Nak, Jajan Apa Saja Tadi di Sekolah?

Setiap kali lihat anak sekolah istirahat dan jajan, setiap kali itu pula saya merasa khawatir. Khawatir atas keamanan jajanan itu sendiri. Kalau lagi ingat, tak jarang saya bertanya pada anak saya : “Nak, jajan apa saja tadi di sekolah?”

Betapa tidak, melihat sejumlah pedagang yang mangkal diluar pagar sekolah, saya jadi risi dan khawatir membayangkan akibatnya. Sang pedagang yang menjual minuman warna-warni yang mencolok dan mengundang selera, dan itu mungkin pewarna buatan untuk bahan tekstil, tengah dikerubungi oleh anak-anak sekolah yang tak sabar mengantri ingin segera meminumnya. Aduh, itu kan bisa bikin kanker !

Es cendol, es serut, nugget, agar-agar, cingcau, gulali, gorengan, mie, aneka kue, martabak mini, bakso, lontong, siomay atau makanan dan minuman apa pun terlbih yang berwarna-warni, pasti akan diserbu anak-anak yang lapar saat istirahat.

Dalam sebuah sekolah, bahkan saya menemukan ada sudut tempat jajanan yang ditempatkan sangat berdekatan dengan deretan toilet/wc di sudut sekolah. Melihat lokasi dan layout-nya, tempat jajanan itu menjadi tempat ulang-alik keluar masuk anak sekolah yang mau masuk dan keluar dari toilet.

Belum lagi, anak-anak sekolah yang belum memiliki budaya cuci tangan sebelum memegang dan mengambil makanan. Padahal makanan basahnya sendiri yang dipajang di atas meja kecil, terbuka begitu saja, siap comot oleh siapa saja yang menginginkannya.

Lalat? Ah, itu sudah berputar-putar diatasnya..

Kalau sudah begini, siapa yang harus bertanggungjawab atas keamanan jajanan sekolah?

“Manajemen” pengamanan jajanan sekolah rasanya perlu lebih diperhatikan. Selama ini, masalah yang diangkat baru sampai ditemukannya ratusan jajanan sekolah yang berbahaya dan pembinaan terhadap pedagang yang menjual di lingkungan sekolah, plus penyuluhan kepada guru, kepala sekolah dan siswa-siswanya.

Langkah-langkah itu sudah bagus untuk meminimalisasi dampak negatif jajanan sekolah berbahaya kepada para siswa, namun semua itu belumlah cukup. Kita perlu mengambil langkah yang lebih baik, terpadu dan efektif.

Seperti, ada aturan sekolah yang berlaku bagi para pedagang makanan di lingkungan sekolah. Syukur-syukur, koperasi guru yang mengelola tempat jajanan itu. Untuk pedagang diluar lingkungan sekolah, seperti diluar pagar sekolah, harus ditertibkan oleh petugas pamong praja atau pendekatan lain yang sesuai budaya setempat.

Kemudian, ada pengawasan secara periodik dari POM atas kandungan dan zat yang ada dalam makanan dan minuman yang dijual di lingkungan sekolah. Mulai dari ketentuan ambang batas pengilmusi (bahan tambahan penguat rasa) pada minuman, bahan tambahan makanan, hingga larangan zat kimia berbahaya seperti boraks pada makanan.

Pengawasan ini juga harus dilengkapi dengan pemeriksaan cemaran bakteri pada makanan jajanan sekolah, usap tangan (hand swab) pada tangan, dan pemeriksaan usap dubur (rectal swab).

Budaya cuci tangan, aturan yang ketat dan penegakkan peraturan (sanksi) bagi pedagang dan pembinaannya, pengawasan periodik dari pemerintah, serta pengeloaan manajemen jajanan sekolah, rasanya sudah perlu dipikirkan lebih baik dan lebih matang.

Bila siswa-siswa sekolah ini adalah generasi muda harapan bangsa, lalu mengapa kita tidak lebih peduli dan beraksi nyata, antara lain dengan memperhatikan asupan, nilai gizi dan higinitas jajanan mereka.

Bukankah koperasi sekolah mampu mengatasi semua masalah ini, selain juga memberikan lapangan pekerjaan tanpa mengorbankan hak-hak anak untuk mendapat perlindungan kesehatan yang lebih baik ?

Satu Tanggapan

  1. sekarang kebanyakan produk makanan itu
    kurang menyehatkan,,,
    adakah produk yang benar-benar memberikan gizi baik,..???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: