Leaderpreneurship in Action

1nspirAction  Training & Outdoor Activities dengan tema LEADERPRENEURSHIP IN ACTION untuk para pemimpin masa depan Smanda Cianjur, alhamdulillah sudah dilaksanakan full day mulai dari pukul 09.00 s/d 22.30 di Babakan Utami pada hari Sabtu, 6 Pebruari 2010.

Dan inilah testimoni & komentar para Edumainers Smanda :

  1. Rame. asyik, suppper, banyak ilmu. DAHSYATTT… SUBHANALLAH… ALLAHU AKBAR !!!. ***** Yunita, XI IPS
  2. Asik, mendidik, menyenangkan! Penyajian materi disampaikan dengan cara yang relevan dan tidak membosankan. Jangan berhenti sampai disini training-nya.***** RizkaSya’bana, XI A-3
  3. Subhannallah, luar biasa. Kini saya tahu bagaimana menjadi pemimpin yang sebenarnya. Ilmunya pun sangat luar biasa pula, dan saya bertekad untuk merubah diri saya.***** Lastri Mulyati, XI IPS 3
  4. “RUAR BIASA” TOP BGT. Ternyata jadi Pemimpin itu mudah dan susah. Tapi aku yakin mudah.***** Haris Munandar, XI-IA-3
  5. Acara pelatihan ini bagus, sangat memotivasi saya, meningkatkan rasa percaya diri saya, dan mengetahui tipikal pemimpin yang baik. Terus adakan acara ini seperti ini, karena pelatihan ini dapat menumbuhkan pemimpin baru. ***** Moch. Waris Laksana Agung, X-7
  6. Sangat, sangat dan sangat menyenangkan. SUBHANNALLAH. Tiada Tuhan selain Allah.. Alhamdulillah saya sangat mendapat arti diri dan hidup saya sesungguhnya untuk menjadi seorang yang dapat memimpin diri saya sendiri dan orang lain. ”Subhannallah Walhamdulillah Walaila Haillallah Huallah Huakbar”. ***** DedeAbdul Azis, XI IPA
  7. Menyenangkan, menantang, relevan, WooooooW…., cara penyampaiannya yang hebat, menyerap otak. Semua materinya bermanfaat !!!. Harapan saya : lagi dan lagi, jadikan Program Sekolah. Tekad saya : ZERO to HERO, melejitkan pribadi biasa menjadi Ruar biasa, Orang tua No 1, lebih baik lagi, percaya diri, mengatasi kekurangan,  juara, sukses, dan bisa jadi pemimpin.***** Nita Sri Yuanita, XI IA2
  8. Sangat mempengaruhi diri saya,  membuat diri saya tergugah dan membuat saya lebih termotivasi untuk berubah. Lanjutkan kegiatan ini, yang bermanfaat dalam kehidupan dan kepemimpinan kedepannya.***** Zaenudin, X-6
  9. Penyampaian yang baik, materi yang di kemas apik, membuat saya tertarik dengan pembelajaran seperti ini dan menggali potensi diri untuk menjadi seorang pemimpin. Ternyata kita sendiri dapat menciptakan berbagai kesempatan. Harapan saya, kegiatan ini berkelanjutan. I MISS YOU. Saya akan kangen acara ni lagi.***** Annisa Listianasari, XI IA-3

10. Menyadari hidup, lebih memaknai kepemimpinan, terutama memimpin diri sendiri. ***** M. Arifin Fajri, XI IS-2.

11. Menyenangkan, mendapatkan ilmu kepemimpinan yang begitu banyak, menantang sekali, dan ending yang menakjubkan.***** Tari Pinasti, XI IS-1

12. Subhannallah…. sangat bermakna sekali bagi saya. Meresap dalam hati, dan tidak sia-sia mengikuti kegiatan ini J. Kegiatan ini harus sering diadakan, karena sangat berpengaruh sekali bagi hidup khussnya bagi para remaja sekarang. Semangat & semangat, pengen lagi & lagi. ALLAHU AKBAR.***** Ardiana Sulaeman, X-3

13. Mengikuti pelatihan HAI-Edumain sangat luat biasa. Saya bisa memaknai apa yang telah dilakukan. Saya menjadi lebih tahu siapa saya. Very Fun. Banyak hal yang memotivasi diri saya. Saya mendapat banyak manfaat. Saya berharap, agar bisa dilajutkan dengan materi yang sudah di siapkan HAI-Edumain. Pelatihan seperti ini layak menjadi metode pendidikan di Indonesia. ***** Raffi Nurfauzi Suparman, XI IS-2.

14. Asyik, dapat pencerahan jiwa, hati dan akal, bisa belajar berdisiplin dan menanggung konsekuensinya. MANTAP.…. Harapan kedepan: bisa berlanjut lagi acaranya .***** Restiani Apri, XI IA-3

15. Subhanallah De Sadar… De harus berusaha mengubah hidup De, De harus bisa. Adakan terus acara yang hebat ini. De HARUS BISA menjadi khalifah, dan anak yang baik.***** Dea Dwirani, XI-IA2

16. Sungguh Luar Biasa. Saya cuma bisa ucapkan Allah Maha Besar, yang memberikan seorang perantara untuk bisa mengubah cara saya menjadi khalifah yang luar biasa. Kalau bisa terus adakan acara ini, supaya Generasi Islam khususnya mampu menjadi khalifah yang menjadi suri tauladan untuk yang lain.***** Solehudin, X5

17. LUAR BIASA. LANJUTKAN kegiatan ini 2 Minggu satu kali. ***** Atip Anjas, XI IS-2

18. Menambah Ilmu, dan saya merasa diri saya menjadi lebih disipilin. Acara seperti ini bagus sekali, dan mendidik.***** Nadiatul Wahidah, X-6

19. Ahamdulillah saya dapat ilmu yang belum tentu orang lain dapatkan. Semoga bisa di adakan lagi. ***** Diyanto, XI IA-3

20. Bisa mendapatkan makna kedisiplinan yang luar biasa.***** R. Rengga Rustaman, XI IPS 4

21. Menyenangkan, menegangkan, mengharukan, mengagumkan, dapat menemukan makna dari kegiatan ini, Have Fun. Inginnya acara ini berkelanjutan.***** Diana Susanti Nata Wegara, XI IA3

22. Menyenangkan, mengharukan, memotivasi, menjadi pedoman dalam menjalani hidup yang akan datang.***** M.Irsyadul Faizal, XI IS3

23. Subhanallah, Luar Biasa!. Lebih seringlah mengadakan kegiatan ini.***** Munira Nur Wasilah Muttaqin, XI IA-1

24. Amazing….Full of Knowledge. Give Spirit, make more confident, bisa jadi diri sendiri.***** Yulia Fadillah, XI IPA 2

25. Menarik, mendidik, dan bermakna. 180° pola pikir berubah drastis setelah melewati masa pencerahan LLKS ini. Saya harap terus dilanjutkan bahkan durasinya bisa di perpanjang.***** Gian Yoga, XI IPS-2

26. I love you today more than yesterday!. Insya Allah tak akan sia-sia ikutan kegiatan ini dan bermanfaat buat masa depan. Bisa jadi gila ngilangin stress + beban + pikiran acak adut!. Aku harus bisa menjadi orang yang lebih berguna lagi (dikagumi, dirindukan, & dibutuhkan). Apakah ada Universitas di Indonesia yang dapat memajukan warganya menjadi cerminan untuk negara lain? Aku ingin menjadi salah satunya!  ***** KARTIKA NUR OKTAVIANI, X-6

27. Menyenangkan! Gila… bener-bener gila… Sangat membangun kepercayaan diri. Acara ini perlu di adakan kepada semua siswa supaya mereka juga bisa berwawasan yang luas dan ingin menjadi seorang pemimpin yang baik.***** Neng Rohmat, X-4

28. Sangat mengesankan, di sini kita bisa menambah wawasan, mengetahui diri kita yang sebenarnya. Menyadarkan.***** Nevia Dwi Putri, XI IPA 1

29. Saya jadi tahu seperti apa saya sebenarnya!!!. Saya akan merubah diri saya menjadi pribadi yang baik dan sukses, pribadi yang kuat, tangguh.***** Febrian Vernanto, XI IA-1

30. Disini saya menemukan sebuah ilmu pengetahuan. Disini pula saya mendapatkan kenyamanan, kegembiraan tanpa beban. Disini pula saya dapat kan pula kesadaran.***** Icha Yunisa Rosmiyanti Dewi, XI IA-1

31. SUPER!  Aku ingin menjadi orang yang lebih berguna! Aku ingin di butuhkan, dikagumi, dirindukan dengan pengetahuan yang aku punya!. “IF I THINK I CAN, YES I CAN!” Aku ingin ikutan lagi! ***** Fajar Pitarsi Dharma, XI IPA-1

32. Menambah Ilmu Kepemimpinan, lebih sadar lagi akan kedisiplinan, lebih meningkatkan motivasi dalam menjalani hidup. LANJUTKAN. Pengen adain lagi acaranya seperti ini (pokoknya lanjutkan). ***** Arifin G, XI IPA-1.

33. Menyenangkan berkesesan bermakna dan juga melatih kedisiplinan.Pokoknya sangat bermakna dalam hidup saya. ***** Taufik Rizal, X-3

34. Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling luar biasa di banding semua kegiatan yang pernah aku ikuti.***** Achmad Maulana Yusuf, XI IS-2

35. Banyak pembelajaran yang dapat di ambil, menyentuh banyak hikmah, banyak yang saya ketahui, pokoknya mah senang dan pasti bergengsi.***** Jerry Yusuf, X-3

36. Banyak hal yang dapat dipelajari dari pelatihan ini. Materi paling bermanfaat adalah materi tentang disiplin diri karena melalui materi ini saya terpacu untuk lebih disiplin.***** Haryanti Br Siboro, XI IA-3.

37. Keren. Banyak manfaat yang bisa saya ambil, menjadi motivasi untuk tidak dapat gampang menyerah, Adain acara ini lagi 1 bulan sekali di sekolah.***** Fitria Munandar, XI IPA-1.

38. Kegiatan ini sangat mendidik sekali dan memberikan banyak manfaat. Diharapkan diadakan acara kelanjutannya.***** Handi Sunandi, XI IS-3.

39. Mengasyikan, seru, banyak pelajaran dan pengetahuan, banyak manfaat, tambah pengalaman. Tekad untuk diri sendiri : lebih berani dan disiplin, lebih berguna, menaklukan diri sendiri, menjadi “Insinyur” untuk diri sendiri, memanfaatkan waktu, dan dapat di banggakan.***** Maria Katherin Indrianty, XI IA-2.

40. Menambah wawasan, menambah motivasi untuk di masa yang akan datang, menjadi lebih berani untuk menjadi diri sendiri, Tekad saya membahagiakan orang tua, merubah diri dari hari ke hari untuk menjadi lebih baik, menjadikan semua apa yang saya lakukan jadi lebih baik.***** Nurlani, XI IS-4.

41. Dengan mengikuti kegiatan ini saya bisa menemukan jati diri, menambah disiplin dan menjadi seorang pemimpin yang berani mengambil resiko.***** Pirsan, XI IPS-4.

42. Seru. Bisa mengetahui banyak manfaat yang dihasilkan oleh alam, bisa memahami cara-cara menjadi pemimpin yang baik, bisa lebih solidaritas dengan teman, bisa lebih disiplin dalam kepemimpinan. Dan ingin lebih dan lebih lagi menyayangi Ibu dan kedua orang tua.***** Nor Kartika Sari, X-4.

43. Menyenangkan, menarik, memotivasi diri, menghibur, menyentuh hati.. “Yes I can, Yes tou Can!!!!”. Saya juara, saya juara, saya juara !!!. ***** Yusup F.H, XI IPA-1.

44. Menarik, menantang, sangat penting, HEBAT, TEGAS, LUCU, RAME.. Supaya ”SIAP” (Saya Ingin Allah Puas), insya Allah saya bisa menjadi seorang pemimpin”.***** Ahmad Rizal N, X-6.

45. Menyenangkan. Disini saya mendapatkan manfaat bagaimana manajemen berdasarkan air dan manajemen sawah. Belajar untuk disiplin waktu, belajar menjadi pemimpin yang baik.***** Saphira Dinar Pusparini, XI IS-3.

*****

Testimoni ini disarikan langsung dari saran dan masukan tertulis peserta Outdoor Activities HAI Edumain sebagaimana aslinya, tanpa mengurangi pesan inti yang ingin disampaikan.

Semoga bisa menginspirasi kita untuk dapat berhijrah dengan cara yang lebih baik, lebih efektif dan lebih bermakna untuk menjadi seorang PEMIMPIN MASA DEPAN dengan metoda pembelajaran Hati-Akal-Ilmu HAI Edumain.

Cianjur, 07 Pebruari 2010 23: 50 WIB

Salam,

Http://AgungMSG.wordpress.com

www.IndonesiaAman.com

Http://twitter.com/AgungMSG

Facebook : AgungMSG

AgungMSG@gmail.com

Tantangan Pemimpin Jaman Sekarang

Menjadi pemimpin di jaman kiwari, sungguh jauh lebih menantang dan kompleks – bila tidak mau dikatakan sulit – dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Itu jelas, masuk akal, dan bisa kita terima.

Menantang, karena beberapa hal :

  1. Kualitas kepimpinan sekarang tidaklah diukur dengan jumlah pengikut, produktivitas kerja, efisiensi, inovasi, publisitas, atau pun pengaruh. Tapi lebih jauh dari itu, adalah bagaimana ia menempatkan kualitas penggunaan waktu untuk meningkatkan nilai tambah bagi seluruh anggota tim dan organisasinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan waktu sebelumnya.
  2. Tantangan kedua seorang pemimpin adalah bagaimana menanamkan visinya kedalam setiap anggotanya sehingga setiap anggotanya mampu menerjemaahkan visi pemimpinnya sesuai tugas, tanggungjawab dan wewenangnya masing-masing.
  3. Bagaimana menyatukan gerak-langkah yang sama dengan memanfaatkan teknologi-informasi terkini sehingga setiap departemen atau bagian yang ada dalam organisasi bisa satu sama lain saling memacu dan memicu perbaikan demi perbaikan tiada henti.
  4. Bagaimana menciptakan sistem yang sederhana, mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh seluruh anggota tim, tanpa perlu mengorbankan kualitas, namun justru mampu meningkatkan semangat berkontribusi bagi seluruh anggota timnya.

Namun masalahnya sekarang, bisa jadi kita tidak tahu secara utuh kenapa semua itu bisa terjadi?

Hemat saya, sampai kapan pun kita akan selalu mendapatkan kesulitan yang besar bila pikiran kita hanya berfokus pada kenapa atau mengapa. Keutuhan masalah hanya bisa kita ketahui sebatas informasi, pengetahuan dan tujuan kita sendiri. Jauh lebih baik bila kita berfokus pada tujuan atau target yang akan kita capai : dengan cara sederhana seperti apa kita bisa mencapai tujuan kita lebih cepat?

Dan pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana kita mensikapi semua itu dengan baik, cerdas dan tepat?

Inilah 7 hal yang HAI Edumain sarankan :

  1. Biasakan diri kita untuk selalu mewarnai setiap aktivitas dengan nilai-nilai spiritual.
  2. Gunakan waktu sebagai alat terpenting untuk membangun dan memajukan organisasi.
  3. Miliki dan sosialisasikan visi dan misi dengan mamastikan semua anggota memahami esensi dari visi dan misi itu.
  4. Berbagilah informasi secara terbuka, dari setiap departemen satu sama lain dan berikan kewenangan agar informasi itu dapat diakses dengan cepat, mudah dan berlimpah.
  5. Pecah tujuan satu tahun, jadi 6 bulan, 3 bulan, tiap bulan, dan 5 kegiatan penting apa yang harus dilakukan setiap hari.
  6. Dapatkan model dari organisasi lain dan berbagai bentuk model program lain yang pernah hasilnya dikagumi, banyak dibutuhkan dan berkualitas tinggi.
  7. Jadikanlah diri sebagai contoh yang layak dicontoh dengan lebih banyak memberi dan melayani. Kita tidak bisa menuntut lebih banyak bila kita sendiri tidak bisa menjadi tauladan.

Rasanya itu saja sudah cukup menantang. Tinggal praktek sekarang !

Setumpuk Uang & Kepemilikan itu Sungguh Tak Berarti…

Tepat pada hari Rabu siang minggu lalu, saya beserta tim Crisis Management memasuki reruntuhan gedung di sebuah plaza di  Padang. Tujuannya hanya satu : melihat kondisi terakhir gedung itu dari berbagai sisi. Mulai dari sisi konstuksi, kondisi merchandise, dan lingkungan sekitar.

Setelah pintu belakang dibuka, nampak jelas bangunan sudah masuk kategori gawat darurat. Udara di dalam gedung pengab karena basah, berjamur dan tak tersentuh udara segar. Beberapa name tag karyawan lengkap dengan fotonya, masih menggantung di dinding. Beberapa diantaranya terserak di lantai. Terlihat juga deretan foto Board of Director terpampang di majalah dinding karyawan tersenyum segar. Sangat kontras dengan kondisi gedung yang luluh lantak menunggu runtuh atau “diruntuhkan”.

Di beberapa titik meneteskan air entah dari mana bekas hujan semalam. Rangka besi patah, rangka baja melengkung, tiang konstruksi utama terpelintir, dan plafon berjatuhan. Sebagian plafon menggantung dan berjamur. Dinding tembok ukuran 21m x 7 m sudah miring, sementara lantai dua dan atap gedung sebagian jebol dan turun elevasinya.

Untuk berjalan kedalam yang gelap, basah dan menembus genangan air setinggi 6 cm, saya perlu senter. Beberapa kali safety shoes saya terpeleset,  saat menginjak gypsum berjamur yang licin.

Untuk masuk menjelajahi ruang dan mengambil foto, jelas harus ekstra hati-hati. Saya tak mau jatuh begitu saja, karena pecahan-pecahan kaca menganga siap menelan korban. Sementara itu, half mask respirator dan helm pengaman yang agak kikuk saya pakai, tidak membuat saya leluasa memasuki dan menjelajahi semua ruang.

Saat memasuki ruang brankas yang pintu ruangnya terbuka dan pintu branksasnya pun terbuka, saya sempat terpana. Sejumlah uang bertaburan di lantai dan sebagian tertumpuk di dalam brankas. Jumlahnya tidaklah sedikit. Namun semua itu seperti tak berharga, dan dibarkan mengonggok begitu saja cukup lama pasca gempa bumi 7,9 SR 30 September 2009 lalu.

Saya pun sempat kaget. Tiga sosok manusia tertumpuk didalam. Ternyata itu hanya tiga manequin – patung yang sangat mirip manusia. Manequin-manequin lain pun berjatuhan. Posisinya beragam, namun terkesan seperti layaknya korban manusia saja…

Saat berjalan terus kedalam, saya pun melihat ”sisa-sisa” kehidupan. Tas customer yang tertinggal, sandal yang tertinggal, ceceran darah dekat escalator karena ada customer yang luka saat berlari tanpa alas kaki saat gempa terjadi, dan sejumlah barang berharga seperti asesoris, jam tangan dan asset lainnya. Kotor berdebu tebal, bau, berantakan, nyaris seolah tak ada nilainya.

Di Padang, program akselerasi recovery memang hanya 3 hari, dari Rabu sampai Jumat. Mulai check gedung, mencari gudang temporer, hingga menyusun rencana recovery berikutnya. Namun hingga kini, satu momen yang tak dapat saya lupakan justru saat saya melihat kembali ”sisa-sisa kehidupan” pada setiap sudut ruang di dalam gedung.

Dua malam sempat saya agak sulit tidur. Memaknai ulang dari setiap kejadian yang harus saya maknai. Potret dalam gedung itu sungguh memberikan hikmah dan pelajaran berarti bagi saya. Betapa hidup ini tidaklah berarti apa-apa. Semua akan hancur, musnah, dan dilupakan jaman.

Kemewahan, kebanggaan kepemilikan dan usaha yang kita punya, sebuah nama, benar-benar bukanlah apa-apa. Hidup ini hanya akan berarti bila kita mampu mengubah keadaan diri kita dan keluarga kita sendiri, sesuai dengan fitrah-Nya. Dan segala amal kita diterima di sisi-Nya.

Saya kembali menata impian terluhur dalam kehidupan ini. Mulai dari amal baik, ilmu yang bermanfaat, bersedekah di jalan Allah, karya yang bermanfaat bagi kehidupan umat, dan apa saja yang bisa saya lakukan di sisa usia ini…  Dalam perenungan diri, saya pun terlelap dalam alam mimpi…

Kepada-Nya kita mengabdi, dan kepada-Nya kita kembali…

Pangeran Beach, 15 Januari 2009

Cerita Pak Tua…

Sehabis pulang kerja semalam, sekitar pukul 19.45, saya makan di warung kecil padang di Harapan Kita. Pak Tua pemilik warung itu – seperti biasanya – mennyapa saya dengan ramah, menyambut saya dengan binar penuh antusias. Wajahnya sumringah, sorot matanya tajam mengunci mata saya, pakaiannya rapih bersih, senyumnya lepas, dan menjabat erat tangan saya. Terasa hangat, dekat, dan bersahaja.

Meski dia punya 2 asisten, namun setiap saya datang dia sendiri yang langsung melayani saya. Cepat-cepat dia mengambilkan piring dan menyerahkan ke asistennya mengisyaratkan agar saya cepat dilayani, sementara dia sendiri membersihkan dan merapihkan meja favorit panjang putih saya yang terletak paling belakang.

Satu asisten lainnya, membawa tempat cuti tangan, dan mendekatkan tusuk gigi dan tempat sendok-garpu lebih dekat kearah saya. Sehabis itu, Pak Tua duduk di meja lain disamping kanan saya sambil membaca surat kabar lokal sebagaimana biasa.

Saya pilih menu favorit : pepes ekor ikan mas, sayur kacang panjang berkuah kuning, teh tawar hangat, dan satu pisang untuk cuci mulut.

Baru saja dua suap saya menikmati citrarasanya, seperti tak sabar berbagi, Pak Tua membuka percakapan dengan saya. “Pak, kalau saja anggota dewan yang terhormat dengan mudah menggunakan kata ‘bangsat’, bagaimana dengan warga biasa seperti kita ya Pak?”

Karena perhatian saya terpecah karena ada sms yang masuk, saya tak tahu arah pembicaraanya mau kemana. Saya jawab sekenanya. “Waduh, apa pula itu pak… Saya tahu samar-samar berita itu, tapi tak banyak mengikuti benar soal ini”, kata saya menimpali.

Akhirnya Pak Tua itu menjelaskan panjang lebar, dengan penuh rasa kesal, greget, dan prihatin, campur aduk mengenai sepak terjang dan karakter pejabat bermasalah di negeri ini.

”Itu juga tuh mobil pejabat yang 1,3 milyar rupiah itu, sangat kontras ya dengan para pemimpin kita terdahulu. Ironislah bila disandingkan dengan nasi aking, banyaknya bayi bergizi buruk, ribuah sekolah yang miring mau ambruk, jaminan kesehatan yang tak menyehatkan kaum miskin. Lallu, kepekaannya ada dimana ya para petinggi kita itu? Bapak tahu juga kan ada anak kecil terlantar yang mengurus 3 adik kecilnya, sementara bapak-ibunya entah kemana?”.

Pak Tua itu terus cerita kemana-mana, dan saya mendengarkan keluh-kesahnya yang mengisahkan sepak terjang kemewahan pejabat di negeri ini. Setiap ketemu, setiap itu pula isu kecintaan negeri dan perjalanan bangsa ini berbeda-beda (ya seperti republik mimpilah kiranya).

Mulai dari inginnya anggota dewan minta kenaikan gaji dan uang saku, uang perpisahan kadeudeuh, illegal loging yang tak kunjung tuntas, TKI yang kurang mendapat perlindungan berarti, kriminalisasi pejabat KPK, cicak versus buaya, satgas pemberantasan mafia hukum yang dibentuk seolah untuk pencitraan saja, kebalnya mafia hukum, rekomendasi Tim 88 yang rasanya tak ditindaklanjuti semua, mantan-mantan menteri bermasalah yang hingga kini tak tersentuh hukum, koin Prita, reformasi birokrasi di Kejaksaan dan kepolisian yang serasa jalan di tempat, warga yang menusuk Bupatinya sendiri, mega skandal Century, usaha kecil menengah yang tak siap bersaing dengan produk China, pasifnya pemimpin negeri ini dalam memberantas koruptor, hingga isi buku Gurita Cikeas.

”Ah capek pokonya pak, ngikutin isu-isu di negara ini”, kata saya tanpa bermaksud mengurangi semangatnya ia bercerita

”Saya juga capek pak. Kita rasanya juga cape semuanya. Saya sih hanya merindukan adanya pemimpin-pemimpin cerdas yang bersahaja yang bisa diteladani. Bahkan saya bermimpi, jika negara ini dipimpin oleh Ali Sadikin, wakilnya (wapres) Bung Hatta, menko polkamnya Jendral A. Nasution, menteri pertahanannya M. Jusuf, menkeunya Marie Muhammad, kapolrinya Jendral Soegeng, mahkamah agungnya Bismar Siregar, dan jaksa agungnya Burhanuddin Lopa, pasti negeri ini maju, beradab dan disegani !”, katanya berapi-api.

”Ya pak, saya setuju itu”, jawab saya tegas. ”Cerita kita ini, masih akan terus berseri kan pak?. Insya Allah. Saya pamit pulang ya pak..”.

Sambil pulang menyebrangi deretan warung dibawah sutet di perempatan jalan yang becek berlupang-lubang, saya pulang dibayangi langit hitam pekat tak berbintang. Ucapan-ucapan Pak Tua yang terakhir itu terus mengiang.

Saya melihat keatas, dan berdoa. Ya Allah, terimakasih Engkau telah mempertemukanku dengan Pak Tua itu. Pak Tua itu – dengan seijin-Mu – telah mengingatkanku, bahwa aku ini juga seorang pemimpin kecil. Pemimpin untuk diri saya sendiri, untuk keluarga saya, juga untuk lingkungan kecil di mana saya menjemput rezeki-Mu sekarang ini, yang suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, akan dimintai pertanggungjawabannya di mahkamah-Mu kelak.

Ya Allah, kalau saya ini seorang pemimpin kecil di kantor saya, dan pemimpin rumah tangga atas anak dan istri saya, jadikanlah hamba ini seorang zahid yang zuhud. Seorang pemimpin yang bersahaja, amanah, adil, tawadlu, dan baik di mata-Mu. Juga seorang hamba yang yakin bahwa apa yang ada dalam genggamanmu lebih mulia dan bernilai dari yang diberikan dan dijanjikan manusia.

Ya Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Yang Maha Kaya, Yang Maha Mengetahui isi setiap hati, janganlah kenikmatan dan godaan dunia ini, jabatan dan kekuasaan kecilku ini, memalingkan kekhusu’anku untuk terus mengenal-Mu, dan beribadah hanya untuk-Mu ya Allah.

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dan hanya kepada-Mu aku akan kembali…

Ingin Bahagia, Kurangi Menonton Televisi!

Pagi ini, seorang sahabat saya mengeluh bahwa ia jenuh. “Ingin rasanya saya pergi ke negeri entah berantah, dan melupakan semua pekerjaan sekarang. Di kantor males, di rumah pun males..”.

Selidik punya selidik, itu mungkin karena kaki kanannya yang terkilir 3 minggu yang lalu, masih menyisakan rasa linu di kakinya. Biasanya, hampir dua hari sekali ia jalan pagi 60 menit bersama saya dengan rute yang selalu berbeda. Dan sekarang, sahabat saya terpaksa lebih banyak diam dirumah, melulur kakinya dengan semacam balsam penghangat, dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

Tapi soal ketidakbahagiaan itu, rasanya gejalanya juga mulai saya rasakan. Saya pun introspeksi. Apakah ini karena dalam 2 minggu terakhir saya telah memindahkan televisi hitam-putih sepanjang 10 cm, dan banyak aktivitas membaca saya jadi berkurang porsinya karenanya? Saya kurang yakin

Tapi saya jadi teringat pada sebuah penelitian di AS sana yang menunjukkan bahwa orang yang hidupnya tak bahagia, menghabiskan sebagian waktu luangnya – hingga 25 jam per minggu – dengan menonton televisi. Sementara orang yang bahagia, menonton televisi sekitar 19 jam per minggu. Dalam penelitian ini, tingkat pendidikan, pendapatan, usia dan status perkawinan tidak mempengaruhi hasil penelitian ini.

Televisi memang menggoda. Seorang ahli pernah mengatakan, bahwa televisi bisa memberikan kesenangan jangka pendek, namun dalam jangka panjang bisa membuat orang depresi.

Bahkan awal September 2009, Jusuf Kalla (wapres saat itu) pernah menyampaikan keprihatinannya bahwa tayangan televisi lebih banyak didomininasi oleh hiburan dan humor, yang keduanya jauh dari syiar Islam. MUI sendiri hanya memberi penghargaan kepada MetroTV, TVRI dan TVOne yang telah menayangkan program bermuatan positif dan edukatif (Republika, 040909).

Jadi, kayaknya sekarang saya harus kembali mengurangi keasyikan menonton televisi. Dan lebih banyak dengan memperbesar pada aktivitas yang lebih baik, lebih produktif dan lebih bermakna, yaitu aktivitas-aktivitas yang memiliki manfaat jangka panjang. Mulai dari aktif kembali pada kegiatan sosial dan kedermawanan, memperbanyak aktivitas keagamaan, membaca buku, menulis, dan kembali berbagi di komunitas insan pembelajar di kampoug saya.

Kebahagiaan adalah sebuah pilihan.

Tapi, siapa ya yang bisa mengingatkan saya untuk bisa memilih hidup bahagia selain diri saya sendiri?