The Winner Takes It All

Gie, hari ini hari pertama kita tarawihan. Ayah senang, pukul 18.45 WIB, Agi udah menjemput Allah. Ya, menjemput Allah itu artinya kita sudah nungguin Allah di mesjid sebelum adzan berkumandang. Bukan dengan dipanggil adzan, dipanggil Allah, baru kita datang.

Oh ya Gie, fadilah shalat tarawih malam pertama itu menurut Rasulullah, itu seperti “seorang mu’min akan dikeluarkan dari dosanya, seperti ia dilahirkan dari perut ibunya”.

Ya, dengan bersemangat menghidupkan mesjid, berarti secara langsung juga kita sedang belajar berpikir positif. Dengan berpikir positif, dan memikirkan hanya yang baik-baik, berarti kita sedang mengundang dan menciptakan karya-karya yang positif juga.

Berpikir positif, itu masalah kebiasaan. Dan karena pikiran itu adalah doa, maka saat kita berpikir positif maka itu juga adalah do’a kita akan mudah terkabulkan. Insya Allah.

Sebaliknya, bila kita berpikir yang negatif, maka aura kita pun akan jadi negatif. Perasaan pun jadi negatif. Murung, sedih, pesimis, khawatif, cemas dan takut. Nah, kalau udah begini, bahasa tubuh jadi jelas terlihat negatif. Garis bibir menurun, mata sayu, pundak melipat kedepan, nafas pendek-pendek.

Sebaliknya bila berpikir positif, maka perasaan pun jadi positif. Bersyukur, riang, gembira, ceria, bahagia, atau antusias. Garis bibir terlihat naik, mata jadi bundar, pundak dan dada lebih terbuka, dan nafas panjang-panjang.

Lalu, mungkin Agi akan bertanya : dari mana kita memulai untuk bisa membiasakan berpikir positif? Ah, itu mah tidak sulit. Mulai saja dengan menerima keadaan dan kenyataan apa adanya dulu. Ya, membumi dulu istilahnya.

Sebagai contoh, ketika Agi punya masalah, ya tenangin aja dulu. Ambil nafas. Hitung mundur, dari 33, 32, 31… terus sampai nol. Ambil nafas lagi. Terima masalah Agi sebagai sebuah kenyataan, bahwa Agi sedang punya masalah. Terima, pasrah. Lengkapnya : akui, terima dan perbaiki dengan memikirkan : bagaimana solusinya, bagaimana cara menyelesaikan masalah itu?

Perbanyak bertanya ‘bagaimana’ daripada ‘mengapa’. Persis seperti pertanyaan di QS Al-Ghasyiyah [88]: 17-20 : “bagaimana unta diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan, dan bagaimana bumi dihamparkan”.

Menurut para ahli, dengan bertanya ‘bagaimana’ kita sebenarnya sedang mencipta dan berimajinasi “ke depan”. Dengan bertanya ‘bagaimana’, kita sedang mencari solusi, alternatif dan dampak yang diinginkan akan terjadi. Kontribusinya, pengaruhnya 90% kepada penyelesaian.

Sementara bila bertanya ‘mengapa’, maka kita sedang mencari penyebab, masa lalu, klarifikasi, mencari fakta yang pernah terjadi, dan kontribusi penyelesaiannya pun hanya 10%.

Jadi, bila ada masalah, bertanyalah : “bagaimana saya bisa menyelesaikannya dengan cara sederhana dan lebih memotivasi”, bukan dengan bertanya “mengapa ini bisa terjadi” ?

Lalu, kalau cara bertanya dengan mengedepankan ‘bagaimana’ masih mentok, tetaplah tenang. Gambarkan di Mind Mapping, ajak diskusi teman yang punya pengalaman menyelesaikan masalah yang sama, tanyakan kepada ahlinya, ambil dulu jeda waktu untuk istirahat dan mencari inspirasi, atau jika ada, ikuti seminar atau training yang membahas tema masalah yang kita punya, dan cara-cara lain sebatas langit imajinasi Agi untuk menyelesaikannya.

Jika semua cara diatas masih mentok juga, ah… bisa jadi ada 2 kemungkinan. Agi tidak sungguh-sungguh menyelesaikannya, atau cara yang Agi pilih tidaklah efektif. Celaka tentunya, bila sudah kita tidak sungguh-sungguh, kita pun tidak mengetahui cara efektif untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.

Ok, gini Gie… Kadang cara-cara bumi seringkali mentok juga pada akhirnya. Maka bila masih mentok semua cara-cara diatas, maka satu-satunya cara yang paling efektif adalah dengan cara-cara langit.

Ambil air wudlu, perbanyak sujud dengan shalat sunnah, aduin semua masalah kepada Allah. Dan yakinilah sepenuhnya, Allah Maha Mengetahui, Yang Maha Mengurusi, Yang Maha Berbuat Baik, Yang Maha Memberi Manfaat, akan memberikan solusinya terbaik dan ces pleng-Nya. Sebagaimana sifat-Nya Yang Maha Pandai dan Yang Memberi Petunjuk. Ya, kalau bukan ke Allah, kepada siapa lagi kita bergantung ?

Percaya dan yakini sepenuhnya ya Gie, Allah pasti memberikan jalan keluar terbaik untuk setiap masalah yang sedang Agi hadapi. Allah pasti menolong. Allah itu dekat, dan senantiasa siap menolong kapan pun kita mau. Atau, bisa juga kita merelakan masalah kita itu kita nikmati sambil berharap dosa-dosa kita dapat diampuni Allah sebesar masalah yang kita alami.

Kembali ke soal berpikir positif saat menghadapi masalah, coba jangan lihat masalahnya saja ya, tapi lihat alternatif-alternatif penyelesaiannya. Lihat peluang, harapan, pilihan dan kemungkinan positif yang mungkin bisa kita ubah.

Oh ya Gie, ada juga cara lain yang cukup memotivasi kita lebih baik. Yaitu, saat kita sedang berhadapan dengan masalah, anggap saja kita ini sedang kuliah di Universitas Kehidupan, Fakultas Peluang dan Kesempatan, Jurusan Solusi.

Dengan kata lain, daripada memikirkan masalah yang terus-menerus, mending mikirin bagaimana Kekuasaan, Kebesaran, Kemudahan dan Kebesaran Allah telah, sedang dan akan senantiasa memberikan yang terbaik buat kita, juga berpihak dan menolong kita kapan pun kita mau.

Tinggal sekarang mah, kita berkomitmen bahwa masalah yang sedang kita hadapi tetap harus dihadapi dan diselesaikan dengan penuh ksatria. Lalu, perbanyak taubat, mendekatkan lebih dekat kepada-Nya. Beribadah, berdoa, beramal, dan bertawaqal hanya kepada-Nya.

Ingat ya Gie, hanya Allah konsultan terbaik kita. Karenanya, libatkan Allah sejak awal kita beraktivitas, agar Allah senantiasa mengawal kita lekat-lekat. Antara lain dengan meningkatkan kepasrahan dan memperbanyak kepasrahan hanya pada-Nya. Jadilah pemenang : The Winner Take It All !

Nah, udah dulu ya Gie… Insya Allah, besok kita lanjutkan lagi dengan bahasan lain seputar berpikir konstruktif. Satu level lebih tinggi, daripada berpikir positif.

Penasaran kan? Ok, bagus itu. Sekarang, kita tidur dulu. Besok kan harus udah sahur. Cepat tidur, dan cepat bangun ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: