Otak-(Akhlak+Watak)=Kekerasan

stop-kekerasanKekerasan di lingkungan pendidikan (sekolah & kampus), masih saja sering terjadi. Baik itu yang dilakukan antar siswa maupun oleh guru bahkan pimpinan sekolah. Ironisnya, tren kekerasan ini disinyalir sejumlah riset di sekolah terus mengalami peningkatan. Dan akhirnya, kini banyak di temukan tindakan kekerasan di lingkungan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di negeri ini.

Dari sesama siswa dapat berupa perpeloncoan, pemalakan, pemerasan, “penataran” hingga penganiyaan (bullying) dari siswa senior kepada juniornya. Bahkan di sejumlah kasus, si junior dipaksa adu jotos dan bergulat oleh seniornya di sebuah lapang. Penyebabnya biasanya sepele, mulai dari masalah parkir, terlambat masuk mengikuti upacara bendera, tidak mengerjakan tugas, harus memberi hormat kepada senior (menyapa, mengangguk sampai hormat ala militer), atau karena saling ejek saat pertandingan olahraga di sekolah.

Mengapa semua itu bisa terjadi? Banyak faktor yang mempengaruhi :

Pertama, pada dasarnya pelaku adalah korban kekerasan. Baik karena kekerasan di lingkungan rumah tangga, pada masa kecil, juga pada masa sebelumnya sehingga dia menyimpan dendam untuk melampiaskannya.

Kedua, faktor lingkungan dan budaya juga turut mempengaruhi terjadinya tindakan kekerasan. Seperti kebiasaan orang tua yang mencubit, menjewer, membentak dan memukul anak untuk mendisiplinkan anaknya.

Ketiga, lemahnya penanaman nilai-nilai kecerdasan emosional, social maupun spiritual.

Keempat, tuntutan yang berlebihan dari orang tua agar anaknya berprestasi di sekolah, dimana orang tua lebih mengejar ranking, dan nilai akademik sekolah anak namun lupa mengembangkan sisi-sisi kecerdasan lainnya.

Kelima, kurangnya ruang ekspresi bagi siswa kerena pelajaran olahraga, kesenian, pendidikan agama, pengembangan karakter dan kepemimpinan yang lemah, minor dan asal-asalan tak terintegrasi.

Keenam, pengaruh media massa (khususnya TV) yang mengorientasikan bahwa penyelesaian masalah bisa dilakukan dengan menunjukkan kekuatan fisik, atribut, pengaruh dan eskpresi emosi yang liar. Tontotan media yang mengskploitasi kekerasan akan menimbulkan keinginan mengimitasi apa yang dilihat dan dirasakan di lingkungannya.

Dan ketujuh, penegakan disiplin di sekolah yang tak tegas dan konsisten.

Kini saatnya pendidikan “otak kanan” lebih diperhatikan, dan tidak terlampau miring dan mengkultuskan pendidikan “otak kiri”.

Selain memberikan pendidikan dan pengajaran watak dan akhlak, selain otak, kita pun perlu mempertegas code of conduct (COC) atau peraturan dan tatatertib sekolah. Antara lain dengan selalu meng-update COC / peraturan dan tatatertib sekolah ini setidaknya dua tahun sekali dengan melibatkan orang perwakilan siswa terpilih, orang tua siswa, guru pembimbing dan komite sekolah.

 

Jangan lagi ada daftar panjang sejarah kelam kekerasan dalam pendidikan, selain yang pernah terjadi di Jakarta, Palu, Gorontalo, Jombang, Tulungagung, Cimahi dan Papua Barat. Hentikan kekerasan, utamakan keteladanan!

Dengan mengisi otak, watak dan akhlak secara bijak, pretasi siswa pasti hebat!

Satu Tanggapan

  1. Otak-(Akhlak+Watak)=Kekerasan,,,
    semoga aku salah satu siswa hebat itu
    amiin..
    he”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: