Tetap Eksis Tanpa Perlu Narsis

Seorang Edumainers, Sabtu kemarin bertanya kepada saya mengenai ke-narsisme-an. Tanyanya, ”Mas, narsis itu apa sih? Apa itu semacam sifat ego yang ingin selalu berbangga diri gitu?”

”Ya, mirip seperti itulah narsis itu. Narsis itu semacam cari-cari perhatian untuk kepentingan diri sendiri, sering memuji diri sendiri, atau menjadikan diri sendiri sebagai pusat perhatian orang!”

“Berati itu orang kepedean dong?”

“Boleh dikatakan seperti itu”

Dan obrolan pun terus merambat kemana-mana. Mulai narsisnya temen-temennya yang selalu memperbaharui status facebook-nya setiap saat dengan dosis sehari 3X; narsisnya guru di sekolahnya yang selalu membanggakan anak-anak didiknya; narsisnya tetangga di kampungnya yang menjadi orang kaya baru yang selalu membanggakan kekayaan dan kepemilikan hartanya; hingga gejala narsisnya sahabat karibnya sendiri akhir-akhir ini.

Katanya, ”Mas, kenapa ya sekarang ini saya merasa makin banyak orang yang cenderung memiliki kepercayaan yang berlebih. Lebih menonjolkan ’kemasan’ daripada ’isi’” ?

”Entahlah, mas ngak tahu apa itu penyebabnya. Sepertinya penyebabnya bisa banyak dan kompleks. Bisa karena kurangnya perhatian dari orang tua dan dari orang-orang yang ia cintai; bisa karena dia kebanyakan dosis nonton infotainment; bisa karena budaya instant yang ingin cepat tenar, kaya dan banyak penggemarnya; bisa karena dia kurang kerjaan yang berarti dan produktif karena terlampau sibuk dengan jejaring sosial di dunia maya; bisa juga karena dia gaul ama anak-anak narsis atau anak-anak yang suka narsis. Semua itu berpengaruh pada level kenarsismean seseorang”

Dan obrolan pun terus menghangat. Beberapa contoh kenarsisan yang ada di lingkungan saya, juga di lingkungan kerja saya, juga saya sampaikan. Orang narsis, tidak hanya nyebelin, namun juga pada akhirnya bisa mengganggu dan kontra produktif.

Malah tidak sedikit, saya menemukan orang-orang kategori narsis di dunia kerja seringkali bermasalah dalam hubungan antar manusia dengan rekan sekerja dan koleganya, hanya karena ia kurang berempati atas masalah yang dihadapi dari kacamata orang lain.

Di akhir cerita, sebagai ”kakak” saya berpesan padanya.

  1. Milikilah rasa percaya diri yang berbasis nurani, tapi jangan berlebihan.
  2. Jangan sampai citra mendahului kenyataan. Seperti menunjukkan kualifikasi yang berlebihan namun tidak disertai dengan kemampuan sebenarnya yang teruji di lapangan dalam waktu yang cukup panjang.
  3. Perbanyak bersyukur daripada berbangga diri.
  4. Sibukkan dengan ”99 impian yang memberdayakan diri” dengan manajemen waktu yang ketat.
  5. Hiduplah dengan orang-orang yang percaya diri, produktif dan prestatif. Bukan dengan orang-orang yang senang hura-hura, kongkow-kongkow, mejeng dan aktivitas lain yang mengarah pada kesenangan semata. Jangan juga terlarut dengan terus menerus memoles citra, penampilan dan tampilan luar, tapi lupa isi, esensi dan kebermaknaan hidup ini.

Untuk tetap eksis, rasanya tak perlulah narsis…

3 Tanggapan

  1. alhamdulilah dapet ilmu baru dari mas agung….
    terimakasih mas agung…elly masih bisa baca tulisan2 mas agung lewat blogs…..
    ini merupakan kekuatan dan pondasi di tengah2 maraknya gemerlap anak2 muda jaman sekarang.naudzubilah….

    1 impian telah ely kejar bulan lalu….
    alhamdulilah…

  2. Syukur alhamdulillah, bila tulisan ini bermanfaat buat Elly, dan teruslah mewujukan impian yang bisa menjadikan diri kita kaya-hati, sukses & mulia !

  3. terimakasih ilmunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: