Permen Karet

“Yah, Phapha punya pelmen kalet. Enak lho, Yah? Mau ngak”, kata anak bungsuku Shafa yang baru masuk TK. Belum juga aku menjawab, dia langsung berlari ke lemari kecilnya, tempat permer karet, wafer dan susu kecil yang biasa ia simpan dibawah dispenser.

“Yah, pelmennya enak… dan Ayah boleh bawa ke kantol. Ayah juga boleh makan disini. Ya, telselah Ayah aja..”, katanya sungguh-sungguh, penuh antusias.

Saya tersenyum, senang sekali dapat perhatian kecil dari anak gadis-kecil saya. Kecil bagi saya, tapi itu sangat berarti bagi anak saya. Merasa kasihan melihat permen karetnya satu-satunya lagi, saya pun bertanya padanya, “Ayah mau… Kalau ayah mau, buat Shafa nanti mana?”.

“Ngak apa Yah, kan Phapha udah.. Ini satu lagi, buat Ayah. Enak benel lho, Yah !”, katanya lagi meyakinkan. Seolah ia berbagi rasa dan kebahagiaan, bahwa permen karet yang pernah ia coba itu rasanya penuh sensasi dan tak terlupakan. Kebagiannya, adalah pada saat ia dapat memberi dan membahagiakan orang lain. Sebuah naluri fitriah dari setiap anak yang bersih hatinya.

Setengah berjongkok, saya dekati dia. “Coba Ayah lihat, seperti apa sih permen karetnya?”

“Ayah coba ya… Ntal kalo ayah coba, pelmennya mengecil. Lalu lasanya lama-kelamaan hilang. Udah gitu, ayah boleh buang ke sampah. Jangan ditelen ya, Yah !”

“Ok, ayah coba kalau gitu..”. Lalu saya pergi ke tempat kerja, sambil mengunyak permen karet itu. Enak juga. Bukan sekedar enak permen karetnya, namun ketulusan dan kesungguhannya dalam memberi itu yang memberi warna indah saya pagi itu menuju tempat kerja.

Ya, dalam perjalanan ke tempat kerja, terbayang kembali wajah cantik, polos dan kepintarannya. Saya jadi malu pada diri saya sendiri. Mungkin kita juga malu. Pada saat kita memiliki sesuatu dan ingin memberi, kadang kita hanya memberi sebagian. Atau, kadang juga kita pilih-pilih dalam memberi.

Padahal dalam memberi, berbagi atau bersedekah, kita seharusnya bersedekah dengan sedekah yang terbaik, dan konsisten.

Sungguh, saya malu dan belum konsisten dalam memberi, berbagi dan bersedekah untuk selalu bersedekah yang terbaik. Saya juga tak jarang lupa, bahwa pesan Nabiku Muhammad SAW, pernah mengingatkan : “Ingatlah Allah di saat senang, maka Allah akan mengingat kita di saat susah

Banyak Teman, Banyak Rezeki ?

Ada sejumlah teman yang temannya banyak dan seabreg. Kita pun mungkin kenal dengan orang atau sejumlah orang, yang punya teman dimana-mana. Biasanya, ia tipikal sanguine. Orang yang terbuka, optimis, dan “punya banyak cerita”.

Kadang saking banyak cerita, ia bisa mengomentari apa pun. Mulai dari lemahnya regenerasi kepemimpinan di negeri ini, hingga PSSI dan bahkan terganggunya reaktor PLTN Fukushima Daiichi karena terjangan tsunami.

Pernah suatu ketika, saat saya jalan bersama seorang teman yang temannya seabreg itu, sungguh ruar biasa kesannya. Kemana pun dia pergi, selalu saja ia menemui “fansnya”. Menyapanya dengan sangat antusias, menyalaminya, menanyakan kabar baik diri dan keluarganya, dan terus begitu berulang.

Tentu saja, saya yang berada di sampingnya terkena imbas aura persahabatannya. Saya pun dikenalkan, dan beberapa menit memperkenalkan diri saya kepada fans dari teman saya itu.

Karena terkagum, saya pun langsung memujinya betapa ia sangat mudah dan cair dalam berteman. Ruar biasa ini. Namun, temanku ini akhirnya mengeluh juga. Katanya, “Saya memang punya banyak teman, tapi hanya sedikit yang menghasilkan duit..”

Wow! Duit? “Jadi kamu itu berteman hanya untuk mencari prospek dan duit?”, tanya saya keheranan.

Cepat-cepat ia merevisi dengan tergagap-gagap. “Maksudku, saya ingin banyak teman, banyak rezeki. Banyak yang bisa saling bersinergi dan saling tukar informasi bisnis apa yang paling pas dikerjakan bersama?”.

So, jadi niatnya tetap sama: cari duit dengan memperbanyak teman. Hmm… bagi saya, pikiran teman saya ini tidaklah salah. Semua yang ia niatkan, akan kembali hasilnya kepada dirinya persis seperti yang ia niatkan. Lalu, dengan hati-hati saya pun mengomentarinya.

“Begini teman, coba sekarang kita geser dikit ya cara pandang kamu. Bukan banyak teman, lantas kamu banyak rezeki, tapi banyak teman yang mendapat manfaat dari kehadiranmu yang akan menjadikanmu banyak rezeki. Entah itu kamu jadi tempat curhat, tempat konsultasi, tempat meminjam koleksi dari hobimu, atau saran-saran profesional dari kompetensimu”

“Hmm… masuk akaaaal, bless !”, kata temanku sambil menepuk dahinya dengan tangan kanannya menirukan gaya TDW saat memberikan pelatihan. “OK, sekarang, ada ngak cara atau info yang bermanfaat bagi saya?”, katanya lagi.

Lantas, kuberikan info ini kepadanya : Banyak Teman yang Kau Kayakan, maka Kau akan Banyak Rezeki !

Aha, saya kira pendapat ini jauh lebih masuk akal bila sekedar dibandingkan dengan Banyak Teman, Banyak Rezeki.

Sahabatku, Tetaplah Menulis…!

Sahabatku,

Tetaplah menulis
Karena, menulis itu indah dan mengindahkan
Menulis itu bisa menceriakan
Menulis itu bisa menghangatkan hati
Menulis itu bisa menumbuhkan cinta
Menulis itu bisa mengabadikan kenangan indah
Menulis itu mencurahkan kerinduan
Menulis itu menggairahkan
Menulis itu meningkatkan vitalitas
Menulis itu hadiah terbaik untuk orang-orang yang kita cintai

Sahabatku
Percayalah bahwa menulis juga adalah berbagi
Menulis itu menuangkan
Menulis itu mengekspresikan
Menulis itu melepaskan beban pikiran dan perasaan
Menulis itu relaksasi diri
Menulis itu bertukar pengalaman dan pandangan
Menulis itu bisa menginspirasikan
Menulis itu juga mendorong tindakan
Menulis itu memajukan

Sahabatku,
Bila menulis itu bagimu aktualisasi diri
Yakinlah bahwa menulis itu menghaluskan perasaan
Menulis itu meneguhkan budi pekerti
Menulis itu terapi diri
Menulis itu pelajaran untuk diri

Sahabatku,
Mari kita jadikan menulis itu sebagai pengingat
Karena menulis itu bisa memenjarakan kesalahan
Menulis itu mengantisipasi
Menulis itu memberi pelajaran
Menulis itu mengunci serangan yang membahayakan
Menulis itu memberi pentunjuk dan arahan
Menulis itu menemukan kebenaran
Menulis itu bisa menghidupkan harapan
Menulis itu juga sebuah bentuk perjuangan
Menulis itu mengasah jiwa kepahlawanan
Menulis itu solusi kehidupan
Menulis itu telah meciptakan ilmuwan
Menulis itu memompa keunggulan
Menulis itu menyemangati agamawan
Menulis itu melahirkan negarawan dan bangsawan
Menulis itu mewariskan peradaban

Namun sahabatku,
Diatas semua alasan diatas
Mari kita jadikan menulis itu sebagai sebuah amanah
Menulis itu tanda bersyukur
Menulis itu memelihara anugrah Tuhan
Menulis itu ibadah
Selain menulis itu bisa menjemput rizki

Dan yang lebih penting, sahabatku
Bagiku, juga kuharap itu bagimu
Menulis itu untuk bercermin diri
Menulis itu untuk mengintrospeksi
Menulis itu untuk menyapa hati
Menulis itu untuk mengenal diri sendiri

Sahabatku,
Menulis itu mudah
Semudah kita belajar naik sepeda

*** Karawaci, 19 Jan 2011
Tulisan kecil ini diperuntukkan buat sahabatku
yang senantiasa berpikir dan berjiwa besar

7 Pelajaran Berharga dari TimNas Garuda

Piala AFF sudah selesai. Pesta rakyat ini pun usai sudah. Bagi kita, banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Hitung punya hitung, setidaknya kita bisa memetik 7 pelajaran berharga dari TimNas Garuda ini.

#1. TimNas Garuda sudah BERJUANG & MEMBERIKAN YANG TERBAIK bagi bangsa ini. Kalah dan menang itu biasa. Semangat TimNas ruar biasa. Ya, kita memang belum juara, namun kita sudah memiliki mental pemenang dengan permainan yang sportif. Tanpa tiang gawang yang gatal, atau sinar laser hijau yang mengganggu konsentrasi permainan.

#2. TimNas Garuda sudah mampu membangkitkan NASIONALISME kita. Ada rasa persatuan, dan kebanggaan dengan Indonesia dan lambang Garuda di dada kita.

#3. Bagi rakyat kecil, TimNas sudah mampu MENGHIBUR DAN MEMBERIKAN PELAJARAN akan pentingnya sebuah harapan, optimisme, strategi dan daya juang dalam mencapai sesuatu. Melupakan kepahitan hidup, keruwetan dan intrik politik yang tak henti-henti, membanjirnya berita pejabat-pejabat negara yang korup, dan juga melupakan sebentar kelemahan penegakkan hukum di negeri ini.

#4. Bagi rakyat kecil juga, event sepakbola ini telah membuka peluang untuk MENGAIS REZEKI DENGAN HALAL dari penjualan berbagai atribut Merah Putih, Indonesia, dan Garuda sebagai lambang negara kita. Disain dan kata-katanya kreatif, menarik dan menghipnotis calon pembeli dan penggila sepakbola-mania. Mereka tak saja berorientasi pada keuntungan semata, namun juga mereka dengan tulus mendukung dan mendoakan kembalinya kedigjayaan TimNas Garuda. Si pembeli pun suka dan bangga dengan transaksi yang sederhana. Tidak seperti penjual tiket palsu, atau ketidaksiapan panitia pelaksana penjual tiket yang sempat menimbulkan rasa kekecewaan, kekisruhan dan keributan.

#5. Penonton Indonesia bisa BERLAPANG DADA, TERTIB DAN SATU SAMA LAIN SALING MENGINGATKAN untuk tetap sportif dan tidak anarkis. Tidak seperti para penegak hukum yang saling menyalahkan dan cari alibi bila terpojok, namun juga tak jarang saling menutupi kesalahan-kolektif atas penyalahgunaan wewenang, dan sering berpatgulipat main-mata di bawah tangan. Tidak juga seperti para politisi kotor yang saling menjegal, berpikiran ruwet dan jangka pendek, mementingkan pribadi dan golongan, dan tak tahu malu karena masih terlihat menebar senyum saat ditangkap KPK !

#6. Meski TimNas Garuda belum menang, namun secara tulus rakyat Indonesia dan penggila sepakbola sangat menghargai jasa para ‘pahlawan lapangannya’. Kedepan, hampir dipastikan mereka pun MASIH BANGGA DAN MENDUKUNG TimNas Garuda. Penghargaan, kebanggaan dan dukungan yang ruar biasa ini, belum tentu dapat diberikan sepadan kepada para politisi dan para penegak hukum di negeri ini. Negarawan di negeri ini bisa dihitung dengan jari, dan jauh di lubuk hati kita, kita masih sangat merindukan tumbuhnya bangsawan-bangsawan besar di pelukan ibu pertiwi.

#7. Kini, kita pun kembali tersadarkan akan pentingnya SIKAP TERBAIK MENGHADAPI KESEHARIAN dan kehidupan diri dan keluarga kita kedepan. Kembali kepada kehidupan nyata dan menyempurnakan kualitas hidup kita di atas mimpi-mimpi kita. Hidup seutuhnya dengan jalanan macet, harga cabe yang melangit, sembako dan sekolah yang kian mahal, juga ‘siap’ tiada hari tanpa berita pejabat yang korup, politisi yang busuk, oknum penegak hukum yang kasak-kusuk, dan masih suburnya mafia peradilan.

Ah, sudahlah…. Indonesia tak akan berubah hanya dengan kata-kata dan wacana. Tapi kita tetap bangga dengan TimNas Garuda, dan keindonesiaan kita yang tetap terbang tinggi segagah Garuda kita.

Terimakasih TimNas, jayalah Garudaku. Aku mencintaimu. Merdeka, merdeka, merdeka !!

Kutuliskan “Kapmiu” di Pantai Bengkulu

Perlahan dan mendalam, kutuliskan “Kapmiu” di Pantai Panjang Bengkulu.

Dalam doaku, kuingin pesan dan kerinduanku ini, satu-per-satu, terbawa ke samudra keindahan. Tidak untuk siapa, bukan untuk siapa. Ini pesan, hanya untukmu saja. Satu kata, dan satu harap yang teramat sederhana. Ku ingin tulisanku ini berdesir di genggaman tangan kananmu, atau di keningmu yang berulang kali kucium di setiap kepergianku.

Lalu kuhitung waktu, dan kucari waktu : kapan kita merayakan kembali indahnya bulan-penuh di sabtu malam? Adakah bulan purnama di musim hujan?

Ah sudahlah… Kutunggui sendiri tulisanku itu di pantai panjang. Berjuta bulir pasir itu kini perlahan namun pasti terus menggulirkan pesanku. Berbaris apik dan berbaur dalam laut yang dalam. Kupinta pada sang ombak, janganlah ia anggap pesan itu sebuah angan-angan. Itu adalah sebuah keindahan, keteguhan, kelembutan, dan kuharap pesan itu pun adalah sebuah keabadian.

Tak lama, langit biru pun menguning berpendar cahaya yang menjauh bersama matahari. Tanpa kata, tanpa suara, kuelus riakan ombak itu dengan kedua tanganku, dan kubisikkan pada samudra biru : “Bawalah pesanku ini, seutuh mungkin, padanya! Juga, jangan katakan apa pun padanya selain kau jaga pesanku ini saja, karena ia kan mengerti apa yang kuinginkan. Karena ia adalah puisiku, dan kan slalu mengindahkan hatiku”.

Semoga pesanku dapat diterima olehnya. Karena kuyakin, pesanku yang terbalut antara rasa dan kenyataan, akan selalu lekat bagaikan bulan yang bersinar penuh dengan sejuta bintang…

* Pantai Panjang Bengkulu,
09 Des 10

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.