Hadir, Tapi Pakewuh…

Dalam berbagai kesempatan, setiap saya menghadiri undangan, baik itu undangan di kantor, atau undangan di kampus, sekolah dan di masyarakat, selalu saja tempat duduk 3 sampai 5 baris pertama selalu kosong.

Tidak di kota, tidak juga di desa, fenomena ini begitu sering terulang dan terpola. Ya, sepertinya masyarakat kita ini tidak “berani tampil”, alias tidak berani terlihat mencolok. Budaya pakewuh, sungkan, kagok, masih kental di masyarakat. Hal serupa juga saya alami setiap saya berbagi mengenai teknologi pembelajaran. Tak jarang yang datang hadir duluan, anehnya selalu saja mengisi kursi paling belakang. Terus yang hadir kemudian, akan merambat mengisi satu persatu kursi yang lebih depan. Begitu seterusnya hingga penuhlah semua kursi.

Padahal bila kita mengisi baris paling depan, maka yang datang belakangan atau yang datang terlambat tidak akan mengganggu saat acara berlangsung. Ya karena tak jarang pula pada saat yang hadir terlambat, dia akan celingukan mencari tempat yang kosong dan otomatis ini menjadi pemandangan tersendiri bagi semua orang yang telah duduk manis di tempatnya. Bahkan sering si pembicara, terhenti sebentar dan membantu mencarikan tempat duduk yang masih kosong di depan.

Sungguh, budaya kehadiran seperti ini jelas budaya buruk yang harus kita ubah. Seperti shalat berjamaah, sebaiknya yang hadir duluan ya akan mengisi di shaft depan, mengisi kekosongan dan terus mengekor mengisi ke belakang.

Di komunitas HAI Edumain, kami menerapkan 7 Level Pembelajaran.

Level #1 : Hadir. Tidak hanya hadir, namun hadir 15 atau 20 menit sebelum waktunya. Dengan hadir tidak terlambat, duduk paling depan, berarti kita ini bersungguh-sungguh, berkomitmen dan siap menerima ”pelajaran”.

Ketepatan waktu itu itu kebiasaan raja-raja. Orang yang tepat waktu itu termasuk darah biru. Orang yang tidak tepat waktu bukanlah kaum bangsawan, namun orang pinggiran.

Jadi, jangan ada lagi istilah ”jam karet”, ngetem menunggu peserta hadir cukup banyak, memanjakan yang terlambat, dan ”menghukum” yang datang tepat waktu untuk ekstra bersabar menunggu yang lain. Hitung punya hitung, bila undangan ada 100 orang, dan yang datang tepat waktu 40 orang, lalu acara mulur hingga 20 menit hanya untuk menunggu peserta hingga mencapai minimal 80 orang, berarti kita telah membuang-buang waktu : 40 (orang yang datang tepat waktu) x @ 20 menit = 800 menit terbuang. Atau membuang sumber daya waktu yang sangat berharga dan tak tergantikan : 13,3 jam !!

Aduh, bagaimana kita mau membahas level pembelajaran ke-2 hingga ke-7 bila level pembelajaran pertama saja masih sulit ditaati ? Jadi, hadirlah tepat waktu sebagaimana kebiasaan kaum bangsawan berdarah biru…

2 Tanggapan

  1. Kebiasaan seperti itu dikarenakan belum ada kesadaran dalam diri mereka. Padahal orang yang duduk di depan pasti lebih banyak menyerap apa yang di sampaikan Pemateri.

    Sungkan, kagok , pakuweuh bisa jadi penyebabnya. Tapi menurut sya justru dikarenakan “KETAKUTAN”. Takut bila nanti ditanya pemateri. Malu adalah faktor kedua dan hal tersebut menyebabkan ketidakberanian. Memang sulit kalau tidak ada kesadaran dan disiplin. dan menumbuhkan kesadaran dan kedisiplinan dirasa tidak semudah itu.

    Harus ada cara untuk menumbuhkan kesadaran dan kedisiplinan tersebut.
    1. Isi materi yang disampaikan harus benar2 menarik dan buat suasana yg menyenangkan.
    2. Pemateri membawakan materinya dengan Wise, menyenangkan diselingi humor, sehingga tidak ada kesan Formal, Kaku dan Membosankan.
    3. Pancing responden untuk bertanya dengan cara yang menyenangkan sehingga responden ada keberanian untuk bertanya.

    Semoga Bermanfaat….
    Rangga Adhiyasa

  2. Hmm.. komentar yang charming dari Rangga. Bagus!Adakah yang ingin menambahkan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: