Kemerdekaan Hati

Diberbagai liputan media, di berbagai ajang diskusi kebangsaan, dan di berbagai acara kemerdekaan di kota-kota hingga di pelosok kampung… saya menangkap, lebih banyak yang terasa tak memerdekakan panggilan nurani. Hati kecil yang selalu meronta ingin dibersihkan dan dimerdekakan!

Rasanya pula, kemerdekaan yang selalu diusahakan masih lebih banyak dan selalu berkutat pada kemerdekaan fisik. Belum mengarah pada perubahan dari roh kepemilikan menjadi roh keberhasilan dan keberlimpahan. Seperti masih kentalnya rasa memiliki dan dimiliki. Padahal semua  itu hanyalah titipan-NYa.

Kalau pun ada yang sudah berpikir maju, syukur alhamdulillah sudah ada yang berniat kuat dan nyata untuk memerdekakan intelektual kita. Namun, semua itu masih belum banyak menyentuh pada upaya-upaya untuk memerdekaan kecerdasan emosional dan mentalitas kita.

Kalau pun ada, itu masih sedikit alias masih jarang. Dengan lebih banyak membaca dan bersilarurahmi, sebenarnya kita juga juga mampu untuk memperoleh kemerdekaan yang nilainya lebih tinggi. Yaitu bagaimana memerdekaan kita untuk selalu bersemangat dalam syiar dan tabligh kita, dan memerdekakan niat kita hanya pada-Nya.

 

Apakah niat kita ini bener-bener sudah merdeka?

Apakah kita sebagai Khalifah di bumi-Nya sudah mendapat pengakuan kemerdekaan dari-Nya?

Apakah Amar ma’ruf nahi munkar sudah sepenuhnya kita lakukan dengan cara-cara yang memerdekakan?

Apakah segala Ujian yang kita alami ini diantara kesempitan dan kalapangan telah memerrdekakan niat kita hanya pada-Nya?

Apakah Peran-peran yang kita emban telah menjadikan diri kita merdeka?

Apakah Amal-amal kita akan memerdekan kita di akhir perhitungan-Nya?

Apakah Ikhtiar kita sudah merdeka dari segala ketakutan, kekhawatiran dan godaan halus musuh-musuh-Nya?

Apakah amanah dan tanggungjawab yang kita emban sudah mampu memerdekakan kita atas kemudahan dan keringanan pengadilan-Nya?

 

Ya Allah, berilah kami nilai, hikmah dan makna atas kemerdekaan hati, kemerdekaan ilmu dan kemerdekaan akal kami dalam hidup kami. Hanya diri-Mu sebaik-baik penolong dan pelindung diriku, keluargaku dan insan-insan pembelajar hikmah-Mu

 

Amin…

Satu Tanggapan

  1. Hik Hik, Merdeka yah ?

    Merdeka dari apa hayo ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: