Saya malu sekali, mas…

Suatu malam, seorang sahabat S-3 lulusan Jerman yang kini mengajar di perguruan tinggi negeri menepon kepada saya. Tapi ia bingung, galau dan malu, mau bercerita bagaimana dan mulainya dari mana. Tak biasanya ia menelepon saya malam-malam.  Oh, ada apa gerangan?

Semua pikiran terburuk satu per satu melesat keluar dengan sendirinya dan diduga-duga. Mulai dari anaknya yang kecelakaan, suaminya yang mungkin mendua atau korupsi, hingga bantuan meminta dana talangan.

Beberapa saat saya membujuk agar ia menenangkan diri beberapa saat, mengambil nafas, dan mulailah dari mana saja.

“OK, please… ceritakan saja apa adanya. Dari mana saja. Keluarkan apa yang ada di dada dan di kepalamu, dan percayalah saya sepenuhnya, saya bisa merangkai semua ceritamu seutuhnya. Mungkin ceritamu ini ada yang tertinggal, tak apa. Kamu bisa cerita sisanya besok, atau kapan pun kamu siap. Yang penting, kamu bisa berbagi rasa disini sekarang. Setidaknya, itu akan meringankan beban yang kamu rasakan.

Ah, tak mempan!

Ok, ini sebuah tantangan. Saya pindah haluan. Saya gunakan pendekatan kognitif, bahwa saya adalah social worker. Saya bisa memberi bantuan konseling dan support sebagaimana yang dibutuhkan.

“Saya adalah satu-satunya sahabatmu yang paling bisa diandalkan !”

Wow, ini pun tak mempan! Ia masih berkeluh kesah dengan kegalauannya yang memuncak. Ia bingung harus bercerita apa. Ia malu sekali, dan amat sangat malu. Dan tak habis pikir katanya, bahwa peristiwa itu bisa terjadi. “Bener mas, ini sangat memalukan!”

Akhirnya, saya yakinkan dia dengan tegas. “Dengar sahabatku, di pekerjaan sekarng ini, saya ini seorang professional. Saya terlatih cukup baik untuk mengatasi masalah-masalah krisis dengan memanfaatkan jejaring dan sumber daya yang ada. Kalau pun mau, saya bisa menerbangkan sahabat-sahabat saya dan sejumlah sahabat-sahabat kita malam ini untuk membantumu. Dan ini juga kesempatan saya untuk berperan sebagai seorang sahabat yang baik, beramal dan mencarikan solusi terbaik untukmu”.

Akhirnya, dengan suara sendu dan tertahan, ia pun bercerita…

“Ya, begini mas… Mahasiswi saya… hamil di toilet di asrama putri. Anaknya selamat, dan sudah dibawa ke rumah sakit. Kini, tolong carikan, apakah itu siswi dari sekolah kita? Saya malu sekali dengan kejadian ini. Sungguh mas, saya malu…!!”

Sebagai seorang ibu yang berbusana muslimah dan taat menjalankan ibadahnya, saya bisa memahami perasaanya. Dalam dirinya, menempel peran sebagai kakak-angkatan, sebagai dosen, sebagai pendidik, pengajar, dan juga sebagai ibu yang memiliki anak gadis yang berharap banyak bisa menshalehkan anak-anaknya.

Kejadian ini, bagi saya ini sebagai sebuah hikmah dan pembelajaran. Betapa sekolah kini terus mengejar penuh ambisi predikat Sekolah Bertaraf Internasional.

Indikatornya, adalah dengan mengadopsi dan mengadaptasi muatan pembelajaran dan system penilaian dari kurikulum negara maju (anggota OEDC atau anggota Innovation Internasional), memiki kerjasama dengan lembaga internasional, dan guru matematika dan guru sainsnya mampu menerapkan pembelajaran dalam bahasa inggris dan berbasis teknologi informasi dan kimunikasi.

Ambisi lain, adalah dengan menjalin LINK Internasional baik sebagai sister school maupun sebagai partner school, memiliki sarana perpustakaan digital, meraih sertifikat ISO, menerapkan system adminstrasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang bisa diakses, serta mendapat Akreditasi Internasional.

Sekolah berlomba-lomba untuk beralih dari sekolah mandiri, ke sekolah standar nasional dan kemudian mampu menyandang label sekolah berstandar internasional. Biayanya, jelas jauh lebih mahal dari sekolah “biasa”.

Saya tak banyak tahu dengan sekolah SBI itu. Saya juga tak tahu, apakah aspek pengasahan otak kanan dan otak tengah, EQ dan ESQ juga mendapat perhatian peningkatan kualitasnya? Apakah sikap, akhlak, dan pengembangan karakternya cukup mendapat perhatian dan secara konsisten diberikan pembekalan dan pembelajaran dalam sebuah program yang apik, sistematis dan berkelanjutan? Tidak saja diberikan sesaat sebelum mereka memasuki bangku SLTA, namun juta diberikan secara cukup dan memadai mulai dari kelas X, XI dan XII?

Saya tak tahu. Yang saya tahu, sahabatku itu masih menyisakan rasa penyesalan yang mendalam, dan malu…

Satu Tanggapan

  1. gak apa-apa kalau memang masih punya rasa penyesalan,,
    karena dari rasa itu dia akan bisa lebih baik lagi…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: