Passive Income yang Menyesatkan

Beberapa waktu lalu, saya begitu menikmati sebuah acara di salah satu saluran TV nasional mengenai kewirausahaan. Meski saya tidak mengikutinya sejak awal, namun beberapa kiat praktisnya dari seorang Pengusaha “Sukses” meluncur dengan lugas dan masuk akal. Ini terjadi, karena si pemandu acara telah mampu membuat para pembicara merasa nyaman menyampaikan semua pengalaman suksesnya.

Acara terus bergulir, dan saya pun semakin kesengsrem kagum. Ya, betapa mudahnya berwirausaha itu bila kita tahu kuncinya langsung dari ahlinya. Boleh juga, dan tak sedikit manfaat yang dapat saya petik.

Tapi sayang, ternyata acara ini ditutup dengan rasa kebanggaan yang berlebihan dan sedikit arogan. Salah seorang pembicara merasa diri paling sukses di acara TV itu menutup acara dengan pesan akhir yang saya rasa adalah sebuah kekeliruan.

Dengan sombong ia berkata, “Kini saya sudah memiliki passive income dengan usaha saya sekarang. Saya mau bangun tidur jam berapa pun, bangun tidur siang sekalipun, saya tetap mendapat penghasilan”

Sekilas pendapat itu terasa benar. Bahkan mungkin ada yang mengidam-idamkan kondisi pasif income itu. Ya, siapa yang tak mau : kerja atau tak kerja tapi penghasilan akan mengalir dengan sendirinya. Kita tinggal kongkow-kongkow aja.

Namun saya kurang setuju. Saya khawatir bila kita tidak kerja dan uang terus mengalir, apakah waktu tersebut bernilai dan berkah adanya ? Apakah Allah akan ridho dengan waktu dan usia kita itu?

Sesungguhnya Allah suka kepada hambaNya yang bekerja dan terampil. Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR Ahmad)

Andai saja Pekerja Biasa bekerja seumur hidup, maka orang yang bermental Mandiri akan belajar, bekerja dan berkarya sepanjang hayat.

Dengan merencanakan kita akan santai-santai, bangun pagi di siang hari, dan berleha-leha setelah pasif income, artinya apa yang sedang kita perjuangkan sekarang ini berarti tak lebih sekedar pamrih adanya. Impian fatamorgana yang belum tentu kita dapat, selain kelelahan pikiran, keletihan fisik dan kekeringan jiwa. Audzubillahimindzalik!

Bagi saya pribadi, bekerja itu wajib adanya sepanjang nafas masih mengalir di dada dan di kepala. Tak peduli apakah kita sudah pasif income atau tidak, kita tetap berkewajiban untuk menjadikan kerja sebagai sarana beribadah kepada-Nya.

Mencari rizeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan fardhu (seperti shalat, puasa, dll.). (HR Athabrani dan Al Baihaqi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: