Zona Larangan Merokok di Sekolah

Sabtu siang minggu kemarin, saya jemput anak saya ke sekolah. Dari sana, rencananya kami berdua akan langsung ke Enin – panggilan sayang anak saya kepada neneknya – di Salaeurih. Ternyata, anak saya belum pulang dan masih di kelas. Ah, daripada baca surat kabar atau buku yang saya pegang, mending saya silaturahmi dan berbagi ama Kepsek.

Eh… ada tamu rupanya. Saya pun jadi mundur, dan memilih baca buku kecil yang saya baca. Tapi, sebelum saya mundur.. saya heran, koq tamunya merokok ya… di lingkungan sekolah lagi! Saya tak tahu apakah rokok itu sudah diisap begitu lama saat ia bertamu atau baru saja ia isap, yang pasti saya paling tidak suka melihat orang yang merokok di lingkungan sekolah. Saya pun tak tahu, apakah Bapak Kepala Sekolah juga meminta tamu tersebut mematikan rokoknya atau tidak? Saya keburu pulang waktu itu, karena saya keasyikan membaca dan ternyata anak saya sudah pulang duluan dan menunggu di mobil jemputan.

Kekhawatira saya ini, saya kira tidaklah berlebihan. Apalagi setelah kejadian ini, saya baca berita di Koran Tempo tanggal 12 Pebruari 2009. Isinya, hasil sebuah penelitian pada tahun 2001 – 2004 menyebutkan, iklan rokok menyebabkan keinginan anak-anak usia 5 – 9 tahun untuk merokok meningkat hingga 400%. Sementara di Indonesia saja, ada sekitar 25% anak yang merokok. Sebesar 3,2% diantaranya sebagai perokok aktif yang telah kecanduan (Koran Tempo, 12/02/09).

Jadi, bila dari iklan rokok saja dampaknya begitu besar, bagaimana kalau mereka sendiri melihat langsung ada orang yang merokok di lingkungan sekolahnya sendiri?

Aduh… Saya pengen buru-buru ke sekolah, menemui kepala sekolahnya dan meminta komitmennya untuk melarang keras siapa pun yang merokok di dalam lingkungan kelas dan selama jam belajar-mengajar.

Insya Allah, beliau akan bisa menerima harapan saya dan memahami sepenuhnya.

Masalahnya sekarang, bagaimana cara menciptakan agar lingkungan sekolah bebas rokok. Setidaknya, ada 8 lapis pengamanan Zona Larangan Merokok di Sekolah.

#1. Keteladanan dan komitmen Kepada Sekolah.

#2. Peran dan ketegasan Security untuk selalu mengingatkan tamu yang masuk sambil merokok, atau saat petugas Security keliling area sekolah.

#3. Guru piket.

#4. Tidak disediakannya pot rokok di sekolah.

#5. Doktrin guru BP kepada semua siswa bahwa merokok itu dilarang keras.

#6. Kesepatakan semua dewan guru untuk melarang adanya aktivitas merokok di lingkungan sekolah.

#7. Kepedulian semua karyawan sekolah, petugas perpustakaan dan pedagang kantin di lingkungan sekolah untuk menegakkan larangan merokok di lingkungan sekolah.

#8. Poster larangan merokok yang ditempatkan di kantin, kantor, ruang guru, aula, ruang rapat, toilet dan kantin sekolah.

Kalau saja masih ada yang merokok, kita jadi tahu lapisan pengaman yang mana yang lemah. Begitu saja. Mudah koq untuk menegakkan Zona Larangan Merokok di Sekolah.

4 Tanggapan

  1. harusnya merokok itu di larang di mana mana bukan di sekolah saja

  2. Bener setuju Randy, idealnya memang begitu. Hanya saja semua itu akan efektif bila dimulai di sekolah dan di lingkungan terkecil kita..

  3. mw tau ajh

  4. Zona Larangan Merokok di Sekolah,,
    harusnya juga tak boleh ada yang merokok,,
    karena asap rokoknya itu yang mengakibatkan siapapun yang menghisap/terhisap
    akan batuk-batuk jadi sebaiknya
    di kurangi saja agar tidak merokok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: