Cerita Pak Tua…

Sehabis pulang kerja semalam, sekitar pukul 19.45, saya makan di warung kecil padang di Harapan Kita. Pak Tua pemilik warung itu – seperti biasanya – mennyapa saya dengan ramah, menyambut saya dengan binar penuh antusias. Wajahnya sumringah, sorot matanya tajam mengunci mata saya, pakaiannya rapih bersih, senyumnya lepas, dan menjabat erat tangan saya. Terasa hangat, dekat, dan bersahaja.

Meski dia punya 2 asisten, namun setiap saya datang dia sendiri yang langsung melayani saya. Cepat-cepat dia mengambilkan piring dan menyerahkan ke asistennya mengisyaratkan agar saya cepat dilayani, sementara dia sendiri membersihkan dan merapihkan meja favorit panjang putih saya yang terletak paling belakang.

Satu asisten lainnya, membawa tempat cuti tangan, dan mendekatkan tusuk gigi dan tempat sendok-garpu lebih dekat kearah saya. Sehabis itu, Pak Tua duduk di meja lain disamping kanan saya sambil membaca surat kabar lokal sebagaimana biasa.

Saya pilih menu favorit : pepes ekor ikan mas, sayur kacang panjang berkuah kuning, teh tawar hangat, dan satu pisang untuk cuci mulut.

Baru saja dua suap saya menikmati citrarasanya, seperti tak sabar berbagi, Pak Tua membuka percakapan dengan saya. “Pak, kalau saja anggota dewan yang terhormat dengan mudah menggunakan kata ‘bangsat’, bagaimana dengan warga biasa seperti kita ya Pak?”

Karena perhatian saya terpecah karena ada sms yang masuk, saya tak tahu arah pembicaraanya mau kemana. Saya jawab sekenanya. “Waduh, apa pula itu pak… Saya tahu samar-samar berita itu, tapi tak banyak mengikuti benar soal ini”, kata saya menimpali.

Akhirnya Pak Tua itu menjelaskan panjang lebar, dengan penuh rasa kesal, greget, dan prihatin, campur aduk mengenai sepak terjang dan karakter pejabat bermasalah di negeri ini.

”Itu juga tuh mobil pejabat yang 1,3 milyar rupiah itu, sangat kontras ya dengan para pemimpin kita terdahulu. Ironislah bila disandingkan dengan nasi aking, banyaknya bayi bergizi buruk, ribuah sekolah yang miring mau ambruk, jaminan kesehatan yang tak menyehatkan kaum miskin. Lallu, kepekaannya ada dimana ya para petinggi kita itu? Bapak tahu juga kan ada anak kecil terlantar yang mengurus 3 adik kecilnya, sementara bapak-ibunya entah kemana?”.

Pak Tua itu terus cerita kemana-mana, dan saya mendengarkan keluh-kesahnya yang mengisahkan sepak terjang kemewahan pejabat di negeri ini. Setiap ketemu, setiap itu pula isu kecintaan negeri dan perjalanan bangsa ini berbeda-beda (ya seperti republik mimpilah kiranya).

Mulai dari inginnya anggota dewan minta kenaikan gaji dan uang saku, uang perpisahan kadeudeuh, illegal loging yang tak kunjung tuntas, TKI yang kurang mendapat perlindungan berarti, kriminalisasi pejabat KPK, cicak versus buaya, satgas pemberantasan mafia hukum yang dibentuk seolah untuk pencitraan saja, kebalnya mafia hukum, rekomendasi Tim 88 yang rasanya tak ditindaklanjuti semua, mantan-mantan menteri bermasalah yang hingga kini tak tersentuh hukum, koin Prita, reformasi birokrasi di Kejaksaan dan kepolisian yang serasa jalan di tempat, warga yang menusuk Bupatinya sendiri, mega skandal Century, usaha kecil menengah yang tak siap bersaing dengan produk China, pasifnya pemimpin negeri ini dalam memberantas koruptor, hingga isi buku Gurita Cikeas.

”Ah capek pokonya pak, ngikutin isu-isu di negara ini”, kata saya tanpa bermaksud mengurangi semangatnya ia bercerita

”Saya juga capek pak. Kita rasanya juga cape semuanya. Saya sih hanya merindukan adanya pemimpin-pemimpin cerdas yang bersahaja yang bisa diteladani. Bahkan saya bermimpi, jika negara ini dipimpin oleh Ali Sadikin, wakilnya (wapres) Bung Hatta, menko polkamnya Jendral A. Nasution, menteri pertahanannya M. Jusuf, menkeunya Marie Muhammad, kapolrinya Jendral Soegeng, mahkamah agungnya Bismar Siregar, dan jaksa agungnya Burhanuddin Lopa, pasti negeri ini maju, beradab dan disegani !”, katanya berapi-api.

”Ya pak, saya setuju itu”, jawab saya tegas. ”Cerita kita ini, masih akan terus berseri kan pak?. Insya Allah. Saya pamit pulang ya pak..”.

Sambil pulang menyebrangi deretan warung dibawah sutet di perempatan jalan yang becek berlupang-lubang, saya pulang dibayangi langit hitam pekat tak berbintang. Ucapan-ucapan Pak Tua yang terakhir itu terus mengiang.

Saya melihat keatas, dan berdoa. Ya Allah, terimakasih Engkau telah mempertemukanku dengan Pak Tua itu. Pak Tua itu – dengan seijin-Mu – telah mengingatkanku, bahwa aku ini juga seorang pemimpin kecil. Pemimpin untuk diri saya sendiri, untuk keluarga saya, juga untuk lingkungan kecil di mana saya menjemput rezeki-Mu sekarang ini, yang suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, akan dimintai pertanggungjawabannya di mahkamah-Mu kelak.

Ya Allah, kalau saya ini seorang pemimpin kecil di kantor saya, dan pemimpin rumah tangga atas anak dan istri saya, jadikanlah hamba ini seorang zahid yang zuhud. Seorang pemimpin yang bersahaja, amanah, adil, tawadlu, dan baik di mata-Mu. Juga seorang hamba yang yakin bahwa apa yang ada dalam genggamanmu lebih mulia dan bernilai dari yang diberikan dan dijanjikan manusia.

Ya Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Yang Maha Kaya, Yang Maha Mengetahui isi setiap hati, janganlah kenikmatan dan godaan dunia ini, jabatan dan kekuasaan kecilku ini, memalingkan kekhusu’anku untuk terus mengenal-Mu, dan beribadah hanya untuk-Mu ya Allah.

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dan hanya kepada-Mu aku akan kembali…

2 Tanggapan

  1. Membungkus persoalan sosial, merujuk pada “Cerita Pak Tua”, seperti melihat potret buram saja layaknya. Ada sisi yang menarik, ada pula sisi yang semisal kita abaikan; ia malah menyumbat di hati. Seperti cerita orang tua tadi, misalnya.
    Awalnya sekadar menemani pelanggan menyantap makanan kesukaannya, belakangan ia pun menumpahkan kegundahan hatinya setelah membaca berita aktual di koran lokal tadi. Mulutnya terus komat-kamit melepas cerita tentang berbagai perilaku pejabat yang sering dimuat di koran belakangan ini. Hingga akhirnya Pak Tua melahirkan susunan orang yang diperkirakan pantas kalau memimpin negeri ini. Ia hadir seperti membawa cermin datar yang berisi mimpinya semasa kecil; sebuah negeri yang gemah ripah, loh jinawi. Penuh sandang pangan, sumber alam Indonesia yang tak pernah habis dimakan jaman, dan atau, kesejahteraan yang terus meningkat. Tetapi, apabila faktanya ia tetap menjadi pedagang nasi sampai saat ini, itulah hidup yang harus ia lakoni sehari-hari. (winoto harkit)

  2. nice post…
    ceritanya ada maknanya juga..
    terimakasih..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: