Pecel Solo Omah Ndeso

Makan di sebuah hotel adalah juga makan sebagaimana di hotel-hotel lainnya. Enak, banyak pilihan, modern dan memanjakan selera.

Namun bila berbicara mengenai kenikmatan, ah itu lain lagi ceritanya. Ya, bahkan tak jarang sepertinya tak ada nilai sensasi buat lidah ini. Juga saat saya mengundang makan pagi seorang sahabat di hotel Sunan Solo tempat saya menginap sejak Selasa sore hingga Jumat pagi minggu lalu.

Yang uenak saya rasakan adalah makan pagi bersamanya, bukan makanannya itu sendiri. Kami cerita tentang pekerjaan, krisis kepercayaan masyarakat menjelang pemilu ini, hingga bagaimana kita mensikapi tuntutan manajemen kedepan agar tetap bisa eksis dan berkembang.

Namun di lidah ini tak ada sensasi. Mungkin saja karena di kepala ini sudah terbebani untuk melakukan dan menyelesaikan itu dan ini pekerjaan hari ini. Atau juga, di kepala ini sudah tertanam kuat, “ah paling-paling makanannya yang itu lagi itu lagi…”.

Makan pagi di hotel berbintang, rasanya akan jauh lebih ternikmati dan mengesankan bila kita memilih dan mendapatkan makan pagi di tempat yang lebih etnik, lebih bersahaja dan lebih sederhana. Padahal, di seberang sana di depan hotel 2 tukang becak yang sedang menanti mungkin sedang bertanya : “Saya bisa makan berapa kali ya hari ini?”. Atau, “apakah saya bisa membawa uang untuk beli nasi bagi keluarga saya hari ini?”. Kalau sudah ingat begini, seringkali kita malu sendiri, ternyata untuk bisa pandai bersyukur dan tidak berkeluh kesah itu tak selamnya mudah. Kadang sadar, kadang tak sadar. Padahal Allah tak menyempurnakan nikmat-Nya pada kita. Ya, kita sendiri yang tak sempurna mensikapi nikmat dan karunia-Nya yang selalu melimpah setiap hari sepanjang hidup kita.

Oh ya, makan yang terasa benar-benar makan selama di Solo justru saat saya diajak Pak Wi malam Jumat ke Galabo (Gladak Langen Bogan Solo). Puluhan makanan khas kota Solo ada di sini. Kita bisa makan di trotoar atau di tudungan tengah jalan. Romantis, memanjakan lidah dan… murah ! Saya dan Pak Wi pilih ceker ayam, dan alhamdulillah : kenyang.

Disini kita makan dengan tenang. Iringan musik terus mengalun. Tak ada gangguan pengamen yang biasanya di kota lain hilir mudik bergantian. Katanya, pengamen dilarang masuk kawasan ini!

Untuk makan siang, kita bisa makan di waroeng tempo doeloe Pecel Solo di Jalan Dr. Soepomo daerah pasar beling – mangkubumen Solo. Suasananya solo banget, sangat etnik. Meja kursinya terbuat dari kursi baheula tanpa paku, hiasan klenengan sapi di pintu utama, musik gending jawa, dan beragam makanan khas jawa yang sangat mengundang selera. Yang bikin ngiler, beragam lalaban ada di sini. Ah, ini kesempatan untuk memperbanyak makan sehat dengan serat. Lalu saya pilih menu Pecel Ndeso Beras Putih (juga tersedia Beras Abang) dan minuman Jahe Pandan Gulo Jowo. Dengan 3 porsi bersama 2 teman plus 3 minuman berbeda, kita hanya bayar 49.500,-. Cukup murah.

Ah, lain kali saya akan pilih Nasi Rawon Solo atau Krengsengan…

Terimakasih Pak Wi, sudah mengajak ke dua tempat yang mengesankan lidah ini. Siapa pun yang ke Solo, pasti saya akan merekomendasikan untuk bisa mencicipi suasana dan citarasa di dua tempat ini.

Namun saat suapan terakhir di piring saya, untuk beberapa saat saya terdiam. Terbesit ibu dan sang kekasih yang kini di rumah tengah menanti : kapan ya istri saya akan saya ajak kesini? Kapan ya, saya ajak Ibunda ke tempat eksotik ini? Sungguh, bagi saya, kenikmatan sejati adalah saat kita tengah berbahagia dan bisa berbagi dengan sang kekasih… dan ibu terkasih…

Satu Tanggapan

  1. semoga sukses….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: