Berbagi : Puncak Tertinggi Level Pembelajaran

berbagi-level-7Edumainers, masih segar kan diingatan kita, bahwa :

  • Level pembelajaran #1 : Hadir (Baca : Hadir, Tapi Pakewuh, 8 Okt. 2008)
  • Level pembelajaran #2 : Dengar (Simak, Lalu Pikirkan Apa Manfaatnya Bagiku, 9 Okt. 2008)
  • Level pembelajaran #3 : Lihat (Lihatlah Agar Kita Jadi Percaya, 6 Nov. 2008)
  • Level pembelajaran #4 : Mencatat (Rajinlah Mencatat Agar Selalu Ingat, 7 Nov. 2008)
  • Level pembelajaran #5 : Bertanya (Malu Bertanya Sesak di Pembelajaran, 12 Nov. 2008)
  • Level Pembelajaran #6 : Diskusi (Raihlah Prestasi dengan Diskusi, 19 Nov. 2008)

Kini saatnya kita bahas level tertinggi dari pembelajaran : BERBAGI.

Kenapa berbagi menempati level pembelajaran tertinggi? Kenapa tidak ”introspeksi” misalnya?

Berbagi itu sebenarnya tidak mudah, bagi orang-orang yang belum memiliki mentalitas keberlimpahan, masih mementingkan diri sendiri alias egois, orang-orang yang suka berbangga-diri, orang-orang yang haus akan publisitas dan pengakuan, juga orang-orang yang sering itung-itungan.

Sejauh pengamatan saya, hanya orang yang tulus ikhlaslah yang pandai dan senang berbagi. Bahkan, tantangan berbagi sebenarnya bukan pada apa yang diberikan tapi seberapa cepat kita memberikan. Selain itu, juga seberapa tulus kita melampaui harapan saat kita berbagi. Bahkan kalau kita berbagi saja sebenarnya itu soal gampang, namun bagaimana kita meningkatkan nilai berbagi itu sendiri sehingga selain lebih cepat dan lebih banyak, juga lebih bernilai, lebih tepat sasaran, lebih mendidik dan lebih memberdayakan.

Cara M. Yunus menelurkan konsep dalam Grameen Bank misalnya, didasari oleh keinginan untuk berbagi kesempatan yang lebih banyak dan lebih luas. Penerima penghargaan perdamaian Nobel 2006 ini bahkan yakin bahwa dengan cara dia berbaginya selain bisa memberdayakan Usaha Kecil dan Menangah, dan memerangi kemiskinan, juga ia yakini bisa memberantas korupsi.

Nah kembali pada soal berbagi ini, berbagi bisa melahirkan dan memicu kreasi, keunggulan bersaing, inovasi dan sikap antisipatif.

Akhirnya, adalah sangat sulit rasanya bila kita hidup di jaman networking seperti sekarang ini bila kita mengandalkan keunggulan personal, IT, modal, bahkan ide kreatif sekalipun, tanpa menerapkan konsep berbagi. Baik itu berlabel promosi, icip-icip, test-drive, open house, qurban, zakat, infaq, shodakoh, hadiah, gotong-royong, arisan, bantuan kemanusiaan, Corporate Social Responsibility (CSR), atau bentuk metaformosa dari semangat “berbagi” lainnya.

Satu Tanggapan

  1. Berbagi : Puncak Tertinggi Level Pembelajaran,,
    sungguh mengasyikan,,..
    terimakasih,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: