UN Ulang, UN Pengganti : Prihatin !

Tiap tahun, rasanya masalah pelanggaran ujian nasional itu koq selalu muncul? Mulai dari kasus pelanggaran karena kunci jawaban beredar melalui sms sebelum ujian, ada perbaikan di lembar jawaban, guru memberikan jawaban saat ujian, hingga soft copy naskah beredar sebelum ujian.

Lalu, muncullah istilah “ujian nasional ulang” atau “ujian nasional pengganti”. Lalu apa bedanya dengan “ujian nasional susulan” dan ujian paket A, B atau C? Sepertinya ada ketidakkonsistenan dalam kebijakan pendidikan sekarang ini.

Apakah UN Ulang dan UN Pengganti itu memiliki dasar hukumnya? Belum lagi UN Ulang dan UN Pengganti ini menyebabkan siswa yang mau mengikuti proses pendaftaran masuk perguruan tinggi jadi tertunda. Rasanya ini sebuah keputusan yang aneh..

Bahkan lebih aneh lagi, hanya gara-gara satu siswa membawa kunci jawaban palsu di Makassar, pihak sekolah memutuskan semua siswa harus melakukan UN Ulang. Dan lagi, tiga sekolah lainnya yang tidak terdapat kebocoran soal dan jawaban, maupun indikasi kecurangan lainnya, eh harus ikut UN Ulang juga. Sungguh, keputusan ini sangat disayangkan karena terpaksa harus dijalankan.

Selain itu, apakah UN itu jadi satu-satunya indicator kualitas kelulusan sekolah? Banyak sekali contoh, orang-orang sukses justru tidak terlampau ngoyo hanya memfokuskan pengembangan dirinya semata dari hasil bidang pendidikan formal saja. Pendidikan non formal dan pendidikan informal, jelas sangat besar pengaruhnya bagi level kesuksesan dan kebermaknaan mereka di tengah masyarakat.  

Pendidikan formal di sekolah, seolah kini  terlampau mendewakan pelajaran-pelajaran tertentu. Padahal tak jarang, setiap saya berbagai di berbagai sekolah SLTA dan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, tak sedikit anak-anak berprestasi tinggi tampil dengan rendah diri, kurang komunikatif, kuper dan kurang pandai bergaul. Lebih celaka lagi saat mereka lulus pun, mereka sangat minim memiliki keterampilan hidup yang memadai.

Semisal tidak pandai menyampaikan pendapat sendiri, kaku untuk menulis dan masih kekanak-kanakan.

Saatnya kebijakan pendidikan lebih diarahkan pada pendidikan yang humanistic, elegan, esensial, berketerampilan analitis, memiliki integrity dan dasar spiritual yang kuat, dan tidak semata hanya keterampilan menghafal copy-paste, dan mengerjakan soal-soal ujian dan mengejar IPK.

Hingar-bingar dan kekacauan UN Ulang dan UN Pengganti harus segera diselesaikan. Jangan sampai menimbulkan prasangka dan dosa, jangan-jangan semua ini hanya akal-akalan saja – sebuah trik praktis berorientasi jangka pendek – untuk mendongkrak jumlah kelulusan saja.

Prihatin, sangat prihatin…

Satu Tanggapan

  1. mudah-mudahan para siswa
    bisa mengerjakan soal-soal UN dengan
    hasil yang alami..
    amin…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: