Makanan yang tersisa

Semalam, sehabis ikut seminar Leadership in Crisis yang dibawakan oleh Rhenald Kasali, PhD di Hotel Imperial Aryaduta Lippo Village, saya makan malam bersama. Sajiannya seperti biasa, khas pesta bintang-5 : beragam dan mengundang selera.

Saya ambil es dengan beragam isi sebagai pembuka menu makan malam. Kemudian dilanjut dengan sepisin kecil potongan buah semangka merah dan melon. Sehabis itu, baru dah makan malam. Enak juga, dan alhamdulillah habis. Nambah? Rasanya sih pengen, tapi sudahlah.. Kasihan perut ini. Karena 1/3 untuk makan, 1/3 untuk air dan 1/3 untuk minum.

Sayang di hadapan meja bundar saya, ada 5 piring yang tersisa cukup banyak. Saya pun tergoda meminta mereka menghabiskannya. “Aduh sayang nih kalau tak habis. Kalau kelihatan nenek saya, pasti kalian dimarahin” kata saya  sedikit bercanda. Dan sudah bisa ditebak, mereka pun punya beragam alasan. Ada yang bilang, ”Aduh takut nih, banyak lemaknya…”, ”Udah ah, ntar asam urat lagi”, juga  ada yang bilang.. ”Makasih dah, perut saya udah kekenyangan ..”, dan sejumlah alasan lainnya.

Kalau ingat almarhum nenek dulu, maka setiap butir beras yang ada piring saya itu harus habis alias dihabiskan. Tak peduli saya kenyang atau malas karena kehilangan selera, atau juga karena terlalu banyak mengambilnya. Nenek bilang, coba lihat bagaimana petani menanam, menjaga dan memproses setiap butir beras itu hingga sampai di dapur kita. Pamali (dosa), katanya.

Nenek pun cerita, butir-butir nasi yang tidak kita makan itu kelak akan bertanya pada kita, kenapa ia tidak dimakan dan dibuang?

Coba juga kita lihat kisah nyata Jika Aku Menjadi di TransTV yang ditayangkan sejak November 2007, betapa setiap sen rupiah itu sangatlah berarti. Ada satu keluarga yang makan hanya sekali, ada yang makan amat sangat sederhana. Yang penting mereka makan. Dan tidaklah heran, setiap ”bintang” yang ikut terlibat disana, seringkali mereka makan sambil menangis. Merasakan, betapa jauh berbedanya ia saat makan yang jauh dari menu 4 sehat 5 sempurna dibandingkan dengan apa yang harus mereka makan kini bersama keluarga kaum dhuafa.

Pada sebuah episode, Sang Bintang sempat muntah dan menangis saat makan makanan basi yang digoreng kembali untuk dimakan.

Lalu, bagaimana dengan menu makanan kita sehari-hari makan? Kita tidak pernah berpikir berapa kali kita makan. Kita pun tak jarang bingung, mau makan apa ya? Tapi tak jarang kita juga bingung makan di mana, atau makan dengan siapa?

Kembali soal makan, mari kita makan dengan sederhana dan mensyukurinya. Cara sederhana untuk menyukuri makan adalah dengan cara menghabiskan apa yang kita ambil untuk makan, dan tidak ada lagi makanan yang tersisa.

Ironisnya, baru saja mengikuti seminar bergengsi Leadership in Crisis, bagaimana mereka mengapresiasi dan meningkatkan sense of crisis untuk mengurus organisasi yang lebih besar, bila untuk mengelola nafsu diri saat makan saja mereka tak peka. Sepertinya mereka “kehilangan kendali diri” dengan menyianyiakan rezeki makan malam.

Ya Allah, maafkanlah mereka. Mungkin mereka lupa atau khilaf dengan pesan-Mu.. ”Janganlah kamu menghambur-hamburkan… Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”.

Satu Tanggapan

  1. sungguh di sayangkan bila
    ada makanan yang tersisa,,
    & akhirnya jadi mubazir..
    mari kita makan dengan sederhana dan mensyukurinya. Cara sederhana untuk menyukuri makan adalah dengan cara menghabiskan apa yang kita ambil untuk makan, dan tidak ada lagi makanan yang tersisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: