Guru Inspiratif

Membaca artikel Bapak Rhenald Kasali di Kompas (29/08/07) mengenai Guru Inspiratif, saya jadi ingat beberapa guru ‘besar’ saya di SD, di SMP, di SLTA, dan di kampus Bandung dan kampus Jakarta. Dan senyatanya, guru inspiratif itu sungguh ruarbiasa, karenanya jumlahnya amat langka dan semakin langka.

Guru inspiratif adalah guru yang sesungguhnya, guru sejati. Ia hidup bersahaja, mencintai ilmunya, dan mencintai anak-anaknya sebagaimana ia mencintai anaknya sendiri.

Di kelas, guru inspiratif — mengacu pada kriteria Pak Rhenald Kasali — tidak patuh pada kurikulum saja, atau hanya mentrasfer semua isi buku dan memberikan tugas atau pekerjaan rumah, tapi lebih dari itu, ia mengajak murid-muridnya untuk berpikir kreatif (maximum thingking), serta mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya kedalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas.

Sementara bila ia diluar kelas, ia seperti bapak atau ibu sendiri yang penuh kasih dan sayang memperhatikan kita setulus hati. Kita bisa berbagi cerita, berbagi rasa, berbagi impian dan kebanggaan dengan guru inspirastif kita. Seolah tak ada jarak dan sekat dengan guru inspiratif. Malah hati kita terasa dekat, dan hangat bersama guru inspiratif yang kita cintai ini. Hingga, kita pun masih rela mengirimkan doa-doa kebaikan saat mereka telah tiada, karena inspirasinya selalu hidup di hati, di kepala dan di aksi kita.

Guru inspiratif selalu berusaha menghidupkan otak kanan dan otak tengah murid-muridnya. Menghubungkan hal-hal yang tak terhubung, menerima realitas hidup, berbagi pengetahuan hidup, kreatif mendulang kesempatan, dan peka pada kebenaran eksternal.

Jadi, kalau saja minggu kemarin saya berbagi informasi yang kurang sedap pada seorang guru mengenai salah satu siswa lulusannya, hanya karena menyangkut nama baik sekolahnya dan tanggungjawabnya sebagai pendidik dan pengajar, malah bereaksi “itu informasi yang salah, bagaimana kami bisa percaya?”, “buat apa outbound dan menangis kalau tak berbekas dan buang-buang uang karena berbiaya mahal”, namun lupa untuk berinstrospeksi secara sistem per 3 bulan sekali, bisa jadi guru ini adalah guru reaktif. Bukan guru inspiratif.

Menjadi guru inspiratif, butuh kedewasaan dan kematangan sikap, selain jam terbang. Guru inspiratif, tidak pernah reaktif, namun justru berterimakasih untuk mendapat masukan sepahit apa pun. Karena untuk menjadi guru inspiratif, butuh ilmu yang komprehensif, sikap yang konstruktif, dan wawasan yang selalu adaptif.

Dan menjadi guru inspiratif, akan selalu dirindukan sepanjang hayat oleh murid-muridnya di mana pun mereka kini berada.

Satu Tanggapan

  1. guru inspiratif akan selalu di idam-idamkan oleh murid-murid…

    sungguh kau seperti pahlawan tanpa tanda jasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: