Menari Diatas Gelombang

Pernahkah kita dalam waktu rentang yang cukup lama selalu memberikan respek yang mendalam, rasa hormat, dan pada akhirnya membuat kita memahami atas apa yang disampaikan seseorang dengan tulus, sungguh-sungguh, dan dalam suasana hati yang nyaman?

Bila kita berkata ya, berarti kita termasuk orang-orang beruntung menemukan sosok leader sejati seperti ini. Bila berkata tidak, bisa jadi kita ini kurang peka dengan apa yang kita lakukan selama ini.

Lalu, kita pun mungkin akan bertanya darimana sumber respek itu muncul? Banyak teori dan kemungkinan, mengapa kita bisa lebih respek pada seseorang namun kurang respek ke orang lain.

Belajar dari training leadership dari Pak Swasono Satyo, saya tertarik pada sebuah slide presentasi yang memberikan inpirasi dan pencerahan hingga kini, yaitu tentang sumber wibawa. Bagi orang lain, slide ini mungkin biasa, namun bagi saya pribadi ini ruarbiasa untuk dimaknai kembali. “Sumber wibawa” istilah Pak Satyo, atau sumber respek itu, setidaknya ada tujuh.

Pertama, keahlian (expert power). Pada saat sebuah pekerjaan diberikan bukan pada ahlinya, maka siap-siaplah “ketidakstabilan” atau kemunduran akan terjadi. Untuk itu, berikanlah pekerjaan penting dan strategis pada ahlinya, atau minimal pada orang yang sibuk. Karena biasanya orang yang sibuk itu setidaknya cukup produktif dan bisa dipercaya, dibandingkan dengan orang yang kurang kerjaan (hm… ya, iyalah…).

Kedua, keunggulan informasi (information power). Informasi yang update, terkini, aktual, tajam dan terpercaya, tentu akan lebih berarti dibandingkan hanya sejumlah informasi yang belum terkemas sesuai kebutuhan organisasi. Namun informasi itu hanya sesuatu, dan harus didukung dengan kecepatan dan jaringan.

Sumber respek yang ketiga, adalah keteladanan. Untuk soal ini sih, rasanya sudah amat sangat jelas. Seseorang bisa teriak ini itu, harus begini-begitu, tidak boleh ini dan tidak boleh itu, namun bila ia sendiri tak memberikan keteladanan, maka kepemimpinannya tak akan memberikan pengaruh signifikan untuk hasil terbaik jangka panjang.

Keteladanan itu luas. Keteladanan dalam pola pikir dan mindset. Keteladanan dalam mengarahkan sesuai konsep terbaru dan relevan dengan bisnis inti. Keteladanan dalam menegakkan aturan dan disiplin; punya integritas dalam mengelola keuangan dan fasilitas perusahaan; mampu mengelola perbedaan dengan bijak sesuai budaya kerja yang sehat; serta mengedepankan dialog dari hati ke hati daripada pendekatan kekuasaan.

Ketiga sumber respek diatas khususnya dalam mencermati dan mensikapi krisis sekarang ini, selayaknya lebih dapat kita prioritaskan dari sumber respek yang lainnya.

Sumber respek yang keempat hingga ketujuh berturut turut adalah pengangkatan (legitimate power), hukuman (coercive power), hadiah (reward power) dan koneksitas (connection power).

Dalam masa krisis sekarang ini, bisa jadi pengakatan untuk sementara ditunda atau dilakukan sangat selektif. Begitu pula dengan hadiah (atau pun bonus), bisa jadi diberikan terbatas atau tidak diberikan samasekali mengingat efisiensi yang harus dilakukan perusahaan.

Khusus untuk hukuman, sepertinya harus dihitung terlebih dahulu kadar masalah dan luasannya. Hukuman diberikan harus dalam konteks pembinaan, bukan karena kepentingan tersembunyi, suka atau tidak suka, atau mungkin karena masalah dendam pribadi. Hukuman yang tidak diberikan dengan tepat, malah akan menimbulkan demotivasi dan bisa jadi, anak buah yang sudah ahli bisa kabur keluar atau lari ke kompetitor. Jadi, berikanlah hukuman yang mendidik dan memastikan anak buah bisa menerima dengan benar dan masuk akal. Untuk kepentingan dirinya, juga untuk kepentingan organisasi/perusahaan.

Nah, terakhir… sumber respek bisa timbul karena koneksitas. Sayang, bila koneksitas ini hanya mengandalkan pada orang yang kita kenal saja atau selalu keatas saja, atau beraninya hanya kebawah saja, namun tidak dikembangkan pada jajaran kolega yang berada di kiri dan kanan secara horizontal. Senyatanya, staf ahli yang berpengalaman lebih banyak ada di tataran kolega horizontal. Karena mereka ini punya konsepnya, dan juga cukup banyak tahu kondisi di lapangan.

Nilai tambah dari sumber respek ini, akan lebih bagus bila kita sering turun ke bawah, memahami kebutuhan tataran operasional dan terus mengasah kemampuan intuisi lapangan kita.

Terakhir, Rhenald Kasali pernah berpesan saat memberikan seminar Leadership in Crisis di Arya Duta, Kamis sore (19/02/09) kemarin. Beliau memberikan titah :

“Miliki intuisi lapangan, karena krisis itu real. Bisa dilihat sebagai ancaman, bisa juga dimanfaatkan sebagai peluang. Uniknya, krisis hanya muncul di masa pancaroba, dan hanya menyerang pada ‘tubuh’ yang lemah”

Krisis bisa juga dilihat sebagai warna kehidupan yang hanya bisa bermanfaat bila kita melihatnya sebagai peluang, bukan ancaman. Takut haram, cemas jangan. Khawatir boleh, namun lebih baik waspada saja menjalannya.

Dengan memiliki keahlian, informasi dan keteladanan, serta koneksitas yang luas ke segala arah dan belajar banyak dari orang lapangan sehingga intuisi lapangan kita terarah, insya Allah kita mampu berenang dan bahkan menari diatas gelombang.

3 Tanggapan

  1. Dlm menghadapi krisis yg kita butuhkan sesungguhnya bukan hanya “menyesuaikan diri” kita dg krisis itu. Jadi seluruh keahlian, informasi, dan akal kita harusnya dipergunakan utk menghentikan sekaligus melakukan perubahan mendasar thd akar masalah dr krisis itu. Maka bila kita mau menggunakan akal kita maka kita akan menemukan bhw pangkal sgl pangkal penyebab krisi ini adl diterapkannya sistem kehidupan yg rusak, yaitu sistem kehidupan yg dibangun di atas landasan kompromi dari hawa nafsu manusia. Padahal bila kita mau sedikit saja menggunakan akal kita tentunya dg mudah kita akan mampu mendapati bhw kita hrs kembali kpd sistem yg diturunkan Allah (Islam). Bagmn mungkin kita telah mendpt informsi ttg al Quran tapi kita malah tunduk dg UU manusia ? Ini yg harus diperjuangkan dg sungguh-2 agar keluar dari krisis bersama umat (bukan sendiri). Walhasil kita tdk hanya menari di atas gelombang tetapi kita akan mengendalikan gelombang dg syariah. Insya Allah tdk akan ada krisis bila syariah diterapkan.

    Maka benarlah apa yg difirmankan Allah SWT dlm QS Thaaha : 124 yg artinya:

    “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

    Jadi kehidupan yg sempit (krisis) ini akibat dari manusia berpaling dr hukum-2 Allah.
    wallahu’alam

  2. Hm… bagus!
    Kembali ke inti : Islam, Syariah & Khilafah !
    Trims ya saudaraku…

  3. sungguh judul yang menarik,,:
    Menari Diatas Gelombang,,
    beda dengan yang lainnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: