Koq Bandung Tak Sebersih Amerika ?

Senin pagi kemarin, bersama Agia anak pertama saya, saya jalan-jalan ke Bandung. Ini bukan jalan-jalan biasa, tapi jalan-jalan hadiah. Hadiah bagi prestasi anak saya yang cukup menggembirakan karena telah mendapat nilai rata-rata cukup bagus di sekolahnya : 85,7. Ranking-nya sendiri saya tidak tahu dan tidak menanyakan kepada gurunya, saat saya sendiri menerima hasil prestasi belajarnya selama semester pertama.

Saat melewati Gedung Walikota, mobil yang kami naiki terhenti cukup lama. Ternyata ada pawai anak sekolah TK disana dengan baju putih-putih. Sayang, saat meninggalkan mesjid, halaman mesjid jadi kotor dan berantakan dengan sampah. Bagi saya, itu pemandangan yang luar biasa : bagaimana kita mau menanamkan ”kebersihan itu sebagian dari iman” bila sejak TK saja guru-gurunya tidak ketat, tegas dan sabar mendisipinkan mereka. Dan yang lebih ironis lagi, yang dikotori justru adalah tempat suci dan harus disucikan !

Lalu, perjalanan terus menembus ke Dago. Entah karena pemandangan berseraknya sampah tadi atau karena apa, anak saya bertanya dengan cukup keras, ”Ayah, koq kota Bandung tak sebersih kota-kota di Amerika ?”

Wah, koq dia bertanya seperti itu ? Dibandingkan dengan kota-kota yang ada di Amerika lagi. Padahal, keluar pulau Jawa saja anak saya ini belum pernah. Mungkin dia melihat kota-kota di Amerika dari televisi dan berbagai bacaan yang pernah dilahapnya. Persepsinya : kota di Amerika itu bersih-bersih, teratur, modern, humanis dan tertib.

Ia malah makin prihatin, saat ia melihat ada gunungan sampah di simpang Dago yang justru diangkut siang hari dengan cara manual. Tanyanya lagi, “Kenapa tidak pake bak khusus ya, Yah? Kan orang-orang tinggal buang di bak itu, dan ditarik deh kalo udah penuh”.

Ya kebersihan harus dimulai dari hati. Seperti kata Bupati Jombang Suyanto, ”Pemimpin itu tak perlu cerdas sekali. Yang penting lurus hati, mulau berpikir sampai berbuat” (Tempo, 22/12/08).

Sebagai warga biasa, saya sangat berharap ada kategori Kota Terkotor selain penilaian kota terbersih Adipura. Agar pimpinan wilayah yang dinilai kota terkotor mendapat sanksi moral dan bertanggungjawab atas wilayahnya. Juga seperti pemilihan 10 bupati atau wali kota sebagai Tokoh Tempo 2008.

Tapi saya rasa, bisa jadi kekotoran fisik itu juga adalah cerminan dari kekotoran hati kita sendiri. Atau mungkin saja, kita ini terlampau sibuk dengan isu dan wacana yang wah dan melangit, tanpa kita sadari kita lupa membersihkan kekotoran hati kita, kebersihan perilaku keseharian kita, mulut kita, tangan kita, dan pikiran kita sendiri.

3 Tanggapan

  1. Coba saja berkunjung sekarang mas Agung, makin banyak banget banner photo-photo caleg yang dipasang sembarangan makin sembrawut saja.

    Banner ukuran raksasa ada dimana-mana dan saking besar bannernya sampai dipasang pakai bambu, dirobek-robek , roboh lagi. Wah kacau dah.

  2. Bener Mas Didin, lieur lihat sampah visual seperti ini… Kita pandai membuat aturan, tapi belum pandai menegakkan aturan.

    Hingga sekarang, istri saya paling males kalo ke Bandung. Apalagi kalo hari Sabtu, Minggu atau tanggal merah hari libur. Mendingan ke Bogor katanya. Masih lebih enakeun…

  3. Koq Bandung Tak Sebersih Amerika ?,,,
    mungkin mas datang saat belum di bersihkan saja kali..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: