Hidup Sukses dan Mulia

Apa bedanya ciri orang yang percaya diri, orang yang sombong dan orang yang takabur ? Di jaman kiwari, rasanya sih ngak ada bedanya. Hanya saja, bila kita terlatih mensikapi dan mengambil jarak dengan dengan apa yang dibicarakan atau disampaikan, rasanya sih kita bisa membedakannya.

Orang yang percaya diri biasanya mampu mengukur diri. Keyakinannya nampak dari kematangan berpikirnya, antuasnya, kebijaksanaannya dan akal sehatnya, serta tetap tawadlu. Sementara orang sombong selalu berbicara tak jauh dari “roh kepemilikan” : harta, gelar, jabatan, keturunan, karir dan prestasi, keorganisasian, popularitas dan kejayaan di masa lalu.

Lalu bagaimana dengan orang takabur. Oh, itu sih sudah sangat jelas. Orang yang ekstra-sombong ini seringkali sesumbar kesana-kemari bahwa ia akan sukses dengan sangat yakin. Mendahului takdir Tuhan, dan tidak mengenal apa itu “skenario Tuhan”. Prinsipnya, semua hal yang masuk akal dan diyakini pasti akan berhasil. Seolah peran Tuhannya kini beralih pada kekuatan pikirannya. Nafsunya membara, bicaranya berapi-api dan fokusnya pada target pribadinya, nampak begitu mencolok dan wah… hebat ! Namun bila kita mengintip kesehariannya, kedekatannya dengan Sang Maha Pengunjuk Kekuatan, jelas terasa ada yang kering, berkamuflase dan topeng belaka.

Jadi, buat apa “sukses” kalau jadi sombong ? Mendingan pilih hidup sukses dan mulia. Orang sombong jelas itu belum sukses. Ia hanya belum belajar bagaimana belajar menjadi manusia yang kaffah. Ya, jadi Insan Pembelajar yang rendah hati, cerdas dan berprestasi, senang berbagi serta terus memperbaiki dirinya sendiri lebih baik lagi tiada henti, setiap hari !i

Masalahnya sekarang, bagaimana proses pengembangan diri yang alami, terakselerasi dan tetap punya nilai kontribusi yang tinggi ?

Langkah pertama yang harus dilakukan di jaman cybernium ini, adalah kita harus menyadari sepenuhnya bahwa kita selalu dituntut untuk selalu mengembangkan sejumlah perangkat praktik pembelajaran yang manusiawi, yang sesuai dengan cara belajar alamiah kita.

Setiap insan pembelajar haruslah diarahkan untuk belajar bagaimana ia mengenal dirinya; belajar bagaimana belajar yang efektif, mudah, menyenangkan dan sekaligus menantang; serta belajar bagaimana ia mengenal Tuhannya.

Disisi lain, kita pun perlu berfokus agar setiap insan pembelajar bisa menguasai apa yang kita sampaikan, dan memberikan kebebasan pada cara apa yang digunakan, selama itu tak menyalahi etika umum, nurani dan keyakinan beragama. Dengan kata lain, keterampilan hidup lebih diutamakan daripada keterampilan mendapatkan nilai prestasi di sekolah, di kampus atau pada karir pekerjaan.

Namun anehnya, saat mereka menikmati proses edumainerisasi (siklus hati, ilmu & akal), nilai prestasi di sekolah, di kampus atau pada karir pekerjaan jadi jauh melesat. Itu semua karena kita berfokus pada pertanyaan mendasar : “Apa yang paling penting, berarti, dan dibutuhkan bagi hidup anda”

Kita pun menyadari, seiring kemajuan jaman ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, tentu saja persoalan hidup akan terus berbeda dari waktu ke waktu. Namun bila kita mengajarkan kepada ”anak didik” dengan teknik, cara, metode, atau strategi yang baik dan benar sesuai fitrah manusia, maka insyaallah mereka akan menjadi insan pembelajar yang aktif, kreatif dan adaptif.

Sudah saatnya kita membekali para insan pembelajar muda ini dengan kemampuan untuk mengatasi persoalan, dan bukan hanya pada kemampuan menjawab soal, lulus ujian dan rangking #1. Mereka harus mengetahui benar bagaimana belajar yang sesuai dengan cara kerja otak dan pikiran dalam menyerap informasi. Mulai mindmapping, fish bond, quantum learning, quantum ikhlas hingga etos-amal. Selain itu, kita pun perlu membekali mereka dengan kemampuan untuk menganalisa, mensintesa dan mengevaluasi (menghisab diri, introspeksi), serta kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan secara cepat juga menjadi kunci keunggulan bersaing mereaka di kemudian hari.

Untuk itu konsep diri yang sehat, kuat dan benar harus ditanamkan sejak dini, intensif dan berkesinambungan. Sehingga pada akhirnya, kita bisa mengharapkan konsep diri tersebut akan mampu menjadi pondasi untuk keberhasilan di bidang apa saja dalam hidup. Apa pun yang menjadi pilihan dan fokus dirinya. Semua itu tentu, harus dijahit sedemikian rupa sehingga menjadi suatu sistem yang benar-benar mampu memberdayakan potensi diri anak-didik kita.

Sebagai seorang pendidik, pengajar, motivator, inspirator atau apa pun namanya, bila kita memiliki sedikit pengetahuan yang ”layak” untuk kita bagikan, maka mereka berhak untuk dibantu mengembangkan semua potensi yang dimilikinya.

Yaitu dengan asumsi yang positif bahwa mereka benar-benar insan pembelajar yang yang punya kebutuhan akan rasa cinta dan kebutuhan akan rasa diri berharga.

So, kalau bukan kita yang memenuhi kebutuhan akan cinta dan rasa diri berharga dengan mencintai mereka sebagaimana adannya, lalu siapa lagi ?

Setiap insan pembelajar berhak untuk sukses dan hidup mulia. Karena Tuhan pernah mengingatkan, ”Bahwa tiada yang orang dapatkan, kecuali yang ia usahakan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: