18 Rahasia Mengajar Insan-Pembelajar

Akhirnya, inilah 18 Rahasia Pengajar Insan-Pembelajar. Rahasia ini akan mudah kita resapi saat kita tahu apa saja perbedaan mendasar yang bisa kita ambil dari Orang Biasa saat ia mengajar dan bagaimana Pembelajar Sejati itu sendiri saat mengajar.

Hitung-punya hitung, setidaknya ada 18 pembeda saat keduanya mengajar. So, inilah uraiannya :

#1. Orang Biasa mengajar dengan komunikasi satu arah atau lebih banyak terkesan menyuapi (spoon feeding), sementara Pembelajar Sejati lebih memilih untuk menstimulasi (stimulating) suasana kelas yang lebih menggairahkan.

#2. Bagi Orang Biasa, mengajar itu berarti berbicara, atau cenderung banyak menguliahi. Ia pun senang memberikan pengarahan. Sementara bagi Pembelajar Sejati, mengajar itu berarti memberi inspirasi, hikmah, kebijaksanaan dan keteladanan nyata. Ia akan lebih senang bila terlibat dalam bimbingan langsung dengan memberikan dukungan penuh hingga berhasil.

Manusia yang paling dekat derajatnya kepada derajat kenabian ialah para mujahidin dan ilmuwan (cendekiawan), karena kaum mujahidin melaksakan ajaran para Rosul dan ilmuwan membimbing manusia untuk melaksanakan ajaran nabi-nabi. (HR Adailami)

#3. Orang Biasa mengajar di waktu (jam) dan tempat tertentu. Sementara Pembelajar Sejati berbagi dimana saja dan kapan saja. Bahkan tak jarang, mencari dan mendatangi yang membutuhkannya. Dan bahkan ia pun sangat merindukan untuk selalu berbagi dan memperbanyak berkeliling di muka bumi dengan bernasehat kepada manusia dengan ilmu dan pengalaman nyata yang telah terasakan manfaatnya.

Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan bernasehat kepada manusia (makhluk Allah) (HR Athathawi)

#4. Orang Biasa mengajar dengan metoda kuliah. Sedang Pembelajar Sejati mengajar dengan kemasan permainan atau sambil bermain (Edutainment, Edumain). Menyenangkan, menantang dan relevan.

#5. Proses belajar mengajar yang dilakukan oleh Orang Biasa diorientasikan pada kemampuan daya ingat. Sementara bagi Pembelajar Sejati, proses belajar mengajar lebih diorientasikan pada pemahaman.

#6. Orang Biasa seringkali tidak menyadari bahwa proses belajar mengajarnya lebih mengarahkan anak didiknya pada daya ingat jangka pendek, sementara Pembelajar Sejati sejak awal menyadari bahwa proses belajar mengajar akan lebih efektif bila diarahkan pada daya ingat jangka panjang.

#7. Orang Biasa seringkali mengajar tentang fakta dan hafalan penting ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedang Pembelajar Sejati, memberi jiwa, semangat dan inspirasi yang bermakna, luhur dan sesuai panggilan illahi.

#8. Pada saat Orang Biasa mengajar mataematika dengan memfokuskan pada kalkulasi, Pembelajar Sejati mengarahkan pada kemampuan berfikir (thingking skill) dari anak-anak didiknya.

#9. Pembelajaran yang diberikan oleh Orang Biasa lebih pada kemampuan berfikir otak kiri, sementara Pembelajar Sejati sadar benar dengan menekankan pada pembelajaran total paduan kemampuan otak kanan dan otak kiri.

#10. Orang Biasa sudah cukup puas dengan mengajar bagaimana mendapatkan satu solusi atau satu jawaban, sementara Pembelajar Sejati akan mendorong dan menginsipirasi anak-didiknya memiliki dan mengajukan multiple solusi dan beragam kemungkinan.

#11. Pada saat Orang Biasa mengajar, ia tak menyadari bahwa ia telah mengabaikan aspek logika dengan menjadikan ujian sebagai alat pendorong anak giat belajar demi orientasi lulus. Sementara Pembelajar Sejati, bila ia mengajar, ia akan mengarahkan anak-didiknya memahami secara utuh substansi pelajaran, yang senyatanya harus berbingkai religis, logis dan aplikatif.

#12. Orang Biasa memberikan pendidikan dan pengajaran setinggi-tingginya. Sedang Pembelajar Sejati memberikan keteladanan dan dukungan nyata. Ia pun sangat yakin orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.

Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya. (HR Bukhari)

#13. Orang Biasa mengajar untuk mendapatkan uang, karena itu dijadikan sumber penghasilannya. Sementara Pembelajar Sejati mengajar bagaimana memanfaatkan kekuatan uang, kekuatan jejaring (dengan silaturahmi) dan kekuatan kekuasaan Tuhan.

Bagi Pembelajar Sejati mengajar itu hoby, panggilan jiwa (nurani), dan sekaligus tanda syukur padaNya dengan lebih banyak berbagi. Dan tak jarang ia pun iri hati kepada hartawan yang telah membelanjakan hartanya pada sasaran yang benar, dan kepada ilmuwan yang bijaksana, lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.

Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar, dan seseorang yang diberi Allah ilmu dan kebijaksanaan, lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR Bukhari)

#14. Pada saat Orang Biasa masih berkutat dan sibuk merumuskan otonomi pendidikan dan provit, Pembelajar Sejati lebih memfokuskan pada bagaimana masyarakat pembelajar dan lembaga pendidikan mengaplikasikan pendekatan mutu secara konkret dalam penyelenggaraan pendidikan.

#15. Orang Biasa mengajar dan mendorong untuk menyiapkan anak-didik menjadi karyawan unggul terdepan. Semantara Pembelajar Sejati menyiapkan, mendidik dan membangunkan kejeniusan finansial anak sejak dini dengan bimbingan pribadi dan keteladanan berwirausaha.

#16. Orang Biasa mengajar tentang dogma-dogma keagamaan dengan bahasa yang serem dan terkesan menakut-nakuti. Sementara Pembelajar Sejati, mengajarkan tentang perbaikan diri yang dimulai dari hal-hal kecil, dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Baginya tidaklah halal menakut-nakuti orang lain dengan cara yang tidak bijaksana.

Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti saudaranya yang muslim. (HR Abu Dawud)

#17. Orang Biasa mengajar dengan orientasi hasil, sementara Pembelajar Sejati lebih pada orientasi proses. Proses belajar mengajar yang menyenangkan, menantang dan relevan.

#18. Orang Biasa mensyaratkan bahwa mengajar harus memenuhi kriteria orang kuno, yaitu : usia, latar belakang pendidikan, IPK, jenis kelamin, dan agama. Sementara Pembelajar Sejati menegaskan, bahwa syarat mengajar hanyalah hasrat tulus untuk belajar menjadi insan pembelajar dan belajar dengan cepat.

Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya. (HR Bukhari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: