Ibu Tua

Hari Senin puasa minggu ke-2 kemarin, adalah hari yang sangat menantang : uhh, dereram-dereram. Menantang karena setelah perjalanan 5 jam lebih dari kampung-halaman, saya malu terlambat masuk kantor 65 menit. Di kantor sudah ada 2 kerjaan mendesak dari bos. Belum termasuk 2 masalah krisis yang harus segera ditangani secara serentak dalam waktu yang mepet. Dan persiapan satu bahan meeting sore yang belum beres. Plus lagi, dapat bonus : saya dibentak-bentak oleh seorang kolega diseberang telepon sana dari Indonesia Timur hanya karena miskomunikasi saja yang pemicunya bukan dari bagian saya sendiri.

Hmm… hari itu, rasanya bukan hari saya. Meski semua terkendali, emosi terjaga, alhamdulillah saya tak kehilangan perspektif. Ini hal yang ”biasa”, ”normal”, ”manusiawi” dan tak menutup kemungkinan akan terulang kembali di waktu yang akan datang dengan bentuk dan tensi yang lain. Begitu saya berpikir, self defence mechanism, cara saya untuk menghibur diri dan meredam kenegatifan rasa.

Tentu saja, energi cukup terkuras. Badan rasanya lelah sekali. Ingin rasanya saya bisa berendam di kolam renang air hangat seperti di Ciater, cepat makan, cepat shalat isya, tarawih, dan tidur dengan sprei baru. Pasti nyenyak malam ini. Begitu yang saya pikir. Ya, tak ada pilihan lain : saya sungguh harus tetap mencintai hari Senin ini.

Alhasil, orang lain pulang pikul 5 sore teng dan bisa buka puasa di rumah, saya pulang pukul 17.43 WIB. Itu pun setelah seorang Security memeriksa ruangan saya dan menyapa di depan pintu, ”Koq belum pulang pak… Mau maghriban di sini ya pak ?”

Saat bedug maghrib, saya masih dijalan. Lalu saya beli kolak, susu kedelai, 2 lontong kecil dan 2 resol di perempatan jalan. Saya pikir, itu lebih dari cukup untuk sekedar mengganjal perut. Penjualnya seorang ibu tua. Dagangan ibu tua ini dipajang diatas meja kayu sederhana ukuran lebih kurang 70 x 150 cm dengan beberapa menu khas buka puasa. Bila dihitung total, sepertinya sih dagangan mereka kurang dari 200.000 rupiah. Ibu tua itu selalu ditemani anak laki-lakinya seusia 14 tahunan, kadang juga dengan anak perempuannya. Ketiganya begitu kurus, matanya cekung, menahan beban hidup.

Saat saya perhatikan dengan seksama pada ibu tua penjual kolak, seluruh kelelahan saya langsung sirna. Terlebih saat ada ibu muda yang masih mengobrol dengan ibu tua ini tentang keluarga mereka masing-masing. Obrolannya begitu akrab, meski ibu tua ini sibuk melayani 4 pembeli lain sementara ibu muda ini duduk di atas motor barunya, ia terampil dan gesit melayani. Anak laki-laki disampingnya juga dengan ramah melayani.  Sepertinya mereka sudah kenal begitu lama.

”Aduh bu, gimana ya… uangnya kurang lima ratus…”, kata ibu muda ini memecah kesibukan. ”Ya bu, tak apa..”, jawab ibu tua. Saya sempat terkejut. Betapa tidak, ia sibuk mencari uang recehan disaku-sakunya, meski saya melihat ibu muda ini memegang beberapa lembar ribuan, sepuluh ribuan dan lima puluh ribuan. Saya jadi trenyuh, kasihan dan gemes melihat kejadian ini. Perasaan serupa saya tangkap dari mimik anaknya dan 4 pembeli lain. Koq nggak diikhlaskan saja uang seribu itu, toh ia memegang uang cukup banyak !

Ya, inilah dunia nyata yang tak selamanya semua kejadian akan berlangsung  sebagaimana yang kita harapkan. Tinggal kuncinya bagaimana kita secara cerdas mensikapi. Tak ada yang salah dari setiap kejadian, hanya cara kita mensikapi saja yang seringkali salah atau tak sempurna.

Kini setiap saya stress, bete, jenuh, lelah, banyak masalah atau sedang sumpek sepulang kerja, selalu saja saya akan berjalan melalui perempatan jalan ibu tua penjaja makanan buka puasa itu. Meski ibu tua itu tak lagi berjualan disana, saya mampu membayangkan sosok dan dagangan sederhananya dengan segala isinya. Dan selalu saja, alhamdulillah seketika itu semua perasaan negatif saya jadi sirna. Ya, dibandingkan dengan segala kesulitan dan masalah yang saya punya, rasanya jauh berat beban hidup yang kini sedang ditanggung ibu tua ini.

Kita tahu, ada banyak cara untuk mensyukuri nikmat dan karunia Tuhan dalam hidup ini. Namun selalu saja kita yang lemah dan payah ini seringkali lupa atau khilaf, bahwa hidup akan lebih berarti bila kita mampu mensyukuri dan memaknai dengan hati dan nurani. Terlebih bila kita bisa peduli dan mampu berbagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: