Pagi ini, seorang sahabat saya mengeluh bahwa ia jenuh. “Ingin rasanya saya pergi ke negeri entah berantah, dan melupakan semua pekerjaan sekarang. Di kantor males, di rumah pun males..”.
Selidik punya selidik, itu mungkin karena kaki kanannya yang terkilir 3 minggu yang lalu, masih menyisakan rasa linu di kakinya. Biasanya, hampir dua hari sekali ia jalan pagi 60 menit bersama saya dengan rute yang selalu berbeda. Dan sekarang, sahabat saya terpaksa lebih banyak diam dirumah, melulur kakinya dengan semacam balsam penghangat, dan mengurangi aktivitas di luar rumah.
Tapi soal ketidakbahagiaan itu, rasanya gejalanya juga mulai saya rasakan. Saya pun introspeksi. Apakah ini karena dalam 2 minggu terakhir saya telah memindahkan televisi hitam-putih sepanjang 10 cm, dan banyak aktivitas membaca saya jadi berkurang porsinya karenanya? Saya kurang yakin
Tapi saya jadi teringat pada sebuah penelitian di AS sana yang menunjukkan bahwa orang yang hidupnya tak bahagia, menghabiskan sebagian waktu luangnya – hingga 25 jam per minggu – dengan menonton televisi. Sementara orang yang bahagia, menonton televisi sekitar 19 jam per minggu. Dalam penelitian ini, tingkat pendidikan, pendapatan, usia dan status perkawinan tidak mempengaruhi hasil penelitian ini.
Televisi memang menggoda. Seorang ahli pernah mengatakan, bahwa televisi bisa memberikan kesenangan jangka pendek, namun dalam jangka panjang bisa membuat orang depresi.
Bahkan awal September 2009, Jusuf Kalla (wapres saat itu) pernah menyampaikan keprihatinannya bahwa tayangan televisi lebih banyak didomininasi oleh hiburan dan humor, yang keduanya jauh dari syiar Islam. MUI sendiri hanya memberi penghargaan kepada MetroTV, TVRI dan TVOne yang telah menayangkan program bermuatan positif dan edukatif (Republika, 040909).
Jadi, kayaknya sekarang saya harus kembali mengurangi keasyikan menonton televisi. Dan lebih banyak dengan memperbesar pada aktivitas yang lebih baik, lebih produktif dan lebih bermakna, yaitu aktivitas-aktivitas yang memiliki manfaat jangka panjang. Mulai dari aktif kembali pada kegiatan sosial dan kedermawanan, memperbanyak aktivitas keagamaan, membaca buku, menulis, dan kembali berbagi di komunitas insan pembelajar di kampoug saya.
Kebahagiaan adalah sebuah pilihan.
Tapi, siapa ya yang bisa mengingatkan saya untuk bisa memilih hidup bahagia selain diri saya sendiri?
DIarsipkan di bawah: HAI Edumain | Leave a Comment »
