Aura Pribadi Bersahaja

Pernahkah Anda saat ketemu seseorang, maka seketika itu pula kita ini merasa hangat, dekat, dan enak? Ia begitu welcoming dan diri kita pun merasa lepas, apa adanya? Tak ada basa-basi, tak ada ungkapan pelembut eufemisme, atau kepura-puraan…

Ya, rasanya saat itu kita benar-benar merasa diri kita ini menjadi penting adanya: berarti, dirindukan, dan sekaligus dibutuhkan!

Mungkin sebagian orang akan merasa, ”Ah itu ’kan saat kita jatuh cinta dan pacaran saja!”. Atau mungkin, sebagian besar justru kita temukan pada sahabat sejati kita.

Apa pun itu, profil pacar, profil sahabat atau pun teman lama yang sudah lama tidak ketemu, rasanya akan membuat kita merasakan semua sensasi perasaan seperti itu. Saat bicara pun kita cenderung ceplas-ceplos tanpa saringan, penuh humor, lupa waktu atau kurang waktu karena menariknya hal-hal yang kita bicarakan, dan serasa hidup ini lebih hidup.

Tantangannya sekarang, dengan seiringnya usia, kebutuhan dan tantangan kedepan, adakah orang-orang yang seperti itu dalam pergaulan kita sehari-hari? Seberapa sering kita ketemu dengan orang itu? Tak hanya obrolan hangat yang penuh humor, mengisi waktu dan untuk bersenang-senang saja, namun apakah orang tersebut secara konstruktif mengasah ketajaman analisis kita dan berorientasi pada solusi masalah diri kita atau sebuah aktivitas-bersama yang saling menumbuh-kembangkan aktualisasi diri kita?

Apakah juga orang itu turut membawa kita pada sebuah peluang perbaikan kualitas hidup dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kesyukuran diri?

Kalau pun kita menemukannya, apakah orang itu masih intens tulus berbagi bersama kita?

Sepanjang pengalaman saya bergaul dengan berbagai karakter, latar berlakang dan beragam profesi, orang-orang seperti ini hanya kita temukan pada orang-orang yang hidupnya bersahaja, sederhana, apa adanya, dan menikmati apa pun yang sedang ia kerjakan sambil mensyukurinya.

Sepertinya, mengharapkan adanya sosok pribadi yang ideal saja tidaklah bijaksana, malah bisa-bisa kita sendiri yang bisa kecewa. Adalah lebih cantik dan arif, bila kita sendiri memulainya untuk menjadikan diri kita sebagaimana kita mengingingkan pribadi yang ”ideal” bagi diri kita. Dan memelihara persabatan yang sudah kita punya untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang. Itu saja. Dan sesederhana itu.

3 Tanggapan

  1. Ass… mas apa kabar?
    Hmmmhh,,.. membaca tulisan ini jadi kangen pulang, ngumpul lagi sama temen2 HAI EDUMAIN, bercanda ngalor ngidul, celetak celetuk, tapi tetap dalam rangka….

    Kika juga katanya kangen sama Kak Agi yang lagi pake baju merah hehehehe

  2. Aswrwb.

    Hai Pus, kabar baik juga kan? Aduh, udah senakal apa nih adik Agi ini? Kirim-kirim lagi ya foto-2 Kika.

    Oh ya, foto Kika masih nampang lho di studio toko buku. Tambah cantik kayaknya sekarang. Salam juga ya buat ayahnya Kika. Kalo ke Cianjur, mampir dan kita bisa ngaliwet bersama…

    Salam,
    Agung – Yulia – Agia – Syafa

  3. Aura Pribadi Bersahaja,,,
    artikel yang menarik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: