Cintai & Bencilah Seperlunya Saja!

Saat lagi seru-serunya berbagi cerita dengan seorang sahabat sehabis makan malam di Supermal Karawaci, hape saya bunyi. Oh, ternyata yang ngebel adalah seorang ibu guru dari luar kota di sebuah kota kecil di Jawa Barat.

“Maaf ya mas Agung, sedang ganggu ngak nih?”, katanya lembut dan santun dalam bahasa Sunda yang sangat halus. Tentu saja karena lama kami tak pernah bertemu dan saling berbagi, dan kangen, saya katakan, “Oh, tidak bu!”. Dan setelah ia menanyakan kabar saya dan sedang dimana, ia pun bercerita bahwa kakaknya di kota kecil yang lain meminta saya memberikan training motivasi bagi sekolahnya.

“Sekolah kakak saya baru ditata oleh kakak saya, baik sarana dan yang lainnya. Jadi harus extra segalanya. Mohon bantuannya ya Mas Agung”. Dan tak berapa lama, kakaknya pun ngebel dan bercerita ini itu. Ia minta saya memotivasi guru-gurunya yang sudah cukup berumur dan perlu penyegaran. Lalu saya katakan, “Saya tak bisa memotivasi dengan baik, benar dan efektif Pak, kalau saya tak tahu sepersih apa kebutuhan bapak, guru-guru dan sekolah bapak. Jangan-jangan saya kasih anggur, tapi bapak sebenarnya membutuhkan apel. Ngak match ‘kan Pak?”, jelas saya kepadanya. Alhamdulillah ia pun memahami dengan sepenuhnya analogi saya.

Lalu, ia pun cerita sekolahnya dan rencananya, juga ketertarikannya dengan materi dan tulisan-tulisan saya mengenai pembelajaran. Ia ingin sekali mengundang saya ke sekolahnya.

Agar segalanya lebih terang, lalu saya katakan, “Lebih baik saya bertemu dulu dengan Bapak, dan kita protret kebutuhan spesifik Bapak itu seperti apa”. Jawabnya, “Baik kalau gitu, saya akan berkoordinasi dulu dan Insya Allah nanti akan saya hubungi lagi nanti”.

Kemudian, saya pun berinisiatif memberi sedikit 1nspirAction & sejumlah tips via SMS.

“Selalu saja ada satu cara yang lebih baik, dan lebih baik lagi dengan BERBAGI. Apa dan bagaimana dengan HAI Edumain, bisa diakses di https://agungmsg.wordpress.com”.

Sebenarnya, pekerjaan rumah kita ini adalah : bagaimana membangun organisasi pembelajar yang unggul, termotivasi dan prestatif serta terinspirasi lebih tinggi dalam suasana yang menyenangkan, menantang dan islami? Kuncinya set-up dengan standar / target yang tinggi sejak awal dengan High Speed Management.

High speed management sendiri pernah saya terapkan dan berhasil sangat sukses saat saya jadi Store Manager dulu di sebuah outlet jaringan ritel fashion nasional di Jakarta Pusat, dimana karyawan-karyawan saya adalah karyawan buangan. Buangan dari orang-orang yang tidak perform, dan benar-benar tidak diinginkan. Namun dua tahun kemudian, toko saya jadi juara #1 produktivitas nasional. Sementara juara keduanya sendiri hanya bernilai ¼ dari perolehan produktivitas toko saya waktu itu. Sebuah prestasi yang fenomenal setidaknya bagi saya pribadi.

Rahasianya? Selain butuh visi, misi dan prinsip-prinsip kerja (filosofi kerja) yang jelas, juga butuh proses (waktu), fokus, disiplin, proses kerja akseleratif dengan suasana yang menyenangkan dan menantang, serta terspiritualisasi dengan kental. Bukan lipstik spiritual!

Waktu itu, saya buka bank ide dan inovasi. Bagi yang mau ngasih ide dan saran, saya sediakan 7 clip folder yang berbeda sesuai bagiannya (mulai front end, layanan pelanggan hingga support  back office) dengan kertas kosong yang siap diisi kapan saja dan oleh siapa saja bagi yang punya ide kecil apa saja yang bisa langsung dieksekusi untuk mutu, proses dan hasil kerja yang lebih bagus. Roh CANI – Constant And Never-ending Improvement atau Kaizen, jadi prioritas kerja saya. Plus meeting pagi harian, meeting senin dan meeting untuk review bulanan. Juga outdoor training di halaman rumah saya bagi seluruh karyawan saya, agar mereka bisa mengenal saya sebagai pimpinan mereka lebih akrab, humanis dan apa adanya.

Berangkat dari pengalaman itu, pola ini ternyata bisa diterapkan di berbagai sekolah dan kampus. Hanya aspek atau bidang garapan dan konteksnya saja yang sedikit berbeda. Roh dan semangatnya tetaplah sama! Memulai dari akhir, perbaiki proses, sempurnakan ikhtiar dan libatkan tangan Tuhan sebanyak mungkin melalui do’a-do’a kita. Ya, sesederhana itu!

Jadi, ingat : motivasi bukanlah segalanya untuk perbaikan sebuah sekolah. Dengan kata lain, motivasi saja, tidaklah cukup. Harus ada leadership yang visioner, inovasi system yang terukur dan terus mem-benchmark pada praktisi sukses, serta memberi keteladanan dalam aksi-program yang membumi.

Tak diduga, ibu guru yang sering ‘mengintip’ workshop dan outdoor training saya ini pun meng-sms lagi, “Jazakallah… Saya selalu bermimpi semua itu untuk sekolah saya, tapi mungkin masih proses. Untuk sekolah kakak mudah-mudahan bisa digarap walaupun banyak keterbatasan”

“Maaf bu, saya mah prihatin, sebenarnya banyak tawaran dari alumni-alumni sekolah ibu sendiri yang tulus dan sungguh-sungguh mau memajukan sekolah ibu, namun kurang direspon dengan baik dan apresiatif oleh pihak sekolah. Alhasil, mereka kini malah beralih mau membantu sekolah tetangga ibu. Mereka sudah mau merintis dan bahkan telah ada penjajagan serius dengan guru pembinanya. Gratis, dan dalam waktu dekat akan action !. Oh ya, disinyalir sekolah ibu itu agak feodal, kurang transparan, banyak kepentingan tersembunyi, dan pernah ada guru yang bilang, maaf… diduga ada praktek korup!”

Ya say amah saleresna hayang ‘ceurik’, nalangsa, mas… Atuh kedah kumaha da teu tiasa naon-naon. Bati cape hate” (“Ya saya mah sebetulnya ingin menangis, nelangsa, mas… Aduh harus bagaimana ya ngak bisa apa-apa-apa, Hanya kesel aja”).

“Ya, dengan kekuatan sabar kita mah melakukan sejauh rentang yang bisa kita lakukan saja ya bu… Dan jangan bosan-bosan berdoa kepada Yang Maha Membolak-balikan Hati ini. Semoga. Amin”.

Tangtos mas.. Pidu’ana wae.. buat saya sekolah saya rumah kedua saya, nya wayahna satekahpolah usaha, sanaos mung ngan dina hate ku du’a.. Sanaos rasa ‘lelah’ mah ada” (“Tentu saja mas.. Do’anya aja.. buat saya. Sekolah saya rumah kedua saya, ya terpaksalah segala daya upaya, meskipun begitulah adanya. Hanya saja dalam hati saya tetap berdoa, walaupun rasa ‘lelah’ mah masih saja ada..).

“Bu, Rasulullah berpesan agar kita “mencintai dan membenci orang seperlunya saja” (HR Tarmidzi), agar kita tidak menangis, nelangsa, lelah hati dan merasa putus asa. Juga agar kita tidak membuang waktu dan energi yang tak perlu. Hanya kepada Allah kita kembali”.

”Nuhun mas diemutan…” (”Terimakasih mas diingatkan…”).

Satu Tanggapan

  1. Cintai & Bencilah Seperlunya Saja!,,
    jangan terlalu berlebihan,,..
    terimakasih postingannya,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: