Tegar, dan Tersenyumlah Bu Prita…

Ass.wr.wb.

Bu Prita, mohon maaf bila saya baru kirim surat (terbuka) ini kepada Ibu. Sungguh, saya selalu mengikuti apa yang ibu alami sejak awal, terutama saat ibu masuk penjara. Apa yang ibu rasakan, dirasakan juga oleh saya dan istri saya, meski mungkin tidak seberat dan sepersis yang ibu rasakan. Ini juga cara saya untuk mendukung ibu secara nyata, meski saya tidak tahu apakah ibu akan membaca surat ini atau tidak? Ya minimal, saya ingin meringankan hati dan pikiran ini untuk berbagi sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya.

Saya pun sangat terharu dan berkaca-kaca, saat ibu mencium tanah sesaat setelah ibu keluar dari penjara…

Saya menduga, dalam kasus ini ada hak-hak ibu sebagai pasien telah diabaikan oleh dokter dan rumah sakit. Saya pun menduga, ada kesenjangan pelayanan antara ibu dengan dokter dan rumah sakit. Dan lagi-lagi saya pun menduga, ibu sejak awal tidak ditempatkan dalam posisi yang sejajar sebagaimana layaknya pelayanan profesional antara pasien dengan dokter dan rumah sakit. Padahal kan mereka belabel internasional ya…

Hehehe… internasional itu untuk apanya ya….? Apa mereka juga sudah memastikan telah mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan berstandar internasional dalam melayani pasien?

Dan lagian, saya pun menduga, mungkin sejak awal ibu tidak mendapat informasi yang cukup tentang kondisi kesehatan ibu. Ah, saya pun sebagai orang awam jadi menduga-duga : adakah dugaan malpraktek dalam kasus ibu? Atau mungkin dokter telah bersikap otoriter dan tidak transparan terhadap ibu sebagai pasien yang berhak memperoleh data hasil pemeriksaan?

Sebenarnya itu mengarah pada layanan yang tidak professional atau malpraktik sih? Atau telah adanya dugaan pelanggaran disiplin kedokteran oleh dokter-dokter yang telah merawat ibu?

Bu Prita, ibu pasti setuju dengan saya. Bila dokter dan rumah sakit sepenuhnya berorientasi pada kepentingan dan kepuasan ibu sebagai pasien, serta mutu dan kualitas layanan sebagai acuan, juga bila etika kedokteran ditegakkan untuk memperlakukan dan memberikan hak-hak ibu sebagai pasien sepenuhnya, kayaknya sih bu, kasus yang ibu alami itu tidak perlu terjadi.

Saya sangat memahami, karena saya yakin waktu itu ibu tidak tahu harus mengadu kemana lagi masalah ibu sehingga ibu menulis email sebagaimana adanya, sebagaimana persepsi yang ibu tangkap. Kayaknya sih, bila itu terjadi pada diri saya, anak saya, istri saya, atau keluarga saya, saya pun akan melakukan hal yang sama persis seperti yang ibu lakukan : curhat dengan menulis ! Tapi, masak sih hanya gara-gara menulis email dan mengirimkannya hanya pada teman sendiri bisa jadi dipenjara?

Saya setuju banget dengan Pak Wicaksono – wartawan Tempo – yang berprinsip, bahwa setiap informasi yang disampaikan melalui internet selama hanya disebarkan dalam ruang lingkup pribadi, seharusnya tidak bisa dituntut. Padahal batasan ruang lingkup pribadi itu sendiri hingga kini masih belumlah jelas alias abu-abu. Jadi perlu dijabarkan lebih terperinci dalam peraturan pemerintah.

Alhasil, Pak Wicaksono pun mengingatkan saya dalam tulisannya berjudul Hikmah 6 Juni lalu di Koran Tempo itu, bahwa saya pun harus mempelajari undang-undang yang mengatur aktivitas di ranah intenet, memahami etika berinternet, tidak melanggar hak orang lain, dan bersikap hati-hati agar terhindar dari jerat hukum.

Sungguh bu, kejadian yang ibu alami memberikan hikmah yang banyak bagi semua orang yang mengetahui kasus ini. Bahkan saya pun mengingatkan kepada semua orang di kantor saya dengan membuat tulisan di website saya www.Indonesia-Aman.Info tentang “10 Prinsip Utama Mengelola Keluhan”. Intinya, ekstra hati-hati dalam menangani keluhan, janganlah berlebihan. Karena bila prinsip ini tidak dilakukan, reputasi dan kredibilitas bisa jadi taruhan yang sangat mahal. Dan tentu saja, itu akan sangat merugikan bagi perusahaan! 

Tapi, yang sudah terjadi terjadilah. Tuhan punya cara tersendiri untuk memberikan hikmah dan pelajaran bagi umat-Nya. Insya Allah ujian ini akan meningkatkan derajat dan keimanan ibu dan keluarga ibu di mata-Nya. Amin…

Bu Prita, koq proses hukumnya panjang banget ya? Ibu diadukan ke Polda 5 September 2008, ditahan sejak 13 Mei 2009 dan sempat dipenjara 20 hari, karena 3 Juni 2009 status ibu diubah menjadi tahanan kota, dan syukur alhamdulillah hari ini status tahanan kota sudah dicabut oleh majelis hakim.

Kayaknya sih, karena desakan para petinggi juga ya bu? Karena kalau berdasarkan aspek kemanusiaan sih, menurut saya mah, ibu itu tak layak dan tak mempunyai alasan yang kuat untuk dipenjara. Kalau status tahanan kota itu karena permintaan ibu karena ibu masih punya dua anak yang masih kecil, kenapa tidak sejak awal ya ibu ditetapkan sebagai tahanan kota dan tidak ditahan di penjara selama itu? Iya kan, bu?

Kini, bila sekarang ibu akan menggugat balik secara perdata dan pidana karena ibu merasa telah dirugikan secara materil dan imateril dalam jumlah yang tak ternilai, itu sepenuhnya adalah hak ibu.

Bener nih serius, ibu mau menggugat 3 dokter rumah sakit itu yang diduga melakukan malpraktik? Juga melaporkan dugaan adanya isu suap terhadap jaksa oleh rumah sakit dengan iming-iming pemberian fasilitas pengobatan gratis di rumah sakit tersebut bagi para jaksa? Kalau indikasi ini kuat, KPK harus mengusut indikasi penerimaan suap (gratifikasi) oleh aparat hukum dalam kasus yang menimpa ibu ini. Adakah pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara itu bertentangan dengan tugas dan fungsinya?

Apa pun pilihan ibu, saya tetap mendukung ibu! UU No. 8 / 1999 tentang perlindungan konsumen sepenuhnya akan melindungi hak-hak ibu sebagai konsumen. Tapi, hanya Alllah Yang Maha Melindungi yang secara pasti dan total senantiasa melindungi ibu dan keluarga ibu.

Masak sih, mau berobat dan ingin cepat sehat, koq malah ke dijebloskan ke penjara?

Oh ya Bu Prita, maafkan saya ya bila saya banyak nanya ini itu ke ibu, padahal ibu begitu sibuk dan sangat sibuk menjawab pertanyaan ini itu dari keluarga, saudara, tetangga dan media massa yang bersimpati pada ibu. Saya banyak nanya karena saya ini bener-bener ngak ngerti bu. Dan nurani ini bener-bener terganggu. Koq bisa jadi sebegini parah ya kejadian ini?

Dan kini, saya pun jadi sibuk mencari-cari soal penambahan pasal-pasal yang dituduhkan dan didakwakan kepada ibu itu pasal apa dan isinya itu sepersis apa?

Dari berita-berita di media massa, katanya ibu didakwa melakukan penghinaan, melanggar pasal 27 ayat 3 dan pasal 45 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang oleh sebagian kalangan sangat dirasakan represif terhadap hak-hak kebebasan dasar. Konon pula ada indikasi pelanggaran HAM, hingga ada yang menuntut itu pasal direvisi. Atau semua itu karena dakwaan yang dibuat oleh jaksa yang tidak professional? Dan lagi, mengapa ya ada kesan jaksa terlalu bernafsu menahan ibu? Bisa jadi dakwaan jaksa itu kabur lho bu, dan tidak memenuhi unsur perkara. Eh, koq jadi kayak pengacara saja saya ini ya…

Soal penambahan pasal itu, apa sudah sesuai dengan teknis penuntutan, administrasi dan prosedur penahanan ibu? Dan lagian, bukankah kebebasan menyampaikan pendapat itu merupakan bagian dari hak asasi manusia yang tidak bisa dikurangi dalam keadaan apa pun? Satu lagi, apakah penahanan ibu sudah memenuhi faktor objektivitas dan subjektivitas? Kan ibu masih bunya 2 anak batita, kenapa ya itu tak dipertimbangkan? Saya pun tak menyalahkan bila ada sebagian orang yang menduga penerapan UU ITE ini dinilai penuh muatan pesanan. Ah, bener ngak sih? Insya Allah, proses hukum yang akan membuktikan semuanya itu.

Ah bu Prita, kalau udah ngomong pasal-pasal gini saya mah jadi merasa mumet, karena saya ini awam banget! Apa lagi ibu ya yang secara langsung mengalaminya. Tapi bu, mau tak mau, akan saya cari tuh apa sih isi ayat-ayat itu persisnya. Juga pasal 310 dan 311 yang konon berkaitan dengan masalah ini. Kalau tak salah berkaitan dengan masalah pencemaran nama baik ya bu?

Ya, saya sedih dan prihatin banget… hak kebebasan menyampaikan pendapat ibu sedang diadili…Pasal penghinaan dan pencemaran nama baik itu bagusnya sih dicabut dari sistem hukum kita. Udah aja, bagi yang merasa dihina atau dicemarkan nama baiknnya, gugat aja secara perdata, bukan pidana! Apa yang ibu sampaikan ‘kan hanya sebagai bentuk ketidakpuasan atas pelayanan rumah sakit itu, bukan pencemaran nama baik!

Pasal pencemaran nama baik Itu kan pasal yang dibuat orang Belanda, di jaman baheula pisan. Apa masih sesuai dengan konteks kekinian? Jangan-jangan akan ada banyak orang yang masuk penjara hanya karena menulis keluhan di email dan di surat pembaca. Makin penuh aja penjara nantinya.

Sungguh suwer bu, pasal ini banyak membikin orang tidak nyaman, karena pasal ini kata sebagian ahli hukum bisa dipanjang-pendekkan katanya. Ah, kayak karet aja ya bu…

Sebagai blogger, atau yang lebih tepat sebagai orang yang senang berbagi, kayaknya sih pasal-pasal yang dituduhkan ke ibu itu bisa disalahgunakan untuk membungkam sikap kritis masyarakat ‘kan bu? Apalagi layanan publik di bidang kesehatan di negeri ini masih banyak catatannya.

Tapi bu, sebagai orang awam juga, saya ingin nanya tuh : apa sih kriteria pencemaran nama baik itu? Apa sudah clear bin jelas kriterianya? Eh maaf bu, koq saya jadi nanya kriteria hukum ini ke ibu sih…

Tapi bu, bukankah PBB saja sudah menghimbau negara-negara yang menjadi anggotanya untuk menghapus atau mencabut delik-delik penghinaan pidana pencemaran nama baik dalam sistem hukum masing-masing? Soal yang ini, ibu tahu udah tahu kan?

Lalu apa sih bedanya mengeluarkan unek-unek, berbagi rasa, berbagi cerita dengan menghina, mengeluh, complain, protes, unjuk rasa, ngambek, mengkritik dan berbeda pendapat?

Kenapa ya mereka tidak melakukan pendekatan dan mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan dan kekeluargaan dengan komunikasi empatik untuk menyelesakan ini semua? Kan tidak perlu jadi repot-repot seperti sekarang ini kan bu?

Yang jelas, saat saya tahu ibu sudah siap mengikuti sidang saja, saya sudah senang. Berarti ibu benar-benar sudah tegar. Semoga semuanya berjalan dengan cepat, lancar, tuntas dan memenuhi rasa keadilan. Amin.

Semoga saja majelis hakim dapat bertindak adil berdasarkan amanat dari negara bahwa keputusan perkara atas kasus ini berdasarkan asas Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana harapan ibu. Amin.

Bu Prita, bersama blogger lain, dan insya Allah ada ratusan ribu blogger yang lain, kami akan tetap menyuarakan kebenaran dan keadilan. Karena kami yakin, dalam dunia maya di jaman kiwari, blogger akan menjadi kekuatan alternatif dalam membentuk opini publik dengan kekuatan yang sangat dahsyat! Insya Allah.

Terakhir, saya hanya bisa berpesan pada ibu… Tegar, dan tetap tersenyumlah Bu Prita… Karena hanya itu yang bisa kita lakukan untuk mensyukuri semua karunia dan dukungan yang telah ibu dapatkan selama ini.

Alhamdulillah, kelihatannya suami dan kedua anak ibu sehat adanya.

Saya pun sempat berimajinasi, seandainya anak ibu, ananda Muhammad Khairan Ananta Nugroho yang kini masih 3 tahun ini jadi hakim agung nanti, dan ananda Ranarya Puandita yang masih 1 tahun jadi pengacara hebat, insya Allah mereka akan berbuat benar-benar bersih, berwibawa dan sangat disegani sebagaimana almarhum Burhanudin Lopa dulu. Karena mereka akan mempertimbangkan berbagai segi dan hukum lain, termasuk undang-undang dasar secara keseluruhan. Racikan hati dan rasa keadilan akan menyatu dalam penegakan hukum di hati, ucapan dan tindakan mereka. Insya Allah.

Tapi maaf bu, itu hanya lamunan saja. Biarlah mereka tumbuh dan menjadi diri mereka sendiri…

Kini ibu tak perlu takut dengan dampak psikologis pada anak ibu, meski mereka sempat merasa asing dengan ibunya sendiri. Insya Allah, mereka akan cepat pulih, dan melupakannya. Dan kalau pun ibu merasa punya utang tak sempat mengajak ananta naik busway, sungguh saya siap membawanya keliling-keliling Jakarta bersama anak saya, Agia 7 tahun, yang juga sama belum pernah naik busway. Bila perlu, saya akan menjemput dan mengantarkannya kembali ke rumah ibu.

Alamat ibu masih di Jl. Kurcica III No. 3 Blok JG Bintaro Sektor IX Tangerang kan bu? Atau, ibu sekeluarga, bila berkenan datang aja ke rumah sederhana kami di Kota Baru Cianjur. Kami pun sama dikaruniai 2 anak, Agia 7 tahun dan Syafa 2,5 tahun. Syafa pasti akan senang bila bisa bermain bersama dengan Ranarya!

Salam dari kami buat Pak Nugroho, dan dekap erat buat Ananta & Ranarya. Semoga Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui semua isi hati, selalu memberkahi dan meridhoi perjuangan ibu sekeluarga. Amin ya Robbal Alamin.

Karawaci, 11 Juni 2009

Agung MSG

Satu Tanggapan

  1. amiin…
    Semoga Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui semua isi hati,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: