Bermain dengan Risiko dan Kegagalan

Tak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah.
Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS  at Taghaabun : 11)

Resiko itu selalu ada. Kekalahan itu biasa. Kesalahan itu manusiawi. Kerugian itu wajar. Ketakutan itu normal. Dan kegagalan itu hanyalah bagian dari proses sukses saja.

Hanya saja, seringkali kita tidak memiliki sikap terbaik bila kita dihadapkan pada apa yang dinamakan resiko, kekalahan, kesalahan, ketakutan, kerugian maupun kegagalan. Seringkali dengan cara pandang (mindset) yang berbeda, kita akan mendapatkan respon, aksi dan hasil yang berbeda pula.

Untuk itu, marilah kita membiasakan diri untuk menempatan resiko hingga kegagalan, dengan lebih bijak, lebih asertif dan lebih “enerjik”. Mari kita lihat satu persatu.

BILA MERASA TAKUT, PECUNDANG ATAU ORANG PESIMIS AKAN BERKATA,
“CARI AMAN. JANGAN AMBIL RESIKO”.
SEMENTARA ORANG YANG BERMENTAL JUARA, ORANG SUKSES
ATAU PEMENANG, BILA MERASA TAKUT, IA BERPRINSIP :
“PAKAI OTAK. DAN PELAJARI CARA MENANGANI RESIKO !”

1. Pada saat Pecundang menghindari resiko, atau terlalu takut pada resiko, Pemenang malah senang belajar untuk berani mengambil dan mengelola resiko.

2. Untuk maju, Pecundang kadang merasa perlu untuk bersikap sebagai penjudi. Sementara bagi Pemenang untuk maju, ia siap bersedia mengambil resiko yang telah diperhitungkan.

3. Pecundang cepat membuat keputusan yang beresiko besar. Sementara Pemenang, berani mengambil resiko yang sudah diperhitungkan dengan baik (matang).

4. Pecundang seringkali bertanya, “Apakah ada jaminannya, bahwa itu akan berhasil dan sukses?” Sementara Pemenang justru bertanya sebaliknya pada diri sendiri, “Apakah saya yakin sepenuhnya, bahwa itu akan berhasil baik ?”.

Rasulullah saw bila menghadapi suatu dilema (situasi yang sukar dan membingungkan), beliau shalat.
(HR Ahmad)

5. Pecundang membayar untuk menanggung resiko. Pemenang justru sebaliknya, ia justru dibayar untuk menanggung resiko.

6. Kesulitan bagi seorang Pecundang tetaplah kesulitan. Ia juga berarti kesusahan, sesuatu yang beresiko atau pun hal yang bisa mendatangkan masalah lain. Sementara bagi seorang Pemenang, kesulitan adalah masalah yang menantang, misteri yang menyembunyikan peluang, dan sungguh nikmat saat ia mampu menganggapnya sebagai sebuah petualangan.

7. Dengan masalah yang sama, sementara Pecundang berkata “Resiko terburuk saya jatuh miskin untuk selamanya”, Pemenang akan mengatakan hal yang berbeda ”Mungkin saja saya jadi bangkrut untuk sementara”.

PECUNDANG BELAJAR DARI KEKALAHAN. PEMENANG BELAJAR SETIAP SAAT,
BAIK SAAT MENANG MAUPUN PADA SAAT KALAH.

8. Pecundang bersikap “hidup-mati” pada kekalahan dan kemenangan. Pemenang lebih “apik”. Ia bersikap netral : tak ada pikiran-pikiran emosional, baik sedang menang maupun kalah. Baginya, ia harus selalu memecahkan rekor atas prestasi dirinya sendiri.

9. Pecundang berfokus diri untuk memenangkan “pertandingan”. Sementara Pemenang berfokus untuk selalu berpikir : membuat keputusan dan tindakan yang efektif !.

10. Pecundang juga seringkali berlaga arif. Katanya, “Kekalahan dan kegagalan itu biasa”. Padahal kalah dan gagal harus membuat orang lebih cerdik, semakin pandai & bertekad, “Ini hanya sebuah proses, aku tengah menuju sukses” !

PECUNDANG TERLALU TAKUT MELAKUKAN KESALAHAN, DAN GAGAL. PEMENANG JUSTRU TAKUT TIDAK PERNAH MENCOBA, TIDAK PERNAH BELAJAR DAN TERJUN MELAKUKAN PEMBELAJARAN !

11. Pecundang tak jarang tergoda, bahwa mundur ‘selangkah’ itu tabu. Padahal, dalam kondisi yang sama, Pemenang akan merasa “Mundur selangkah bukan berarti kalah”.

12. Tak sedikit orang kebanyakan merasa, bahwa kesalahan itu tabu. Sementara Pemenang akan berkata, “Berpikirlah konstuktif. Kesalahan itu proses pendewasaan emosional menuju sukses”.

13. Seringkali Pecundang menak-nakuti orang lain, dengan kata-kata yang kurang manusiawi dan agak sarkastik, “Jangan melakukan kesalahan, dan kebodohan”. Padahal, cukup katakan saja, “Just Do It !!!”

14. Bagi Pecundang, kekalahan juga itu aib. Padahal, semestinya kita mengatakan pada diri sendiri “Meski kalah, toh saya sudah melakukan yang terbaik – jauh lebih baik dari penampilan (prestasi) saya sebelumnya”.

Sistem sekolah kita menghukum anak-anak yang melakukan kesalahan.
Namun, bila anda melihat cara kita belajar, kita belajar dari kesalahan kita.
• Robert T. Kiyosaki

PECUNDANG SANGAT TAKUT RUGI.
PEMENANG, TIDAK SUKA RUGI, DAN TIDAK TAKUT RUGI !
( BEDA ‘KAN RASANYA ? )

15. Pecundang bermitos, “Resiko mengarah pada kerugian dan kekalahan”. Padahal bagi Pemenang, resiko itu justru akan memperkaya kepada kebijaksanaan dan penggalian iptek.

16. Bagi Pecundang untung diartikan kemenangan, dan rugi identik dengan kesalahan. Padahal menang atau kalah adalah “pengalaman berharga”, itu hanyalah bagian dari “permainan”.

17. Pecundang akan berhenti bila rugi. Prinsip Pemenang, beda : “Dengan kecerdasan, harus kuketahui kapan harus berhenti, dan bagaimana pula saran Pembimbingku ?”

18. “Kerugian itu memalukan”, kata Pecundang. Respon Pemenang tentu saja lain, ia tidak malu untuk mengatakan, “Kali ini, saya merasa rugi”.

“APAPUN ITU, KETAKUTAN ITU SELALU ADA, WAJAR DAN MANUSIAWI”. BENARKAH ITU DEMIKIAN ?
GIMANA KALAU DIBALIK PADA HAL YANG LEBIH POSITIF, “APAPUN ITU,
FAKTANYA BIASAKANLAH MELAKUKAN APA YANG KITA TAKUTI !”

19. Sepintas bijak dan arif, bila kita mendengar, “Hadapi tantangan dengan lebih berani dan lebih positif”. Padahal ini hanya permainan kata-kata. Sepertinya ada ketakutan yang dibalut dengan kata-kata indah. Gimana kalau kita lihat dari sisi lain yang lebih mencerahkan ? “Berlatihlah menyelesaikan masalah !” Problem adalah peluang tersembunyi.

Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar. (HR Ahmad dan Abu Dawud)

20. Pada saat Pecundang berwanti-wanti untuk jangan sekali-kali untuk menghindari kekecewaan, Pemenang malah menegaskan, “Hadapi saja dengan belajar menghadapi kekecewaan, atau bersiaplah untuk kecewa !”.

Barangsiapa dikaruniai Allah kenikmatan, hendaklah dia bertahmid (memuji)
kepada Allah, dan barangsiapa merasa diperlambat rezekinya hendaklah ia
beristighfar kepada Allah. Barangsiapa dilanda kesusahan dalam suatu masalah,
hendaklah mengucapkan, “Laa haula wa Quwwata illa billahi Al’aliyyil Al’adhim,”
(Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan
Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar)”.
(HR Baihaqi & Arrabii)

21. Ketika Pecundang menganggap, bahwa kekecewaan itu biasa…, Pemenang malah akan mengatakan bahwa, “Kekecewaan bagi saya membuat saya semakin pandai dan bertekad, “Dengan ijin Allah, akan saya buktikan !’”.

22. Pecundang bila mengalami kekecewaan, ia akan menganggap kekecewaan itu utang yang berdampak jangka panjang. Sementara bagi Pemenang, “Kekecewaan itu asset untuk amal dan media untuk melatih kesabaran, juga landasan sekaligus jadi alasanku untuk bertumbuh kembang !”.

Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebaikan, yaitu :
merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah
dan merahasiakan sodaqoh (yang kita berikan).
(HR Athabrani)

23. Kata Pecundang, ketakutan itu wajar dan manusiawi. Ah, apa lagi ini ? Senyatanya – dan ini diyakini Pemenang – justru rasa takut itu sendiri yang perlu ditakuti !

24. Karena takut, Pecundang mementingkan rasa aman dan kejelasan. Dengan masalah yang sama, bila Pemenang merasa takut ia akan lebih mementingkan kebebasan, kekuatan pilihan (kemampuan memilih) dan petualangan.

25. Bagi Pecundang, rasa aman dari ketakutan adalah yang utama. Padahal bagi Pemenang, kebebasan jelas memerdekakan jiwa.

26. Rasa takut seorang Pecundang akan mengalahkan atau memudarkan ambisinya. Sementara bagi seorang Pemenang, justru karena rasa takut itu ia akan mempertahankan nyala api tekadnya dalam hati.

27. Pecundang takut pada ancaman, sekaligus ia pun khawatir dengan kelemahan yang dimilikinya. Sementara Pemenang ia memfokuskan dirinya pada pemanfaatan kesempatan diatas kekuatannya.

28. Karena takut rugi, malu dan terhina, maka Pecundang mendisiplinkan diri. Sementara Pemenang, ia akan mendisiplinkan dirinya karena sadar ia harus melakukannya, terlepas ia menyukainya ataupun tidak menyukainya.

29. Pecundang suka melepaskan diri dari kesulitan. Untuk kasus yang sama, Pemenang berupaya maksimal untuk berpikir ulang !.

Barangsiapa memperbanyak istighfar,
maka Allah akan membebaskannya dari kedukaan
dan memberinya jalan keluar bagi kesempitannya,
dan memberinya dari arah yang tidak diduga-duganya.
(HR Abu Dawud)

30. Kata Pecundang, orang jadi miskin karena takut dan bodoh. Sementara, pendapat Pemenang, orang jadi miskin karena tidak berani dan tidak cerdik.

31. Pecundang akan mengatakan, kehidupan ini tidak ada yang pasti. Sementara Pemenang akan memaknai dengan cara yang lebih konstruktif, “Kita harus berani “memastikan” & memperjuangkan apa-apa yang pantas kita raih”.

Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala seuatu takut padanya.
Barangsiapa tidak takut kepada Allah,
maka Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu.
(HR Al Baihaqi)

BAGI PECUNDANG KEGAGALAN ADALAH KERUGIAN,
ATAU SUKSES YANG TERTUNDA.
INI KEBOHONGAN TERBESAR YANG SERING DISEBARLUASKAN
PADA ORANG KEBANYAKAN.
SENYATANYA, KEGAGALAN BAGIAN DARI PROSES MENUJU KEBERHASILAN.
TAK ADA KEGAGALAN. YANG ADA HANYALAH HASIL SEMENTARA.
DAN GAGAL ITU HANYA BERLAKU BAGI ORANG YANG TAK LAGI MENCOBA.
ATAU TIDAK ADA KEBERANIAN UNTUK MENCOBA !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: