Setumpuk Uang & Kepemilikan itu Sungguh Tak Berarti…

Tepat pada hari Rabu siang minggu lalu, saya beserta tim recovery memasuki reruntuhan gedung di sebuah plaza di  Padang. Tujuannya hanya satu : melihat kondisi terakhir gedung itu dari berbagai sisi. Mulai dari sisi konstuksi, kondisi merchandise, dan lingkungan sekitar.

Setelah pintu belakang dibuka, nampak jelas bangunan sudah masuk kategori gawat darurat. Udara di dalam gedung pengab karena basah, berjamur dan tak tersentuh udara segar. Beberapa name tag karyawan lengkap dengan fotonya, masih menggantung di dinding. Beberapa diantaranya terserak di lantai. Terlihat juga deretan foto Board of Director terpampang di majalah dinding karyawan tersenyum segar. Sangat kontras dengan kondisi gedung yang luluh lantak menunggu runtuh atau “diruntuhkan”.

Di beberapa titik meneteskan air entah dari mana bekas hujan semalam. Rangka besi patah, rangka baja melengkung, tiang konstruksi utama terpelintir, dan plafon berjatuhan. Sebagian plafon menggantung dan berjamur. Dinding tembok ukuran 21m x 7 m sudah miring, sementara lantai dua dan atap gedung sebagian jebol dan turun elevasinya.

Untuk berjalan kedalam yang gelap, basah dan menembus genangan air setinggi 6 cm, saya perlu senter. Beberapa kali safety shoes saya terpeleset,  saat menginjak gypsum berjamur yang licin.

Untuk masuk menjelajahi ruang dan mengambil foto, jelas harus ekstra hati-hati. Saya tak mau jatuh begitu saja, karena pecahan-pecahan kaca menganga siap menelan korban. Sementara itu, half mask respirator dan helm pengaman yang agak kikuk saya pakai, tidak membuat saya leluasa memasuki dan menjelajahi semua ruang.

Saat memasuki ruang brankas yang pintu ruangnya terbuka dan pintu branksasnya pun terbuka, saya sempat terpana. Sejumlah uang bertaburan di lantai dan sebagian tertumpuk di dalam brankas. Jumlahnya tidaklah sedikit. Namun semua itu seperti tak berharga, dan dibarkan mengonggok begitu saja cukup lama pasca gempa bumi 7,9 SR 30 September 2009 lalu.

Saya pun sempat kaget. Tiga sosok manusia tertumpuk didalam. Ternyata itu hanya tiga manequin – patung yang sangat mirip manusia. Manequin-manequin lain pun berjatuhan. Posisinya beragam, namun terkesan seperti layaknya korban manusia saja…

Saat berjalan terus kedalam, saya pun melihat ”sisa-sisa” kehidupan. Tas customer yang tertinggal, sandal yang tertinggal, ceceran darah dekat escalator karena ada customer yang luka saat berlari tanpa alas kaki saat gempa terjadi, dan sejumlah barang berharga seperti asesoris, jam tangan dan asset lainnya. Kotor berdebu tebal, bau, berantakan, nyaris seolah tak ada nilainya.

Di Padang, program akselerasi recovery memang hanya 3 hari, dari Rabu sampai Jumat. Mulai check gedung, mencari gudang temporer, hingga menyusun rencana recovery berikutnya. Namun hingga kini, satu momen yang tak dapat saya lupakan justru saat saya melihat kembali ”sisa-sisa kehidupan” pada setiap sudut ruang di dalam gedung.

Dua malam sempat saya agak sulit tidur. Memaknai ulang dari setiap kejadian yang harus saya maknai. Potret dalam gedung itu sungguh memberikan hikmah dan pelajaran berarti bagi saya. Betapa hidup ini tidaklah berarti apa-apa. Semua akan hancur, musnah, dan dilupakan jaman.

Kemewahan, kebanggaan kepemilikan dan usaha yang kita punya, sebuah nama, benar-benar bukanlah apa-apa. Hidup ini hanya akan berarti bila kita mampu mengubah keadaan diri kita dan keluarga kita sendiri, sesuai dengan fitrah-Nya. Dan segala amal kita diterima di sisi-Nya.

Saya kembali menata impian terluhur dalam kehidupan ini. Mulai dari amal baik, ilmu yang bermanfaat, bersedekah di jalan Allah, karya yang bermanfaat bagi kehidupan umat, dan apa saja yang bisa saya lakukan di sisa usia ini…  Dalam perenungan diri, saya pun terlelap dalam alam mimpi…

Kepada-Nya kita mengabdi, dan kepada-Nya kita kembali…

Pangeran Beach, 15 Januari 2009

Satu Tanggapan

  1. karena yang terpenting adalah iman,,,
    yang m uncul dalam hati kita,,
    karena setumpuk uang akan habis takkan abadi untuk selamanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: