidak diawasi…

Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, pengawasan melekat sesungguhnya adalah pengawasan dari Malaikat dan dari Yang Maha Melihat.

Semoga ½ gelas aqua dan 3 butir dukuh itu, akan menjadi saksi kekuatan ikhsannya. Satu lagi pembelajaran hidup telah kami peroleh dari Teh Enung yang bersahaja… Semoga Allah memberi kebaikan dan keberkahan atas diri dan keluarganya. Terimakasih Teh Enung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: