Bekerja itu Indah

Dulu saat sekolah mau berakhir, orang ingin cepat-cepat mendapatkan pekerjaan, atau ingin cepat mandiri. Baik itu sebagai pedagang maupun sebagai karyawan. Lalu setelah ia mendapatkan pekerjaannya sebagai pedagang atau karyawan, sebagai manusia biasa, selalu saja ada keluh dan kesah. Namun bila keluh kesah itu sering terlontar, maka yang muncul adalah aura ketidakberdayaan dan tanpa ia sadari ia telah jadi budak pekerjaan.

Padahal senyatanya bekerja itu indah. Bekerja itu nikmat. Bekerja itu membebaskan dan membahagiakan. Justru dengan bekerja kita menjadi manusia yang sebenarnya. Bekerja pada intinya, punya banyak manfaat yang tak terhitung provit dan benefit-nya.

Bekerja akan terasa susah, bila kita tidak tulus melakukannya. Penuh keluh kesah, lebih banyak menuntut hak daripada memenuhi kewajiban, dan tidak pandai bersyukur (kufur nikmat). Fokusnya pada ketidakpuasan kerja : perbedaan persepsi dengan bos atau rekan sekerja, kekacauan sistem dan masalah-masalah yang sedang dihadapi. Senyatanya, menjadi pekerja itu indah, bila kita fokus pada solusi, berdiri diatas persamaan tujuan dan peluang-peluang yang akan diperoleh dengan bekerja-sama secara tim (sinergi).

Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji, namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.(HK Athabrani)

Dengan bekerja orang bisa mencukupi dan memenuhi kebutuhannya. Bisa menciptakan lapangan pekerjaan lainnya. Bisa dijadikan sarana untuk bersosialisasi lebih dalam dan lebih tinggi lagi. Bisa mengasah IQ, EQ, CQ, AQ, dan SQ. Bekerja juga bisa dijadikan lahan untuk beraktualisasi diri, selain untuk sarana beribadah.

Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang hari, maka pada malam hari itu ia diampuni oleh Allah. (HR Ahmad)

Sebaliknya, dengan tidak bekerja, kita bisa melihat betapa dahsyat dan sistematisnya dampak buruk dari orang yang tidak memiliki pekerjaan. Pada pengangguran tulen misalnya, orang yang tidak bekerja itu bisa rendah diri dan kurang percaya diri, berwawasan sempit, hatinya bisa keras, egois, bisa frustasi, serta bisa pula merusak tata nilai dan karya manusia.

Pengangguran menyebabkan hati keras (keji dan membeku) – (HR Asysyihaab)

Karena kerasnya hati, seseorang bisa berkeyakinan bahwa cari kerja itu susah. Padahal cari kerja atau menciptakan pekerjaan itu mudah, kalau tahu caranya. Dan sederhana, kalau kita belajar dari ahlinya.

Satu Tanggapan

  1. Ass. Wr. Wb.

    Wahh, Mas Agung hebat euy. Banyak banget tulisan na.

    Wassalam/Sie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: