Handphone

Handphone, Smartphone, Mobilephone, PDA dan semacamnya, kini sudah jadi kebutuhan yang tak terpisahkan dan kian melekat. Bahkan bagi seorang aktivis, politikus dan pebisnis, handphone kini sudah jadi “kebutuhan dasar” yang sulit terpisahkan selain sandang, papan dan pangan.

Dari handphone pula, tumbuh subur industri perangkat lunak dan perangkat kerasnya. Mulai dari jualan pulsa, reparasi HP, HP baru dan HP second, hingga penyedia konten ini dan itu.

Diluar kebutuhan dan semua peluang atas keberadaan HP itu, satu hal yang paling menarik yang sering saya perhatikan adalah bagaimana orang yang memegang perangkat itu bersikap dan terlibat secara emosional dengannya. Belajar banyak dan tumbuh berkembang, atau berkutat dengan masalah dan terpuruk karenanya.

Banyak contoh dan beragam cerita karena HP. Semisal, ada orang yang merasa bergengsi bila menggunakan HP dengan model terbaru, harganya relatif mahal, punya nomor HP orang-orang terkenal, terus menerus ada yang SMS atau sering dikontak langsung tanda bahwa ia orang penting, dibutuhkan dan sibuk. Sampai sambil makan siang pun terus menerus sms-sms-an.

Ada pula yang uring-uringan karena pulsanya habis, dapat teguran keras dari bos, terus dikejar utang tagihan, hp-nya rusak jatuh atau tenggelam, data kontak nama-namanya hilang, hp-nya hilang kecopetan atau hilang tercuri, atau kehilangan waktu privacy karena hari libur, cuti dan malam pun masih terus direcoki oleh pekerjaan dan hal-hal remeh dan tak penting.

Dengan HP, orang bisa terkena tipu dan menipu, bohong dan dibohongi, digonda dan selingkuh. Karena HP pula, tak sedikit orang yang terkena aib dan tercela karena tertangkap KPK. Dihadapan hakim dan pengadilan, seluruh SMS dan percakapannya dibacakan tim jaksa. Atau ada pula orang diperiksa maraton oleh Densus-88 karena mengirim ancaman bom via SMS dan merepotkon tim Gegana.

HP juga kini sering menjadi alat bukti atas rekaman perbuatan tidak menyenangkan seperti perkelahian dan pemukulan. Dan kasus pidana lain yang pada akhirnya bisa menyeret si pelaku dan merusak institusi dimana ia bekerja.   

Dari semua hal itu, rasanya masih sangat sedikit rasanya, orang mengeluh karena data aksesnya tak lagi bisa buka website atau web blog, push email-nya agak bermasalah, kamus elektriknya hang, kiriman SMS berlangganan doa dan tausiyahnya terpotong-potong, SMS tahajjud-nya lambat terkirim, masih adanya selisih waktu reminder waktu shalat, atau searching atas ayat-ayat di software kitab-sucinya agak lemot…

Jadi, rasanya “surga” dan “neraka” di jaman kiwari bisa “dibangun” dari handphone cellular. Apakah kita bisa hidup lebih cepat, gesit dan kian berdaya dengan handphone, atau justru malah terepotkan dengan adanya handphone. Kita sendirilah yang menentukannya!

Satu Tanggapan

  1. dengan adanya handphone itu bagus
    bisa membantu kita untuk
    kontak-kontakan
    dengan keluarga yang jauh,,
    hanya saja mengurangi human comunication..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: